KETIKA POHON BERINGIN ROBOH MENIMPA PRASASTI

KETIKA POHON BERINGIN ROBOH MENIMPA PRASASTI[1]

 

Jakarta, Media Indonesia

Anda boleh percaya boleh tidak. Beberapa hari sebelum HM Soeharto meletakkan jabatan, prasasti yang ditandatanganinya di kawasan industri Muka Kuning, Batam (Riau) pecah ditimpa pohon beringin yang menaunginya.

“Sebagai warga Batam saya tidak terkejut mengetahui pengunduran dirinya, karena tanda­tandanya sudah terlihat.” ujar Yanthy.

Pecahnya prasasti itu bagi warga Batam tadinya sangat mengherankan karena pohon beringin ini tumbang tanpa penyebab jelas. Rumor mundurnya Soeharto langsung beredar di Batam. Rumor itu menjadi kenyataan, sehingga puluhan ribu karyawan industri di Batam, Kamis, mendatangi prasasti yang pecah dan masih dipenuhi bongkahan pohon beringin yang tumbang. Sejak tumbangnya pohon itu, ribuan warga mulai bersiap-siap meninggalkan Batam, terutama warga keturunan yang berasal dari pulau-pulau kecil di sekitar Batam. Mereka mengungsi ke sana.

Lain lagi kisah di Sulawesi Tengah. Di saat suasana masyarakat Kota Palu dan sekitarnya, Kamis, sedang asyik mengikuti siaran pengunduran Soeharto sebagai presiden dan sekaligus pengambilan sumpah Presiden BJ Habibie, tepat pukul 13.35 WITA dikejutkan gempa bumi berkekuatan 6,4 skala Richter. Gempa mengguncang wilayah Kodya Palu dan Kabupaten Donggala.

Warga Kota Palu yang sedang menikmati siaran TV sempat panik dan berhamburan keluar rumah. Begitu juga para sopir angkutan kota terpaksa menghentikan kendaraannya. Dari sumber Media di Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Palu menyebutkan pusat gempa berada di Selat Makassar atau tepatnya di sekitar pesisir pantai barat kira-kira 44 km sebelah utara kota Donggala. Pusat getaran gempa diperkirakan berdekatan dengan pusat gempa tektonik berkekuatan 7.0 pada Skala Richter pada tanggal 01 Januari 1996 yang menghancurkan beberapa desa di pantai barat Kabupaten Donggala dan meminta korban jiwa di Desa Tonggolabibi.

Sementara Jumat pagi hingga siang kemarin hampir bisa dipastikan aktivitas masyarakat sejenak terhenti ketika Presiden BJ Habibie mengumumkan susunan kabinet baru pengganti Kabinet Pembangunan VII yang demisioner. Di Padang misalnya, suasana jalan-jalan protokol, pasar-pasar, dan pusat-pusat keramaian di daerah itu tampak lengang dengan hanya satu dua kendaraan yang lewat.

Para pegawai, baik di kantor-kantor pemerintah maupun swasta, sejak pukul 09.30 WIB telah mulai menghentikan berbagai kegiatan mereka, dan duduk menunggu susunan kabinet baru di depan televisi yang tersedia di kantor masing-masing. Sebagian besar masyarakat di daerah itu juga lebih memilih untuk tetap berada di dalam rumah.

Suasana di Pasar Raya Padang pusat perdagangan terbesar di Kota Padang pusat perdagangan terbesar di Kota Padang menurut Antara juga tampak jauh lebih sepi dari biasanya. Suasana Pekanbaru juga kembali lengang. Penyebabnya seperti halnya yang terjadi di Padang. Setelah pengumuman kabinet baru itu, ratusan mahasiswa melakukan aksi konvoi bersepeda motor untuk merayakan kemenangan reformasi yang ditandai dengan mundurnya HM Soeharto.

Sementara itu H Masoed Abidin (Ketua DDII Sumatera Barat) mengusulkan perlu dibukanya Dompet Peduli Indonesia berupa rekening bank khusus langsung di bawah koordinasi Presiden. Rekening ini merupakan gerakan moral untuk memancing kepedulian pihak-pihak terkait yang merasa telah menikmati dana dan harta secara tidak wajar yang merugikan bangsa dan negara.

Sumber : MEDIA INDONESIA (23/05/1998)

_______________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 832-833.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.