KOMENTAR2 DI DPR ATAS HASIL KUNJUNGAN PM PHAM VAN DONG KE INDONESIA

KOMENTAR2 DI DPR ATAS HASIL KUNJUNGAN PM PHAM VAN DONG KE INDONESIA

Pernyataan bersama antara Presiden Soeharto dan PM Republik Sosialis Vietnam Pham Van Dong yang dikeluarkan sebagai hasil kunjungan pemimpin Vietnam itu ke Indonesia dari 20 sampai 23 September, telah mendapat tanggapan dan komentar dari beberapa orang tokoh di DPR, hari Senin.

Ketua Komisi I (Hankam/Luar Negeri) DPR Chalid Mawardi menyatakan menyambut baik pemyataan kedua pemimpin seperti dikemukakan dalam pernyataan bersama tersebut.

Ia mengatakan, pengokohan hubungan persahabatan dan kerjasama antara kedua negara itu sesuai dengan kepentingan kedua rakyat dan ini dapat memberikan sumbangan untuk konsolidasikan perdamaian dan stabilitas di kawasan Asia Tenggara.

Ia mengatakan, sangat sesuai dengan Dasa Sila Bandung, kalau kedua pihak, seperti dikemukakan dalam pernyataan bersama itu, menyadari bahwa untuk mencapai perdamaian dan stabilitas yang sangat penting bagi pembangunan nasional negara2 di kawasan Asia Tenggara.

Juga sesuai dengan Dasa Sila Bandung jika kedua negara benar2 menghormati kemerdekaan, kedaulatan, keutuhan wilayah dan sistem politik masing2, menghindari penggunaan kekerasan dalam hubungan2 bilateral mereka, menghindari campur tangan dalam masalah2 dalam negeri masing2 dan menghindari kegiatan2 subversi secara langsung maupun tidak langsung terhadap masing2 negara.

Dalam hubungannya dengan konsep ASEAN menjadikan Asia Tenggara sebagai kawasan damai, bebas dan netral, kata Chalid Mawardi, terlihat adanya persamaan tujuan dengan pandangan Vietnam dan hanya terdapat perbedaan terminologi saja. Ini berarti Vietnam melepaskan keterikatannya terhadap Doktrin Breznev sehingga antara Vietnam dan ASEAN terlihat kemungkinan peningkatan pengertian satu sama lain.

Ia berpendapat, dari hasil kunjungan PM Pham Van Dong yang tercantum dalam pernyataan bersama itu, dapat dilihat penekanan perlunya ditingkatkan hubungan bilateral antara Indonesia dam Vietnam

Menjunjung Tinggi Dasa Sila Bandung

Anggota DPR dari Fraksi Karya Pembangunan (FKP) Sayuti Melik menyatakan, disamping masalah2 lain yang menyangkut hubungan bilateral Indonesia – Republik Sosialis Vietnam yang penting dilihat dari pemyataan bersama dari hasil kunjungan PM Phan Van Dong itu adalah bahwa Vietnam menjunjung tinggi dan menghayati Dasa Sila Bandung yang terkenal itu.

Dengan demikian kedua negara menekankan perlunya dihormati kemerdekaan, kedaulatan, keutuhan wilayah dan sistem politik masing2 negara dan menghindari campur tangan, dalam masalah2 dalam negeri masing2 dan kegiatan2 subversif.

"Kita selama ini menilai adanya kegiatan2 yang tidak menghayati Dasa Sila Bandung itu, sedang ajaran2 Ho Chi Minh seperti halnya Yugoslavia, selalu menjunjung tinggi dan mengutamakan kepentingan nasionalnya seperti halnya juga ajaran Tan Malaka, yang tidak menitik beratkan ideologi komunismenya dalam hubungan dengan luar negeri," katanya.

"Pernyataan bersama Presiden Soeharto dan PM Pham Van Dong itu kita sambut baik dan tentunya kita juga ingin melihat bagaimana realisasinya. Apa yang dikemukakan dalam pernyataan bersama itu kita anggap sebagai hal sudah sewajarnya dan tidak berlebih-lebihan", demikian Sayuti Melik.

Mengembalikan Suasana Persahabatan

Anggota Pimpinan Fraksi Persatuan Pembangunan (F – PP) yang duduk dalam Komisi I DPR H. M. Amin Iskandar menyatakan, dari pembicaraan2 yang dilakukan PM Pham Van Dong dengan Presiden Soeharto di Jakarta dan sikap selama kunjungannya disini didapat kepastian, kedua belah pihak berhasil mengembalikan suasana persahabatan antara kedua negara tetangga yang dekat ini.

"Saya melihat juga", katanya, "memang masih adabeberapa masalah yang belum mendapatkan persesuaian faham yang bulat, di antaranya masalah landas kontinen, masalah zona damai, bebas dan netral dan masalah Timor Timur.

"Akan tetapi perbedaan itu sekarang sudah sedemikian menipisnya sehingga setelah kunjungan PM Pham Van Dong itu lambat laun perbedaan itu akan hapus dan cenderung ke arahyang lebih positif," katanya.

"Bagaimanapun juga", ujar Amin Iskandar," Indonesia bersama ASEAN-nya serta Vietnam beserta negara2 Indocina lainnya merupakan dua kelompok yang sangat penting danmenentukan dalam mewujudkan kemakmuran rakyat di kawasan ini serta perdamaian yang bukan saja untuk kawasan Asia Tenggara ini, akan tetapi juga untuk seluruh dunia.

Khusus mengenai masalah tidak campur tangan terhadap urusan dalam negeri masing2 negara seperti tercantum juga dalam pemyataan bersama Presiden Soeharto – PM Pham Van Dong, Amin Iskandar mengatakan, hal ini mengandung harapan baik untuk masa depan berdasarkan keyakinan bahwa kedua pihak akan melaksanakannya dengan sungguh2.

"Ini bisa dijadikan contoh bagaimana ko-eksistensi secara damai dapat dilaksanakan untuk kepentingan bersama dan bukan untuk menguntungkan atau merugikan salah satu pihak antara kedua negara yang berlainan ideologi maupun struktur politiknya".

”Hal itu sesuai dengan salah satuprinsip Dasa Sila Bandung yang terkenal itu,"kata H.M. Amin Iskandar.

Terpanggil Bina Persahabatan

Anggota DPR yang juga menjabat Sekjen DPP PDI Sabam Sirait menyatakan,

"terlepas dari masalah ideologi, kita terpanggil membina persahabatan dengan Republik Sosialis Vietnam".

"Bagaimanapun", katanya, "kehadiran PM Pham Van Dong di Indonesia baru2 ini, dari segi gerakan diplomatik cukup mengesankan karena semula ia membatalkan niat kunjungannya itu ke sini, akan tetapi sesudah ada perjanjian antara Jepang dan RR Cina, dia buru2 meminta agar bisa diterima di Jakarta 20 September yang lalu".

”Walaupun di satu pihak saya menilai kunjungannya itu kurang murni, namun kita sangat menghargai bahwa Vietnam pada akhirnya melihat persahabatan dengan Indonesia sebagai negara tetangga dan ASEAN umumnya merupakan sesuatu hal yang mutlak”.

"Mungkin ia (Vietnam) menyadari", kata Sabam, "Rusia sahabatnya yang begitu jauh kadang2 dirasakan kurang manfaatnya dibandingkan dengan negara2 tetangganya yang terdekat".

Mengenai pernyataan bersama Presiden Soeharto dan PM Pham Van Dong, ia menilai sebagai hal yang wajar.

Khusus mengenai masalah Timor-Timur, ia mengatakan, ternyata belum bisa dimuat dalam pemyataan bersama itu dan begitu juga menjadi Asia Tenggara sebagai wilayah damai, bebas dan netral untuk Asia Tenggara yang sudah lama ditawarkan kepada Vietnam.

"Syukur kalau hal itu akhirnya dapat difahami dan diterima oleh Republik Sosialis Vietnam", demikian Sabam Sirait. (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (25/09/1978)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 722-725.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.