KISAH SUKSES SEBELUM KRISIS

KISAH SUKSES SEBELUM KRISIS[1]

 

Jakarta, Suara Karya

DALAM PIDATO pertanggungjawabannya, setebal 30 halaman, Presiden Soeharto menguraikan kisah sukses atau keberhasilan berbagai sektor selama Repelita VI. Setidaknya hingga pertengahan tahun 1997, sebelum badai krisis moneter datang pembangunan berbagai sektor berjalan mulus.

“Sejumlah sasaran Repelita VI tercapai, bahkan ada yang berhasil kita lampaui. Walaupun ada sasaran yang belum terwujud.” kata Presiden.

Itulah landasan yang diistilahkan Presiden sebagai kekuatan, pengalaman, dan semangat.

“Kita telah membangun prasarana maupun sumber daya manusia yang menjadi andalan kita untuk kembali tegak berdiri dan melanjutkan pembangunan.” ungkap Presiden.

Hingga tahun ketiga Repelita VI, perekonomian berkembang mantap sesuai skenario. Laju pertumbuhan ekonomi antara 1993-1996 berturut-turut 7,3 persen, 7,5 persen, 8,2 persen dan 8 persen. Tapi begitu paruh kedua dihantam badai moneter, pertumbuhan ekonomi 1997 hanya 4,7 persen (angka sementara). Sedangkan laju pertumbuhan penduduk ditekan hingga 1,54 persen tahun 1997, yang berarti mendekati sasaran Repelita VI sebesar 1,51 persen.

Dengan angka pertumbuhan ekonomi dan penduduk itu, pendapatan per kapita Indonesia meningkat. Dihitung dalam nilai rupiah, angka itu meningkat dari Rp.2,7 juta tahun 1996 menjadi Rp.3,1 juta tahun 1997. Itu berarti melampaui sasaran pendapatan per kapita dalam rupiah tahun ke 4 Repelita VI sebesar Rp.3 juta. Tapi kalau dihitung dalam dolar AS, pendapatan itu sebesar 1.089 dolar. Ini menurun dibanding pendapatan per kapita tahun 1996 sebesar 1.155 dolar AS.

Kepala Negara mengungkapkan pula pertumbuhan yang tinggi itu dibarengi dengan kestabilan inflasi, yang cukup terkendali selama 3 tahun Repelita VI (8, 6, 8, 9 dan 5,2 persen).

“Ini mendekati sasaran akhir Repelita VI sebesar 5 persen.” katanya menambahkan.

“Namun, begitu gejolak moneter datang harga-harga kebutuhan pokok merambat naik. Gejala ini mulai terasa September 1997, yang terlihat dari inflasi sebesar 1,3 persen. Laju Inflasi terus meningkat, dan Januari melonjak tajam sampai 6,9 persen. Hal ini membuat laju inflasi tahun tahun 1997 sebesar … persen sementara dalam 10 bulan pertama tahun anggaran 1997/98 telah mencapai 16 persen.” ujar Kepala Negara.

Dari sisi eksternal, menurut Presiden pertumbuhan ekspor sejak 1993/94 lebih lambat dari pertumbuhan impor, lambannya laju ekspor disebabkan oleh bertambah ketatnya, persaingan terutama produk industri padat karya yang mulai dihasilkan negara pengekspor baru. Di lain pihak kegiatan ekonomi yang terus berkembang telah mendorong laju pertumbuhan impor.

Itulah yang ahlinya membuat defisit transaksi berjalan terus membengkak. Kalau tahun 1993/94 masih 2,9 miliar dolar atau 2,1 persen dari PDB, tahun 1996/97 jadi 8,1 miliar dolar atau 3,5 persen dari PDB. Tapi depresiasi rupiah yang tajam mulai pertengahan 1997 membuat impor melamban. Pada saat yang sama, ekspor meningkat, terutama produk yang komponen impornya kecil. Tak heran kalau defisit transaksi berjalan membaik, menjadi 4,3 miliar dolar AS atau 2,2 persen dari PDB. Angka ini juga mendekati sasaran akhir Repelita VI sebesar 1,9 persen.

Utang LN

Presiden juga membeberkan stok utang yang meningkat tajam, terutama swasta. Ketika akhir Maret 1994 stok utang luar negeri (LN) masih 83,3 miliar dolar tapi pada akhir Desember 1997 menjadi 136,1 miliar dolar AS.

Tapi stok utang pemerintah turun dari 55 miliar dolar menjadi 54,1 miliar dolar. Itu berarti turun dari 66,1 persen menjadi 39,8 persen dari total utang luar negeri Indonesia. Sebaliknya, utang swasta membengkak dari 28,3 menjadi 82 miliar dolar atau naik dari 33,9 persen menjadi 60,2 persen dari keseluruhan utang LN. Ini yang membuat DSR (debt service ratio) swasta naik dari 12,8 persen (1993/94) menjadi 27,4 persen tahun 1997/98. Sedangkan DSR pemerintah menurun dari 19,1 menjadi 11,8 persen. Tapi total DSR pemerintah plus swasta meningkat dari 31,9 persen menjadi 39,2 persen.

“Dari angka itu, maka sukar mencapai sasaran DSR keseluruhan sebesar 24 persen pada akhir Repelita VI.” kata Presiden Soeharto.

Kendati beban, pengembalian utang itu begitu berat, kata Presiden, pemerintah memiliki dana dan devisa yang cukup untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya. Dalam konteks itu, Presiden kembali menegaskan bahwa pemerintah akan tetap memenuhi seluruh kewajiban pembayaran kembali pokok dan bunga utang luar negerinya secara tepat waktu.

“Kita memang sedang mengalami kesulitan ekonomi yang berat. Tapi, kita percaya bahwa dengan bekerja keras dan melaksanakan program-program yang telah kita susun, kita pasti berhasil mengatasi kesulitan itu.” ungkap Presiden.

Kesejahteraan

Meski berbagai indikator makro yang diuraikan di atas penting untuk mengetahui kemajuan dan kemunduran perekonomian. Presiden Soeharto menekankan bahwa yang tak kalah penting adalah mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat.

“Ini bertambah baik atau malah merosot.” katanya.

Salah satu parameter kesejahteraan adalah jumlah penduduk miskin. Sejak awal Repelita VI pemerintah mengintrodusir program penanggulangan kemiskinan seperti Inpres Desa Tertinggal (IDT). Presiden menilai hasilnya cukup menggembirakan. Pada tahun 1996 jumlah penduduk miskin telah turun menjadi 22,5 juta orang atau sekitar 11,3 persen.

“Ini berarti selama 3 tahun telah terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebanyak 3,4 juta orang, atau turun 2,3 persen.” katanya.

Program penanggulangan kemiskinan diperluas dengan Takesra dan Kukesra, yang menghimpun dana dari masyarakat yang lebih mampu. Dalam tempo 1,5 tahun hampir seluruh 10,7 juta keluarga prasejahtera dan sejahtera I telah berhasil didorong untuk menabung. Sementara 10,5 juta sudah memperoleh kredit (Kukesra).

Sementara, pengembangan usaha bagi kelompok penduduk miskin kian terdorong melalui Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS). Desa tertinggal yang terisolasi juga mulai terbuka dengan adanya program pembangunan prasarana desa.

Erat kaitannya dengan upaya peningkatan kesejahteraan adalah penciptaan lapangan kerja. Angkatan kerja naik dari 81 juta (1993) menjadi 88,2 juta pada tahun 1996. Pada saat bersamaan, jumlah pekerja meningkat dari 77 juta menjadi 83,9 juta orang.

“Yang sangat membesarkan hati kita adalah meningkatnya kemampuan pekerja, yang berpengaruh pula pada meningkatnya produktivitas.” kata Presiden.

Sementara kesejahteraan pekerja diupayakan melalui UMR, yang tahun 1997 ini mencapai 95,3 persen dari kebutuhan fisik minimum.

Kesehatan masyarakat juga bertambah baik. Angka kematian bayi turun dari 58 per 1.000 kelahiran pada 1993 menjadi 52 tahun 1997. Angka ini mendekati sasaran akhir Repelita VI, sebesar 50 per seribu kelahiran hidup. Angka kematian ibu melahirkan juga turun dari 425 menjadi 390 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan angka harapan hidup naik dari 62,7 tahun menjadi 64,2 tahun.

“Ringkasnya, kesejahteraan rakyat secara keseluruhan telah bertambah baik.” tegas presiden.

Ini terwujud berkat kemajuan berbagai bidang ekonomi. Selama Repelita VI telah berkembang industri yang menghasilkan barang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan kehidupan rakyat, industri berorientasi ekspor, industri yang menggunakan sumber daya nasional, industri yang memiliki nilai strategis serta berdampak pada pengembangan industri lain, serta industri yang dapat mengembangkan kegiatan ekonomi di daerah luar Jawa.

Berdasarkan harga konstan tahun 1993, industri pengolahan selama 4 tahun Repelita VI tumbuh rata-rata 10,3 persen dan industri pengolahan nonmigas 11,4 persen per tahun. Itu, kata Presiden Soeharto, berarti melampaui sasaran pertumbuhan rata­rata per tahun yang dipatok Repelita VI, masing-masing 10,2 persen dan 11,3 persen.

“Proses industrialisasi itu telah menghasilkan perubahan struktur ekonomi nasional, dari titik berat pertanian ke industri.” lanjutnya.

Kalau tahun 1993 peran sektor industri dalam PDB 22,5 persen, tahun 1996 meningkat jadi 25,5 persen. Ini pun, kata presiden, telah mendekati sasaran yang ditetapkan dalam Repelita VI, yakni 25,9 persen.

“Hingga 1996, sektor industri telah menyerap 2,3 juta tenaga kerja.” ujarnya.

Sementara ekspor hasil industri pengolahan nonmigas cenderung meningkat. Tahun 1993, nilai ekspor itu baru 23,3 miliar dolar AS tapi 1997 diperkirakan mencapai lebih 34 miliar dolar AS. Itu berarti memberikan kontribusi sebesar 65 persen dari seluruh ekspor nasional. Khusus industri kecil ekspor dari 1993 ke 1996 meningkat rata-rata 4,4 persen. Tahun 1996, nilai ekspornya mencapai 1,5 miliar dolar.

“Yang lebih melegakan, industri kecil makin, besar perannya dalam perluasan kesempatan berusaha dan kesempatan kerja.” kata presiden.

Sektor pertanianpun tak kalah mengesankan. PDB sektor pertanian antara 1993/ 96 tumbuh 2,9 persen per tahun. Ini memang masih di bawah sasaran pertumbuhan Repelita VI sebesar 3,3 persen. Namun, pertumbuhan perikanan mencapai 5,1 persen, perkebunan 4,7 persen, peternakan 4 persen, dan tanaman pangan 1,6 persen per tahun.

Tapi, penyerapan tenaga kerja sektor pertanian merosot. Tahun 1993 sektor ini menyerap 40,1 juta orang (50,6 persen dari tenaga kerja), sedangkan tahun 1996 turon jadi 37,7 juta atau 44 persen. Tapi produktivitas pekerja sektor pertanian membaik, dari Rp.1,5 juta per orang (1993) menjadi Rp.1,7 juta tahun 1996 atau rata-ratanaik 4,9 persen. Inipun melebihi target Repelita VI sebesar 2,4 persen.

“Gambaran ini jelas mencerminkan perubahan struktur yang baik dan benar arahnya.” ungkap Presiden Soeharto.

Di sektor pertambangan, pertumbuhannya mencapai 6 persen per tahun selama 4 tahun Repelita VI, yang berarti melampaui sasaran yang ditetapkan 4 persen. Ini terutama untuk batubara. Produksi minyak dan gas bumi dapat dipertahankan sesuai sasaran Repelita VI.

Sektor unggulan lain adalah paristiwa. Menurut Kepala Negara selama 4 tahun Repelita VI, kepariwisataan telah membuka hampir 700.000 lapangan kerja baru. Dalam bidang koperasi, hingga tahun keempat Repelita VI telah terbentuk lebih dari 52.000 koperasi dengan nilai usaha Rp.13,6 triliun dan anggota lebih dari 28 juta orang. Dari jumlah itu, 12.000 koperasi telah berkembang menjadi koperasi mandiri.

Sumber : SUARA KARYA (02/03/1998)

___________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 114-117.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.