KOMENTAR2 ATAS SEMINAR ANGKATAN DARAT (2): SPIRIT PEMBINAAN ORDE BARU

KOMENTAR2 ATAS SEMINAR ANGKATAN DARAT (2): SPIRIT PEMBINAAN ORDE BARU [1]

Oleh Widya

Djakarta, Angkatan Bersendjata

SEMINAR telah mengupas kebobrokan Orde Lama, jang dirumuskan sebagai suatu periode pra Gestapu penuh dengan penjelewengan2 UUD 45 dan Kedaulatan Rakjat didominasi oleh PKI dan pengikut2nja, dan berpuntjak pada tugu penghianatan Lobang Buaja.

Berdasarkan hasil kupasan tsb. Seminar telah menjusun konsepsi Orde Baru, meliputi djiwa, bentuk, isi dan pembinaanja. Djiwanja tetap Pantjasila dengan tekanan pada sila Ketuhanan Jang Maha Esa. Bentuknja, tata politik dan tata ekonomi menurut UUD 45, jang mempunjai perintjian idiil dan operasionil dalam Ketetapan MPRS/IV/1966 dibawah leadership jang kuat dan pemerintah jang kuat tanpa kultus individu isinja, pembangunan semesta dengan tata fikir jang lebih realistis dan pragmatis, dengan mengutamakan kepentingan nasional, tanpa meninggalkan idealisme perdjuangan anti Kolonialisme dan anti imperialisme. Mengenai pembinaannja, ABRI/TNI AD mempunjai tanggung djawab atasnja dan menjediakan kekuatan fisiknja untuk melaksanakan tanggung djawab guna mensukseskan tugas tanggung djawab tsb. ada 7 persjaratan, mental dan teknis jang harus dipenuhi.

Demikian setjara singkat intisari konsepsi Orde Baru jg dihasilkan oleh Seminar. Mengenai pembinaannja ada suatu hal jang menurut anggapan saja perlu mendapat sorotan lebih landjut, jaitu hal spirit pembinaan Orde Baru. Hal ini saja kemukakan berhubung dengan suatu pertjakapan dengan seorang djenderal dokter peserta Seminar, jang mentjetuskan isi hati nuraninja sbb: “Apa jang sangat dibutuhkan sekarang ini ialah pemimpin2 dan kaders jang kalau perlu sanggup mengorbankan karier mereka”.

Untuk mendjelaskan apa jg saja maksud dengan spirit itu, baiklah kita sebentar melihat sedjarah Sebab sedjarah adalah guru kebidjaksanaan, kata seorang ahli sedjarah.

HERODOTUS dari Grik, 5 abad sebelum Kristus mentjeritakan bagaimana bangsa Persi membina pembangunan karakter dan negaranja, dengan memberikan ichtisar tentang sistem pendidikan “Dari umur tahun sampai 20 tahun anak2 dipeladjari 3 hal, dan tidak lain dari pada dan selalu 3 hal tsb: naik kuda, menembak, dan bitjara benar”.

Dengan membina disiplin dan kemahiran keperadjuritan dan kedjujuran bangsa Persi memelihara tjiri2nja sebagai “Herrenvolk”. Bangsa Persi tidak hanja terkenal sebagai pradjurit jang gagah berani, sadja, tetapi djuga sebagai administratif2 jang djudjur.

Selandjutnja perlu saja mensitir sedikit dari bukunja ARNOLD J.TOYNBEE, berdjudul A STUDY OF HISTORY, jang dipersingkat oleh D.C. Somervell, mengenai spirit pembangunan Djepang didjaman Meiji (1968 ­1912).

“Di masjarakat Timur kita djumpai di Djepang pengeran2 daerah, para daimyo frodal dengan algodjo2nja. jaitu para Samurai, jang selama abad sebelum hadirnja shogunat Tokugawa, mendjadikan penjiksaan hebat antar mereka sendiri dan bagi masjarakat.

Achirnja pada permulaan tingkatan baru dalam sedjarah Djepang (Pembangunan Meijik mereka itu mentjapai tingkat “merendahkan diri”, jang boleh dikatakan hampir sempurna ketika mereka menjerahkan hak2 mereka karena jakin, bahwa mereka harus mengorbankan segalanja itu untuk memberi semampunja kepada Djepang buat mempertahankan posisinja didunia jang didominasi oleh orang Barat, dimana Djepang tidak bisa hidup menjendiri sadja lebih lama lagi”.

Sekalian ahli sedjarah Toynbee. Memang benar kata Pak djenderal dokter jang saja singgung diatas. Untuk membina Orde Baru kita membutuhkan orang2 jang mempunjai “lef’ atau gengsi untuk menanggalkan uniformnja, kalau perlu. Keberanian kita perlukan. Keberanian, courage, seperti dirumuskan oleh Presiden JOHN F. KENNEDY didalam bukunja “Profiles in Courage” sbb:

“Courage to do what a man rightfully should do despite personal consequences”. Keberanian untuk berbuat sesuatu jang dianggapnja benar untuk ditindakkan dengan segala konsekwensi mengenai pribadi.

“Statesmen, who as crucial ties in our history risked their personal and public lives to do the one thing that seemed in it self right”. Negarawan “jang diwaktu” darurat jang menentukan didalam sedjarah kita, meriskir kehidupan mereka pribadi dan umum untuk berbuat sesuatu jg nampaknja benar dalam hakekatnja.

Keberanian dan pengorbanan sematjam itu adalah intisari dari pada sembojan kerja nenek mojang kita. “Sepi ‘ng pamrih, same ing gawe, ma maju haluning bawana”.

Dipandang dari sudut spirit pembinaan seperti jang diuraikan diatas, tjiri Orde Lama itu bisa kita rumuskan sebagai “oon vlu ht ult de werkelykhold”, kelarian dari kenjataan, untuk menggunakan istilahnja para dokter djiwa. Lari sebab para pemimpin Orde Lama tidak mampu untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan Ampera karena mereka memang tidak mempunjai spiritnja. Sistim sembojan jang muluk2 dan sistim pemberian hadiah kedudukan kursi jang empuk dan hadiah pangkat jang tinggi2 adalah termasuk gedjala2 dari tidak mampuan tadi. Mereka lari mentjari hiburan murah tapi mahal pada “Wein, Weib und Gesang”, anggur wanita dan njanjian. Dan keadaan ini digunakan sebaik2nja oleh PKI untuk menjiapkan “Coupnja”.

Orde Baru harus didjiwa oleh spirit pembinaan seperti jang diuraikan diatas. Pada perwira umumnja dan para djenderal sebagai senior chususnja, jang melopori dalam penguasaan spirit itu dan dalam penanamannja diseluruh lapisan masjarakat.

Dalam pengertian spirit pembinaan inilah kita menafsirkan persjaratan keempat dari keputusan Seminar bagi ABRI/TNI AD untuk mensukseskan tugas pokok Kabinet Ampera, jang bunjinja sbb: ABRl/TNI AD harus sadar akan kepentingan nasional dan harus rela menjampingkan kepentingan golongan. (DTS)

Sumber: ANGKATAN BERSENDJATA ( 6/09/1966 )

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku I (1965-1967), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 417-419.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.