Kolonel Soeharto

Kolonel Soeharto[1]

PROTES para perwira TT IV Diponegoro dibahas oleh Wakil KSAD Zulkifli Lubis dengan KSAD Nasution.

Menerima protes itu, sulit bagi Nasution untuk mempertahankan keputusannya yaitu menjadikan Kolonel Bambang Supeno sebagai Panglima TT IV Diponegoro. Tentu KSAD Nasution menyadari bahwa penolakan dari para perwira TT IV itu, berpotensi perpecahan di tubuh Angkatan Darat akan semakin meluas.

Akhirnya penetapan Letnan Kolonel Soeharto sebagai Panglima TT VIII Cendrawasih dibatalkan dan dibuat keputusan KSAD menetapkan Letnan Kolonel Soeharto menjadi Panglima TT IV Diponegoro dan dinaikkan pangkatnya menjadi Kolonel, pada 3 Juni 1956.

Andai saja tidak ada penolakan dari perwira-perwira TT IV Diponegoro atas penunjukan Kolonel Bambang Supeno menjadi panglima TT IV Diponegoro, dan Letnan Kolonel Soeharto menjadi Panglima TT VIII Cendrawasih, maka karier militer Soeharto benar-benar terhambat kalau bukan dikatakan “mangkrak”.

Dalam konteks ini, sulit untuk tidak berasumsi bahwa Nasution seakan-akan menghambat karier militer Soeharto dengan berkehendak menempatkannya sebagai Panglima di teritorium pinggiran (job letkol), bukan Panglima di pulau Jawa.

____________________________________________________________

[1]Noor Johan Nuh,  “Pak Harto dari Mayor ke Jenderal Besar”, Jakarta : Yayasan Kajian Citra Bangsa, hlm 47-48.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.