KETELITIAN TINDAK LANJUT

KETELITIAN TINDAK LANJUT

 

 

Surat Kabar ini pernah mendapat kehormatan mengadakan wawancara khusus dengan Presiden Soeharto dalam rangka memperingati Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), yang jatuh bersamaan dengan peringatan ulang tahun ke dua Suara Karya pada tahun 1973.

Salah satu pertanyaan yang diajukan Suara Karya waktu itu mengenai langgam kepemimpinan Presiden Soeharto, yang pada saat itu banyak orang mendapat kesan sebagai “alon-alon waton kelakon”, atau “biar lambat asal selamat”.

Waktu itu Presiden menjelaskan, “alon-alon waton kelakon” mempunyai kebalikan “kebat kliwat”, atau “cepat tidak berhasil”. Saya berpendapat, kata Presiden, apa yang dilaksanakan itu hendaknya terlaksana dengan baik. Terlaksana dan berhasilnya suatu rencana atau tindakan, memerlukan ketelitian sebelum tindakan itu diambil.

Ketelitian dalam menelaah dan menilai keadaan dan ketelitian dalam mengambil keputusan, hingga setiap keputusan bisa menjamin suksesnya tindakan, kata Presiden menegaskan.

Bila diteliti kembali langgam kepemimpinan Presiden Soeharto dalam mengambil keputusan mengenai semua bidang, tampaknya prinsip-prinsip mengutamakan ketelitian itu tetap dipegang teguh.

Dipegang teguhnya prinsip-prinsip ini juga tercermin dalam apa yang diungkapkan Menteri Sekretaris Negara, Sudharmono SH, di depan rapat konsultasi nasional Kadin Indonesia, Rabu lalu.

Meskipun pengumuman devaluasi 12 September kelihatannya mendadak, tetapi pemikirannya hingga sampai kepada pengambilan keputusan dilakukan secara cermat, dan dengan memperhatikan sungguh-sungguh segala kemungkinannya, kata Sudharmono.

Setelah menegaskan lagi bahwa devaluasi dilakukan semata-mata untuk menyelamatkan pembangunan, khususnya neraca pembayaran yang terancam karena merosot tajamnya harga minyak, ditegaskan pula bahwa devaluasi sama sekali tidak dengan tujuan merugikan dan menyengsarakan masyarakat.

Tentu banyak anggota Kadin terkejut begitu devaluasi diumumkan.

Tetapi, jangankan anggota Kadin yang jelas berada di luar pemerintah. Bahkan, di antara 40 menteri kabinet hanya sebagian kecil saja yang mengetahuinya, kata Sudharmono menegaskan.

Dengan latar belakang wawancara khusus Suara Karya dengan Presiden Soeharto, lebih 13 tahun lalu yang dikutip tadi, mestinya keputusan untuk melakukan devaluasi memang bukan tindakan serampangan dan gegabah, apalagi dengan tujuan mengelabui serta menyengsarakan

Bahwa keputusan itu mengejutkan semua orang karena kerahasiaan persiapan dan pengambilan keputusan itu sendiri, memang tidak bisa lain. Sebab, bila sedikit saja masyarakat, khususnya dari bisnis, melihat tanda-tanda Pemerintah akan melakukan devaluasi, agaknya bisa dibayangkan betapa hebatnya kekacauan yang akan terjadi.

Begitu pula, dengan langgam kepemimpinan Soeharto yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang dikemukakan tadi, agaknya tidak mungkin tindakan itu dilakukan dengan pertimbangan yang tidak digodok masak-­masak.

Soalnya sekarang, bagaimana mengurangi dampak negatif devaluasi, dan memanfaatkan peluang yang ditimbulkannya guna menyelamatkan pembangunan, khususnya neraca pembayaran, dan mendorong ekspor non migas.

Untuk itu, juga diperlukan ketelitian yang tinggi agar sasaran yang ingin dikejar dengan devaluasi benar-benar tercapai. (RA)

 

 

Jakarta, Suara Karya

Sumber : SUARA KARYA (26/09/1986)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 632-634.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.