KETUA MPR/DPR HARMOKO : JANGAN KEHILANGAN KEPERCAYAAN

KETUA MPR/DPR HARMOKO : JANGAN KEHILANGAN KEPERCAYAAN[1]

 

Jakarta, Kompas

Ketua MPR/DPR Harmoko meminta agar MPR tidak kehilangan kepercayaan diri terhadap kemampuan bangsa menghadapi krisis moneter yang terjadi akhir-akhir ini.

“Kita tetap harus memiliki optimisme dalam menghadapi segala ujian dan cobaan serta tidak sekali-kali kehilangan kepercayaan diri terhadap kemampuan yang kita miliki dalam menghadapi hari-hari mendatang.” pesan Harmoko dalam Pidato Pembukaan Sidang Umum (SU) MPR tahap II, Minggu (1/3), di Jakarta.

Di hadapan 997 anggota MPR, Harmoko menegaskan, sebagai bangsa yang tahan uji, dan tahan penderitaan selayaknya tidak ragu dan was-was melaksanakan pembangunan dan amanat rakyat.

“Namun tetap harus menyadari betapa berat dan besarnya tugas yang diemban Majelis.” ujarnya.

MPR harus meletakkan rumusan-rumusan dasar untuk menjawab tantangan, serta memanfaatkan peluang untuk memenuhi harapan abad baru.

“Kita menyadari sepenuhnya betapa berat, apalagi di tengah krisis moneter seperti sekarang ini.” kata Harmoko sebelum acara pertanggungjawaban Presiden/Mandataris MPR 1993- 1998.

SU MPR Tahap II yang merupakan landasan konstitusi untuk mengantarkan bangsa Indonesia menghadapi abad baru dilaksanakan saat Indonesia menghadapi krisis moneter yang tidak hanya berdampak pada ekonomi, tapi juga sosial. Dalam perspektif demikian, Sidang Umum Majelis tahap II dilaksanakan. Oleh karena itu, tambah Harmoko, tiada pilihan bagi MPR kecuali memaknai Sidang Umum dengan produk dan karya yang dapat memenuhi harapan dan tuntutan rakyat di masa kini, dan dapat mengantisipasi perkembangan kebutuhan rakyat di masa depan.

“Dan itu tiada lain dengan menghasilkan keputusan MPR dan Ketetapan­ ketetapan MPR sebagai garis-garis besar haluan negara dalam melaksanakan dan melanjutkan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila.” kata Harmoko.

Rancangan Ketetapan (Rantap) dan Rancangan Keputusan (Rantus) MPR telah dibahas oleh Badap Pekerja (BP) MPR tanggal 1 Oktober 1997-23 Januari 1998. BP telah menyelesaikan pembahasan satu Rantus dan enam Rantap, yaitu, Rantus MPR tentang jadwal acara SU MPR, Rantap MPR tentang Perubahan dan Tambahan Atas Tap MPR RI No.1/MPR/1993, Rantap MPR tentang GBHN, Rantap MPR tentang Pertanggungjawaban Presiden RI Soeharto selaku Mandataris MPR, Rantap MPR tentang Pengangkatan Presiden, Rantap MPR tentang Pemberian Tugas dan Wewenang Khusus kepada Presiden/Mandataris MPR dalam rangka Penyuksesan dan Pengamanan Pembangunan Nasional sebagai Pengamalan Pancasila, dan Rantap MPR tentang Pengangkatan Wakil Presiden.

Rantus dan Rantap tersebut telah dibagikan kepada anggota MPR dua minggu sebelum pelaksanaan SU MPR.

“Pimpinan Majelis berharap Rantap dan Rantus tersebut telah dicerna oleh seluruh anggota Majelis, untuk kemudian melalui proses musyawarah yang demokratis dimufakati, dan selanjutnya disahkan menjadi Ketetapan Majelis.” ujarnya.

Sumber : KOMPAS (02/03/1998)

______________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 102-103.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.