Komisi VI DPR : UCAPAN KEPALA NEGARA BUKAN IMPIAN

Komisi VI DPR : UCAPAN KEPALA NEGARA BUKAN IMPIAN

 

 

Jakarta, Angkatan Bersenjata

Ucapan Kepala Negara mengenai gambaran tahun 1989 tidak akan suram dan gelap, bukan suatu impian karena selama tahun 1988 bangsa Indonesia sudah membuktikan mampu mengatasi berbagai hambatan dan tantangan sehingga ketahanan nasional tetap mantap.

Ketua Komisi VI DPR, Ir. Soenarjo Hadade ketika menanggapi Pidato Akhir Tahun 1988 oleh Presiden Soeharto, Sabtu malam, lebih lanjut mengatakan bahwa kemantapan ketahanan nasional selama ini merupakan tolok ukur keberhasilan pembangunan nasional yang mencakup bidang ekonomi, ideologi, politik, sosial budaya dan hankarnnas.

Bidang ekonomi misalnya, meskipun harga minyak belum menggembirakan tetapi bangsa Indonesia berhasil meningkatkan pendapatan melalui sektor non-migas yang diharapkan dapat mencapai nilai lebih dari 10 milyar dolar AS tahun 1989.Pada tahun 1988 diharapkan mencapai 8,8 milyar dolar AS.

Di bidang politik, bangsa Indonesia berhasil menyelenggarakan Sidang Umum MPR secara lancar dan aman, bahkan dalam sidang tersebut demokrasi bangsa Indonesia semakin terlibat dengan munculnya dua calon Wakil Presiden.

“Demikian juga di bidang hankarnnas kita mampu mengatasi berbagai ancaman, tantangan dan gangguan sehingga stabilitas nasional bangsa Indonesia tidak tergoyahkan,”katanya.

“Jadi saya melihat apa yang diucapkan Kepala Negara dalam Pidato akhir tahunnya bahwa tahun 1989 tidak akan suram dan gelap bukan sebuah impian, karena memang tahun-tahun sebelumnya bangsa Indonesia sudah mampu menunjukkan ketahanannya mengatasi berbagai tantangan dan hambatan,” tambahnya.

Soenarjo Hadade juga mengatakan sependapat dengan ucapan Kepala Negara, bahwa bangsa Indonesia saat memasuki tahun 1989 hendaknya bertekad untuk terus bekerja sebaik-baiknya dengan rasa tanggung jawab sebesar-besamya.

Ketua Komisi VI DPR mengatakan untuk tahun 1989 sesuai Trilogi Pembangunan aspek pemerataan perlu mendapat perhatian lebih besar.

“Stabilitas nasional dan perturnbuhan ekonomi yang merupakan bagian dari Trilogi Pembangunan, sudah cukup baik dan terencana meskipun harus tetap dipertahankan dan ditingkatkan, tetapi aspek pemerataan masih memerlukan perhatian tersendiri,” katanya.

Pembangunan wilayah misalnya, hendaknya tidak bertumpu pada satu daerah saja tetapi lebih disebarluaskan ke semua daerah, sehingga penyebaran penduduk dan pemerataan usaha dapat lebih ditingkatkan.

“Sebagai contoh dalam peta lokasi industri saya lihat pembangunan sektor itu masih berat ke barat, padahal di timur potensi yang dapat digali cukup besar,” katanya.

 

 

Sumber : ANGKATAN BERSENJATA(02/01/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 14-15.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.