KITA DIAJAK MENGHADAPI SITUASI DENGAN REALISTIK

KITA DIAJAK MENGHADAPI SITUASI DENGAN REALISTIK

 

 

Tatkala berbicara di depan pertemuan pimpinan redaksi dan pimpinan Persatuan Wartawan Indonesia di Jakarta pada hari Sabtu yang lalu, Prof. Widjojo Nitisastro memulainya dengan mengutip pidato Presiden Soeharto di depan sidang pleno Dewan Perwakilan Rakyat.

Pidato yang diucapkan oleh Kepala Negara pada tanggal 6 Januari 1987 itu berbunyi : “Dalam menghadapi keadaan yang sudah suram dan mengecewakan ini, kita tidak perlu terjebak oleh pancingan dan provokasi untuk bersikap pesimis, acuh tak acuh, negatif dan sinis. Sebaliknya, dari setiap kita diharapkan kesadarannya untuk berusaha secara aktif mengatasi kesulitan dan tantangan itu, sekali lagi dengan sikap yang realistik, penuh harapan dan setia kepada Pancasila”.

Ketika pada hari Senin berikutnya, Presiden menerima para peserta pertemuan besar masyarakat pers tersebut di Istana Negara. Kepala Negara kembali menyampaikan pesan yang sama. Agar dalam menghadapi situasi ekonomi sulit dewasa ini, kita bersikap realistik, penuh harapan dan penuh kesetiaan kepada Pancasila.

Dari penegasan-penegasan itu, dapatlah disimpulkan, bahwa yang dianggap sikap setepat-tepatnya untuk menghadapi dan mengalasi situasi ekonomi sulit dewasa ini ialah, sikap yang realistik dan sikap yang disertai harapan akan kesanggupan kita mengatasi kesulitan.

Bagaimanakah membangun dan menerapkan sikap realistik itu ? Secara negatif, jika dibandingkan dengan kata-kata dalam pidato Presiden sebelumnya, sikap realistik ialah, sikap yang tidak pesimis, tidak acuh tak acuh, tidak negatif dan tidak sinis.

Secara umum sikap realistik berada antara sikap-pesimis dan sikap optimis. Sikap realistik melihat persoalan dan realitas seperti apa adanya, tidak melebihkan, tetapi juga tidak menguranginya. Realitas yang dilihat seperti apa adanya, lantas diatasi dengan cara memecahkan permasalahan.

Masih sering kita peroleh kesan, situasi ekonomi sulit yang berulang kali digambarkan dan ditegaskan oleh Presiden, belumlah seluruhnya ditangkap dan dipahami oleh masyarakat dan oleh pihak-pihak yang seharusnya menangkap, menyadari dan memahaminya.

Padahal pemerintah telah tidak menutupinya, tidak pula mengalihkan perhatian dari kenyataan yang dihadapi. Pemerintah justru berulang kali memberitahu masyarakat dan semua pihak tentang keadaan yang sebenarnya.

Tujuan sikap terbuka itu ialah, agar masyarakat dan pihak-pihak yang bersangkutan tidak terkejut, dapat melihat kenyataan secara apa adanya, tidak perlu panik, tidak pula berlebihan optimis. Kita diajak menghadapi dan mengatasinya secara realistik.

Sifat kesulitan ekonorni yang kita hadapi berjangka menengah. Usaha mengatasi tidak akan seketika membawa hasil. Misalnya, menggerakkan ekspor komoditi lain di luar minyak dan gas bumi, pasti memerlukan waktu.

Pasar di luar negeri pun belum tentu akan menunjang, karena kecenderungan berproteksi di negara-negara industri seperti Eropa Barat. Jepang dan Amerika Serikat, amat kuat.

Sampai Februari harga minyak cukup lumayan, mencapai 17 dollar per barrel.

Mudah-mudahan harga itu akan bertahan, bisa naik sampai sekitar 20 dollar secara konstan.

Sebaliknya, sikap realistik membuat asumsi lain. Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 87/88 disusun atas asumsi harga minyak rata-rata 15 dollar per barrel. Perkiraan itu mempunyai pertimbangan yang realistik, tidak terlalu tinggi.

Pengalaman tahun 1986 bahkan mengajak kita lebih aman bersikap konservatif.

Sebab setiap kali terjadi lagi, kekompakan sikap dalam OPEC terganggu oleh kepentingan dan pertimbangan para anggota yang berbeda-beda.

Secara cermat, fluktuasi harga minyak diikuti secara cermat oleh pemerintah dan untuk itu, lobi dengan sesama anggota OPEC tentu dilakukan secara saksama dan bijaksana.

Kecuali mendorong ekspor, penerimaan dalam negeri ditingkatkan. Di antaranya melalui pelaksanaan sistem pajak baru. Hasilnya cukup memuaskan, dan dengan ketekunan serta sikap mendidik dan persuasi, hasil penerimaan pajak masih dapat ditingkatkan. Juga usaha meningkatkan penerimaan dalam negeri memerlukan waktu.

Diusahakan diversifikasi dalam bidang ekspor. Semakin dipaksa pula usaha-usaha ekspor berbagai produksi Indonesia, yang kecil-kecil tetapi bermacam-macam.

Untuk memberi perangsang kepada usaha itu, berbagai perubahan diselenggarakan, termasuk pembaharuan tata niaga. Yang masih cocok dengan perkembangan keadaan dan tuntutan keperluan dipertahankan, yang sudah tidak sesuai, diperbaharui.

Sikap realistik yang dianjurkan oleh pemerintah, tidaklah berhenti di situ. Sikap realistik itu disertai oleh tekad dan kehendak bersama untuk semakin memperbaiki keadaan dan di mana perlu, dengan langkah-langkah koreksi.

Pidato 6 Januari yang disampaikan oleh Presiden ketika mengantarkan Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Belanja 87/88 adalah pidato yang amat penting. Terkandung di dalamnya arahan dan garis pokok kebijakan yang akan ditempuh dan harus kita usahakan bersama.

Di antaranya, Presiden juga berkata: “Dalam pada itu, kita harus berani mengadakan penyesuaian-penyesuaian, perbaikan-perbaikan, pembaharuan­pembaharuan, dan apabila perlu, koreksi-koreksi dalam pola pikir, pola kerja dan pola hidup kita serta lembaga-lembaga kita di berbagai bidang. Semuanya ini harus kita lakukan agar kita dapat memberi jawaban yang setepat-­tepatnya terhadap tantangan yang kita hadapi untuk mencernakan secara positif dan kreatif, tantangan-tantangan di bidang ekonomi kita dewasa ini”.

Dua jalur sikap dan jalan yang dibentangkan oleh Presiden dalam menghadapi dan mengatasi situasi ekonomi sulit ialah, jalur realistis dan jalur penyesuaian pikiran, sikap dan tindak terhadap keadaan baru disertai kesediaan untuk mengoreksi, di mana perlu. (RA)

 

 

Jakarta, Kompas

Sumber : KOMPAS (11/02/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 54-57.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.