KITA HARUS DAPAT DENGARKAN LAIN PANDANGAN DAN PENDAPAT YANG BERBEDA

PRESIDEN PADA PERAYAAN ISRA MI’RAJ:

KITA HARUS DAPAT DENGARKAN LAIN PANDANGAN DAN PENDAPAT YANG BERBEDA [1]

 

Jakarta, Kompas

Presiden Soeharto mengingatkan ummat beragama, khususnya ummat Islam, agar tidak perlu takut terhadap teknologi. “Karena teknologi itu netral. Ia tidak baik dan ia tidak jelek. Yang menjadikan teknologi itu baik atau buruk adalah manusia sendiri”, demikian Kepala Negara pada acara peringatan Isra’ Mi ‘raj di lstana Negara, Sabtu malam. Ia menambahkan, karena itulah sangat penting bagi ummat beragama untuk mengarahkan agar teknologi itu digunakan untuk kepentingan dan kebahagiaan ummat manusia.

Presiden menyinggung soal teknologi itu dalam kaitannya dengan peluncuran satelit Palapa beberapa waktu yang lalu. Ia mengatakan, peluncuran itu memang merupakan salah satu segi saja dari kemajuan teknologi abad ke-20 ini. Tapi dibanding kebesaran Tuhan YME yang menciptakan segalanya, peluncuran Palapa dan segala macam peluncuran roket serta benda-benda ke angkasa itu sungguh sangat kecil artinya.

Ia menilai peluncuran satelit itu bukanlah sesuatu yang berlebih-lebihan atau sesuatu untuk dibangga-banggakan. Tapi merupakan suatu keperluan yang menuntut tindak-lanjut. Yakni bagaimana memanfaatkan sarana komunikasi mutakhir ini sebaik­baiknya untuk kemaslahatan (sesuatu yang baik) bangsa dan negara. Apalagi mengingat wujud dan sifat negara kepulauan yang memerlukan sistim komunikasi yang cepat dan efisien.

Dengan peluncuran itu berarti “jarak” makin diperdekat, baik antara tempat maupun kelompok masyarakat. Dan ini mendorong untuk meningkatkan kerukunan dan kesatuan sebagai bangsa. “Oleh karena itu, marilah kita saling mendekatkan diri antara yang satu dengan yang lain, antara suku yang satu dengan suku yang lain, antara kelompok ummat beragama yang satu dengan kelompok ummat beragama yang lain; sehingga terbinalah kesatuan kokoh dalam bangsa Indonesia yang satu. Bhineka Tunggal Ika!”, demikian seruan Presiden.

Persamaan Banyak

Berpangkal dari seruannya itu, Presiden mengingatkan hendaknya “kita harus menjadi bangsa yang besar jiwanya, yang dapat mendengarkan pandangan dan pendapat yang berbeda dari orang lain”. Ia menunjuk di bidang agama misalnya, perbedaan antara berbagai macam agama tentu saja ada dan akan tetap ada. “Tetapi, dan ini yang penting, disamping itu persamaannyapun banyak!”.

“Dalam hubungan ini”, demikian Presiden, “saya ingin mengajak para pimpinan dan ummat dari berbagai agama/kepercayaan terhadap Tuhan YME umumnya, untuk terus meningkatkan kerukunan serta menggarap bersama bermacam-macam masalah pembangunan, dan sekaligus meningkatkan penghayatan terhadap agama kita masing-masing”.

Kepala Negara juga minta agar lebih disadari, bahwa ajaran dan nilai-nilai agama serta kepercayaan yang dianut bangsa Indonesia adalah “kekayaan besar dalam perbendaharaan budaya bangsa kita”. Sehingga salahlah kalau orang berpendirian bahwa untuk memodernkan bangsa, harus dengan meninggalkan agama yang dipeluk bangsa itu. Dan meluasnya kegiatan pembangunan, agama dan kepercayaan bangsa kita harus makin dimasyarakatkan dalam kehidupan kita, baik dalam kehidupan orang-seorang maupun dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan kita”, demikian Presiden.

Khusus kepada para pemuka agama, untuk kesekian kalinya Presiden mengingatkan bahwa peranan mereka adalah penting. Sehingga adanya saling pengertian dan kerja sama antara para pemuka agama dengan para pejabat serta antara pemuka berbagai agama “mutlak ditingkatkan dan dimantabkan”. Sebab ketidak-serasian yang disebabkan saling curiga antara kedua soko guru masyarakat itu dan antara agama yang satu dengan lainnya, pasti akan berakibat buruk dan membahayakan masyarakat.

Pasti Dapat Diselesaikan

Presiden mengakui, perbedaan pendapat pasti ada. Tapi hal itu adalah wajar dan tidak harus berarti jelek. Dan perbedaan itupun pasti dapat diselesaikan dengan baik, dengan semangat kekeluargaan. Adalah kewajiban para alim-Ulama untuk memberikan nasehat dan peringatan kepada segenap warga masyarakat, tidak terkecuali para pejabat. Dan sebaliknya ada tugas para pejabat pemerintahan untuk membimbing, melayani dan melindungi segenap warganegara dalammenjalankan tugas masing-masing, termasuk para Ulama dan pemuka agama, demikian Kepala Negara.

Acara peringatan Isra Mi’raj tersebut dihadiri para pejabat tinggi negara, termasuk Wakil Presiden dan para menteri, korps diplomatik, pimpinan Majelis Ulama, pimpinan DPR serta ummat Islam. Dalam acara itu, Menteri Agama Prof Mukti Ali memberikan sambutan yang berkisar pada “ilmu dan agama”, sedang  hikmah Isra Mi’raj disampaikan oleh Dirjen Badan Tenaga Atom Nasional Prof A. Baiquni. (DTS)

Sumber: KOMPAS (26/07/1976)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 178-179.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.