KESEMPATAN TERBUKA LUAS BAGI SWASTA BANGUN PERHUBUNGAN

KESEMPATAN TERBUKA LUAS BAGI SWASTA BANGUN PERHUBUNGAN[1]

 

Jakarta, Kompas

Presiden Soeharto mengatakan, kesempatan dibuka seluas-luasnya bagi swasta untuk berpartisipasi dalam pembangunan sektor perhubungan, karena kita menyadari pembangunan di sektor ini memerlukan biaya yang tidak sedikit. Kepala Negara mengatakan hal itu Rabu pagi di Istana Negara ketika membuka Rapat Kerja Nasional Departemen Perhubungan serta penyerahan Piala Wahana Tata Nugraha tahun 1996. Hadir dalam acara tersebut,Wakil Presiden dan Ibu Try Sutrisno serta para Menteri Kabinet Pembangunan VI.Jakarta, Kompas

Presiden mengatakan, sektor perhubungan termasuk salah satu sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak. Karena itu sesuai dengan UUD, maka pemerintah menentukan kebijakan, pengawasan dan kewenangan untuk menentukan tarif pemakaian jasa perhubungan.

Hal itu penting, karena tarif dalam pelayanan jasa angkutan akan membawa dampak yang luas terhadap kehidupan ekonomi dari kehidupan masyarakat kita. Keberhasilan pembangunan di sektor perhubungan tidak saja penting bagi pembangunan ekonomi, tetapi juga penting bagi pembangunan politik, sosial dan budaya, tambahnya.

Kepala Negara mengatakan, meskipun kita telah mencapai kemajuan-kemajuan besar dalam pembangunan perhubungan namun masih terdapat kekurangan dan kelemahan. Tidak hanya ada pada sarana dan prasarana fisik dan persoalan teknis lainnya, tetapi juga terjadi pada faktor manusianya.

Selama hampir tiga dasawarsa belakangan ini, kita telah berhasil membuat berbagai peraturan perundang-undangan di bidang perhubungan.

Menurut Presiden, semua pihak yang bersangkutan baik aparatur pemerintah yang menangani sektor perhubungan harus betul-betul meningkatkan kemampuan dan disiplin dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat pengguna jasa perhubungan.

Keamanan dan keselamatan setiap orang yang menggunakan jasa perhubungan juga harus ditingkatkan, agar mampu mencegah terjadinya kecelakaan sampai batas minimal.

Saya perlu menekankan hal ini karena angka kecelakaan lalu lintas cenderung terus meningkat. Kecelakaan lalu lintas yang terus bertambah besar itu bukan saja disebabkan oleh faktor kelalaian manusia, tetapi juga faktor teknis. Apa pun alasannya kita tidak dapat membiarkan jatuhnya korban lebih banyak lagi, kata Presiden.

Dalam era ekonomi terbuka dan perdagangan bebas, masyarakat akan berpikir dalam kerangka ekonomi. Masyarakat dan pelaku ekonomi akan memilih pelayanan jasa perhubungan yang cepat, aman, murah dan efisien.

Dalam rangka itu, kita tidak boleh tertinggal dari kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh negara lain yang juga telah membenahi sarana dan prasarana perhubungannya.

Tantangan yang kita hadapi di sektor perhubungan harus mendorong kita untuk mampu lebih mandiri, khususnya dalam menyediakan alat-alat perhubungan. Kita akan terus mengembangkan industri nasional kendaraan bermotor yang harganya dapat dijangkau oleh masyarakat luas agar kita mampu mengurangi ketergantungan kita dari luar.

Yang Kelima

Dalam laporannya, Menteri Perhubungan Haryanto Dhanutirto mengatakan, Piala Wahana Tata Nugraha diberikan kepada kota yang memenangkan lomba tertib lalu lintas dan angkutan jalan yang dilaksanakan setiap tahun oleh Departemen Perhubungan dan diikuti oleh seluruh ibu kota provinsi, kabupaten dan kodya.

Penyerahan Piala Wahana Tata Nugraha tahun ini merupakan yang kelima sejak diselenggarakan tahun 1992. Bagi kota yang lima kali berturut-turut meraih Piala Wahana Tata Nugraha serta memenuhi persyaratan akan menerima Piala Wahana Tata Nugraha Kencana.

Lomba tertib lalu lintas dan angkutan jalan tahun 1996 ini diikuti 74 kota dari 23 provinsi berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan sejak April sampai Agustus 1996. Empat kota peraih Piala Wahana Tata Nugraha Kencana, Kodya Surabaya untuk kota raya, Kodya Padang untuk kota besar serta Kodya Balikpapan dan Kodya Blitar untuk kota sedang.

Selain itu ditetapkan pula 38 kota yang meraih Piala Wahana Tata Nugraha dan 15 kota meraih Piagam Penghargaan.

Untuk kota raya yang meraih Piala Wahana Tata Nugtaha, Kodya Semarang dan Kodya Ujung-pandang. Untuk kota besar, Kodya Bandar Lampung. Untuk kota sedang antara lain Kodya Kediri, Kodya Denpasar, Kodya Binjai, Kodya Pamatang Siantar dan Kodya Jayapura.

Magetan

Untuk kota kecil, Kota Magetan, Kodya Padang Panjang dan Kodya Bukit Tinggi.

Sementara itu, 15 kota yang berhasil meraih piagam penghargaan untuk kota raya adalah DKI Jakarta, untuk kota besar Kodya Malang sedangkan untuk kota sedang adalah Kodya Bogor, Kodya Manado dan Kota Tebing Tinggi. Sedangkan untuk kota kecil antara lain, Kota Luwuk, Kota Selong, Kota Tanjung dan Kota Temale.

Dilaporkan pula, jumlah peraih Piala Wahana Tata Nugraha setiap tahun meningkat, yakni tahun 1992 (sebanyak 10 kota), tahun 1993 (14), tahun 1994 (21), dan tahun 1995 (28).

Sumber : KOMPAS (12/09/1996)

_________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 747-749.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.