KESEHATAN PAK HARTO PRIMA PROBO : PENGECEKAN KESEHATAN KE JERMAN KARENA TRAUMA

KESEHATAN PAK HARTO PRIMA
PROBO : PENGECEKAN KESEHATAN KE JERMAN KARENA TRAUMA[1]

 

Jakarta, Suara Karya

Keputusan yang diambil Pak Harto untuk melakukan pemeriksaan kesehatannya ke luar negeri lebih didorong oleh perasaan trauma atas meninggalnya Ibu Tien Soeharto beberapa waktu lalu.

Pemeriksaan di Jerman tersebut, kesehatan Presiden Soeharto dinyatakan dalam kondisi prima, sehingga rencana kepulangannya ke Tanah Air dipercepat. Dijadwalkan Sabtu pagi (13/7) Pak Harto beserta keluarga tiba kembali di Jakarta. Ini berarti dua hari lebih cepat dari rencana semula. Demikian penjelasan pengusaha terkemuka Probosoetedjo di Jakarta, Kamis siang (11/7).

Probo yang mengaku bicara dalam kapasitas nya sebagai wakil keluarga Pak Harto, kemarin kepada pers mengatakan, penjelasan ini perlu dikemukakan, untuk menghindari terjadinya kesimpangsiuran tentang kondisi kesehatan Pak Harto yang sesungguhnya, setelah pemeriksaan di Jerman.
Probo mengatakan, pernyataan tentang kondisi kesehatan Pak Harto yang prima itu bukanlah suatu pernyataan rekayasa.

“Saya bicara apa adanya, sebab saya berada di sana dan menyaksikan sendiri kondisi Pak Harto sejak sebelum hingga sesudah pengecekan. Jadi pernyataan tentang sehatnya Pak Harto bukan di bikin-bikin.” katanya.

Ditanya apakah pembeberan tentang kondisi kesehatan Pak Harto tersebut memperoleh mandat dari Pak Harto, ia mengatakan :

“Ya bukan mandat. Tetapi saya sudah minta izin terlebih dulu dan Pak Harto memberikan persetujuan.”

Menurut Probo, meninggalnya Ibu Tien beberapa waktu lalu menjadikan trauma para keluarga Pak Harto atas kesehatan Pak Harto sendiri.

Waktu itu, ujar Probo, sakitnya Ibu Tien sebenarnya sudah dideteksi. Sebelum meninjau kebun buah di Cileungsi, hari Jumat (26/4), sehari sebelumnya (Kamis, 25/4) dokter menyatakan Ibu Tien dalam kondisi sehat.

Seandainya waktu itu kondisi Ibu Tien dinyatakan tidak sehat, kata Probo lebih lanjut, maka Pak Harto tidak akan pergi mancing hari Jumat. Tapi karena Ibu Tien dikondisikan sehat, maka Pak Harto berangkat memancing dan kembali hari Sabtu. Ketika Pak Harto kembali dari mancing, masih dinyatakan pula bahwa kondisi Ibu Tien sehat. Tetapi nyatanya Sabtu malam itu (27/4) Ibu Tien terkena serangan sesak napas, dan meninggal dunia Minggu pagi (28/4).

“Nah, kejadian inilah yang menjadikan trauma keluarga Pak Harto. Dinyatakan sehat, tetapi ternyata kok terkena serangan sesak napas. Kenapa kok sampai bisa terjadi begitu?” ungkap Probo dengan nada bertanya.

Probo juga mengatakan, selain putra-putri Pak Harto, ia termasuk yang meminta Pak Harto untuk melakukan pemeriksaan, kesehatan ke luar negeri tersebut, untuk memperoleh pemeriksaan yang akurat.

“Saya sendiri yang meminta begitu (melakukan pengecekan kesehatan). Jangan sampai terulang seperti almarhumah Ibu Tien dulu. Masak sebagai seorang Ibu Negara mau ke rumah sakit saja kok nggak pakai ambulans karena tidak ada ambulans.” kata Probo.

Pilihan Pak Harto

Menurut Probo, keputusan pemeriksaan kesehatan ke luar negeri itu adalah atas anjuran tim dokter kepresidenan dan dorongan dari putra-putrinya. Negara Jerman merupakan pilihan Pak Harto sendiri.
Karena Menristek Habibie dianggap lebih mengenal tentang Jerman, maka Habibie ketika dimintai sarannya menganjurkan agar ke RS di Bad Oeyenhausen, sebuah RS kecil di luar Kota Hanover. Di RS itu pula Habibie pernah menjalani operasi jantung. RS tersebut tidak jauh dari rumah Habibie di kota kecil itu.
Habibie pula yang memberikan jaminan bahwa RS ini sangat baik, termasuk para dokternya. Setiap tahun tidak kurang 250 orang menjalani operasi jantung, dan tidak pernah gagal.

“Meskipun sudah memperoleh jaminan dari Habibie, namun masih perlu konfirmasi dari berbagai pihak. Setelah merasa yakin benar, maka diambil keputusan mernilih RS seperti anjuran Habibie itu.” kata Probo.

Dijelaskan, pemeriksaan dilakukan secara standar bertahap termasuk pemeriksaan kemungkinan penyumbatan pada urat nadi dengan menggunakan selang. Ternyata dari hasil pemeriksaan tersebut dinyatakan sangat baik. Jadi tidak ada penyumbatan pada kelima urat nadi yang menuju jantung.

“Bahkan di luar dugaan, dokter-dokter yang menangani merasa kagum, bahwa Pak Harto yang sudah berusia 75 tahun, kondisi kesehatannya begitu prima.” kata Probo.

Tentang penyakit ginjal Pak Harto, menurut Probo, tidak menjadi masalah.

“Setelah dinyatakan sakit ginjal, Pak Harto rajin minum ramuan tradisional misalnya kumis kucing dan keji beling serta banyak minum air putih, sehingga bisa menghancurkan batu ginjal tersebut.” ujarnya.

Kemungkinan Pak Harto kembali ke Jerman untuk pengecekan lanjutan. Probo hanya menyatakan bahwa tim dokter sudah menyatakan sehat dan tak perlu pemeriksaan lanjutan.

Ditanya reaksi Pak Harto adanya gejolak saham di Singapura dan sebagainya sehubungan dengan pemeriksaan kesehatan Pak Harto tersebut, Probo melukiskan bahwa Pak Harto merasa prihatin. Dalam kaitan itu pula yang mendorong Pak Harto mempercepat kepulangannya ke Jakarta.

“Beliau juga sangat prihatin. Kenapa bisa jadi begitu. Ada gejolak pasar modal, kurs rupiah merosot, dolar naik. Sebab itu Pak Harto memutuskan untuk segera kembali.” ucap Probo.

Probo mengatakan, Kamis malam (11/7) Pak Harto mengadakan jamuan dengan semua dokter RS tempat Pak Harto menjalani pemeriksaan. Jamuan di selenggarakan di RS itu pula. Disebutkan, selama menjalani pemeriksaan, kesehatan di luar negeri, Pak Harto senantiasa memantau perkembangan situasi di tanah air.

Sumber : SUARA KARYA (12/07/1996)

_______________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 690-693.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.