KETAHANAN NASIONAL INDONESIA SEBAGAI SUMBANGAN KETAHANAN

KETAHANAN NASIONAL INDONESIA SEBAGAI SUMBANGAN KETAHANAN [1]

 

Jakarta, Antara

Indonesia dengan mewujudkan ketahanan nasionalnya, sekaligus berusaha memberi sumbangan kepada terwujudnya ketahanan regional melalui ASEAN, sehingga terwujud Asia Tenggara yang menjadi wilayah damai, bebas dan netral.

Presiden Soeharto mengemukakan hal tersebut pada suatu jamuan santap malam kenegaraan di Istana Negara, Jum’at malam untuk menghormat rekannya PM Thailand, Tanin Kraivichien yang sedang berkunjung di Indonesia,

Kepala Negara mengingatkan, dalam negara2 yang mulai membangun seperti : ASEAN sedang berlangsung periode transisi menuju “nation building”.

“Dalam keadaan demikian”, kata Presiden, “tubuh ASEAN sangat rawan terhadap gangguan2, terlebih-lebih karena adanya konflik kekuatan2 dunia, yang sering kali menjadikan wilayah Asia Tenggara menjadi ajang pertarungan atau perebutan pengaruh, baik secara terang-terangan maupun terselubung”.

PM Thailand tiba di Jakarta Jum’at siang disertai tiga orang menteri dan pejabat2 tingginya untuk kunjungan tiga hari, dua hari merupakan kunjungan resmi di Jakarta dan sehari di Bali.

Wujudkan Hasil KTT Bali

Presiden mengajak negara2 ASEAN untuk segera mewujudkan apa yang telah mereka sepakati bersama dalam KTT di Bali tahun yang lalu.

Diingatkan agarnegara2 ASEAN bekerja lebih cepat mewujudkan apa yang telah disepakati itu untuk dikerjakan bersama.

“Kita sadar akan desakan2 waktu dan masalah2 yang kita hadapi, yang apabila tidak segera ditangani masalah2 dan tantangan2 baru akan menyerbu kita”, kata Presiden.

Dalam rangka itu ia menyatakan gembira atas pertukaran pikiran yang telah di lakukan sore harinya dengan PM Thailand itu di Istana Merdeka:

”Tukar pikiran yang berlangsung dalam suasana penuh persahabatan diyakinkan saya atas persamaan2 pandangan kita mengenai hubungan bangsa dan dunia pada umumnya”.

Presiden berpendapat, pembicaraannya dengan pembesar Thailand yang akan berakhir Sabtu makin meyakinkan dia bahwa kunjungan tamu negara itu telah memperkokoh persahabatan, saling pengertian dan kerjasama yang selama ini ditanamkan bersama antara kedua negara.

Ketahanan Nasional

Ketika menyinggung bahwa tubuh ASEAN sangat rawan terhadap gangguan, Presiden berpendapat satu2nya jawaban dan menghadapi tantangan itu ialah konsepsi ketahanan, yang meliputi ketahanan ideologi nasional yang berasal pada kepribadian bangsa sendiri, ketahanan politik yang mutlak diperlukan untuk membina stabilitas politik dengan mengembangkan kehidupan demokrasi yang memadukan kebebasan kreatif dan tangungjawab.

Konsepsi ketahanan nasional itu meliputi pula ketahanan ekonomi yang harus diusahakan dengan pembangunan ekonomi yang adil dan merata, ketahanan dibidang sosial ini mengembangkan rasa senasib sepenanggungan dan harmoni sosial, ketahanan hidang hankam dengan memupuk rasa kesadaran dan tanggungjawab seluruh bangsa atas keamanan dan kedaulatan negara dan bangsa dengan kekuatan militer sebagai pelopornya,

Presiden menyatakan, pembangunan ekonomi yang sekarang menjadi prioritas Nasional Indonesia adalah dalam rangka mengembangkan ketahanan nasional itu, sebab bidang iniadalah mata rantai terlemah dalam ketahanan nasional Indonesia.

Kunjungan Kehormatan

Setibanya di Istana Merdeka, PM Thailand Tanin yang diantar Presiden Soeharto diterima di Wisma Negara tempat menginapnya selama di Jakarta oleh Nyonya Tien Soeharto.

PM Thailand itu kemudian mengadakan pertemuan empat mata dengan Presiden Soeharto di Istana Merdeka. Sebelumnya ia terlebih dulu memperkenalkan anggota rombongannya kepada Presiden Soeharto dan pejabat2 Indonesia,

Setelah mengadakan pertemuan dengan Presiden Soeharto yang berlangsung sekitar satu setengah jam, Perdana Menteri Thailand mengadakan kunjungan kehormatan kepada Wakil Presiden Sultan Hamengkubuwono di Istana Merdeka Selatan. (DTS)

Sumber : ANTARA (12/12/1976)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 156-157.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.