KILAS BALIK PERISTIWA PENTING EKONOMI 1996

KILAS BALIK PERISTIWA PENTING EKONOMI 1996[1]

 

Bulan Agustus, tanggal :

1 – Para perunding AS dan Jepang mencapai kesepakatan dalam perundingan mereka mengenai persetujuan tentang akses pasar pada masa mendatang.

Nota Kesepahaman (MoU) bidang kepabeanan antara Indonesia dan Korea  Selatan di tandatangani di Jakarta oleh Dirjen Bea dan Cukai Soehardjo dan Komisaris Lembaga Pelayanan Bea dan Cukai Korsel, Man­ Soo Kang.

Nota kesepahaman tersebut antara lain mencakup perjanjian penyederhanaan prosedur pemeriksaan barang yang akan diekspor dan diimpor oleh masing-masing pihak.

Presiden Soeharto memerintahkan para menteri ekonomi untuk mengecek sistem distribusi kebutuhan masyarakat pada masa mendatang untuk mencegah kenaikan inflasi.

Kepada menteri-menteri ekonomi, Kepala Negara yang didampingi Wakil Presiden Try Sutrisno pada Sidang Kabinet Terbatas Bidang Ekku, Wasbang dan Prodis memperkirakan meningginya inflasi akibat adanya masalah dalam distribusi.

8 – AS mencabut keberatannya atas pelaksanaan perjanjian “minyak-untuk­ pangan” bagi Irak yang berarti melapangkan jalan kepada Baghdad untuk membuka lagi kran ekspor minyaknya guna menolong penduduk Irak yang menderita akibat larangan penjualan minyak yang dikenakan PBB.

14 – Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad dalam Surat Keputusannya No.507 Tahun 1996 menyatakan Pengenaan Pajak Penghasilan (Pph) atas Revaluasi Aktiva Tetap Perusahaan sebesar sepuluh persen.

Menurut Mar’ie, pengenaan PPh atas suatu perusahaan yang melakukan revaluasi (penilaian kembali) atas aktiva tetapnya sebesar sepuluh persen itu bersifat final.

16 – Menteri Perindustrian dan Perdagangan Tunky Ariwibowo mengatakan, rencana pemberian fasilitas pajak bagi industri yang berorientasi ekspor antara lain bertujuan memperkuat sektor industri, khususnya industri menengah dan hulu.

Hal itu akan mengurangi impor barang-barang modal sehingga tidak menambah beban defisit transaksi berjalan yang makin membengkak dalam beberapa tahun terakhir.

21 – Para pemimpin bisnis Asia, dalam sebuah pertemuan regional yang berlangsung di Tokyo menyerukan kepada Jepang untuk bersedia mempercepat proses alih teknologi.

Sebanyak 20 peserta perwakilan dari 11 negara termasuk Jepang menghadiri Forum Tetangga Dekat Asia yang diselenggarakan Federasi Organisasi Ekonomi Jepang (Keindanren).

Sumber : ANTARA (19/12/1996)

________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 546-547.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.