Khalifah Tuhan

Purwokerto, 15 September 1998

Katur Bapak Soeharto

di Jakarta

KHALIFAH TUHAN [1]

Assalamu’alaikum wr. wb.

Sembah sungkem,

Alhamdulillah, kawula dalam keadaan sehat, dalam lindungan-Nya, semoga keluarga besar “Soeharto” juga dalam lindungan-Nya.

Maaf beribu-ribu maaf “Bapak” kami memberanikan diri berkirim surat kepada Bapak, semua ini terdorong jiwa kebangsaan kami cinta kami, hormat kami, hormat kami kepada “Khalifah Tuhan” dan keprihatinan yang sangat mendalam. “Soeharto dan Indonesia. Kami sekeluarga menyampaikan rasa simpatik yang sedalam-dalamnya kepada keluarga Bapak dan sanak famili. Saya pengagum Bapak. Sungguh berat ujian Bapak. Indonesia, menangis, Hujatan, hinaan, cercaan dan fitnah kepada Bapak sungguh di luar rasa kemanusiaan. Saya rakyat kecil, kawula alit bagaimana kami harus membela Bapak. Kami aktivis Golkar di desa dan kecamatan tidak luput dari cibiran masyarakat, namun semua itu sebagai resiko perjuangan.

Bapak, kami ingin tahu Bapak. Apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Dan akan bagaimana nanti Bapak dan Indonesia.

Sikap apa yang harus kami lakukan demi masa depan kami dan bangsa. Karena saya juga dalam pailit seperti bangsa ini. Tolong Bapak, beri saya petunjuk nasihat guna langkah berikutnya.

Saya tahu Bapak terjebak sistem yang diciptakan segelintir orang yang pengecut dan ingin mengambil keuntungan pribadi.

Mohon doa Bapak semoga tugas saya terselesaikan. Bapak sehat dan Tuhan mengampuni dosa-dosa Bapak, serta membalas kebaikan Bapak sesuai dengan perjuangan Bapak. Amin. (DTS)

Wassalam,

Kawula – Bewa Kusworo

Banyumas – Jateng

[1]Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 45. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.