KESEDERHANAAN HIDUP BUNG HATTA CONTOH YANG SANGAT MENONJOL

SIKAP KERAKYATANNYA PERLU DITELADANI, KESEDERHANAAN HIDUP BUNG HATTA CONTOH YANG SANGAT MENONJOL

PRESIDEN

Sikap kerakyatan adalah segi lain dari kehidupan Bung Hatta yang perlu diteladani, demooan Presiden Soeharto. Soeharto Kamis pagi tatkala menyampaikan sambuntan pada peresmian pemugagan makam Bung Hatta, salah seorang proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

“Karena sikap kerakyatan itu,” ujar Kepala Negara, “maka Bung Hatta selalu hidup secara sederhana. Dalam kesederhanaan itulah terletak kekuatan, kebesaran dan keagungan Bung Hatta. Kesederhanaan hidup Bung Hatta adalah contoh yang sangat menonjol dari kehidupan beliau, kita semua perlu berguru pada kehidupan Bung Hatta.”Mohammad Hatta yang lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, wafat 14 Maret 1980, dimakamkan tanggal 15 Maret besok harinya dengan upacara kenegaraan, di TPU Tanah Kusir.

“Apabila saya meninggal dunia, saya ingin dikuburkan di kota Jakarta, tempat diproklamasikan Indonesia Merdeka. Saya tidak ingin dikuburkan di Makam Pahlawan. Saya ingin dikubur ditengah-tengah rakyat, yang nasibnya saya perjuangkan seumur hidup saya,” demikian pesan Wakil Presiden Pertama itu di masa hidupnya.

Upacara pemugaran makam Bung Hatta hari Kamis menarik minat masyarakat Ibu kota yang berkerumun disekitar kompleks pemakaman hingga meluber disepanjang jalan raya Bintaro, ibu-ibu yang menggendong bayi tampak pula diantaranya.

Sedangkan di halaman tempat upacara berlangsung tidak kurang dari Presiden dan Nyonya Tien Soeharto, Wakil Presiden dan Nyonya Adam Malik, pejabat-pejabat tinggi lainnya dan para korps diplomatik. Nyonya Rahmi Hatta dan keluarganya turut hadir dalam peristiwa tersebut. Sedangkan dari negara sahabat tampak Menteri Luar Negeri Malaysia Tan Sri Chazali Syafei.

Selanjutnya Kepala Negara mengatakan, “Pribadi pemikiran dan kepemimpinan Bung Hatta akan selalu hidup dalam hati sanubari bangsa kita. Perjuangan, pengorbanan dan jasa beliau akan selalu hidup dalam ingatan dan kenangan kita.”

Pada kesempatan itu, Presiden Soehartojuga menyampaikan terima kasih dan penghargaan Pemerintah kepada keluarga Bung Hatta yang menyetujui sepenuhnya pemugaran makam tersebut. Sebab, Bung Hatta bukan saja milik keluarga melainkan telah menjadi milik seluruh rakyat Indonesia, menjadi bagian yang penting dari seluruh perjuangan bangsa.

Pemugaran makam Bung Hatta, menurut Presiden Soeharto, tidak dimaksudkan untuk mengkultuskan, suatu sikap yang lurus bertolak belakang dengan kepribadian Bung Hatta yang sangat sederhana.

Katanya, “Kita membangun makam Bung Hatta untuk menunjukkan sikap hormat kita semua sebagai bangsa terhadap pemimpinnya yang telah berjasa untuk tanah airnya, yang telah berkorban untuk keluhuran bangsanya.”

Presiden menyadari bahwa penghormatan terhadap Bung Hatta dan juga kepada para pendahulu lainnya tidak cukup dengan membangun makam seperti itu. Yang lebih penting adalah tekad dan usaha untuk meneruskan perjuangan.

“Kita semua dan seluruh generasi sesudahnya, memikul tanggung jawab besar untuk meneruskan cita-cita nasional yang indah dan luhur, yang telah diperjuangkan dan diwariskan oleh pendahulu kita,” tegas Presiden lagi.

Diakui bahwa generasi Bung Hatta merupakan angkatan yang melahirkan berbagai gagasan dan pemikiran besar untuk mernbangun suatu kehidupan bangsa yang merdeka.

Dikatakan, gagasan-gagasan dan pemikiran-pemikiran itu merupakan warisan yang tak ternilai harganya bagi generasi sesudahnya. Pikiran dan gagasan Bung Hatta mengenai demokrasi ekonomi dan koperasi misalnya terpancang kokoh kuat dalam Undang-Undang Dasar 1945.

“Demokrasi ekonomi dengan koperasi sebagai salah satu soko gurunya ekonomi nasional itulah yang ingin kita bangun dalam alam Indonesia Merdeka,” katanya mengingatkan.

Dogmatis

Untuk meneruskan cita-cita para pendahulu bangsa ini, menurut Presiden, harus dilakukan dengan sikap kreatif tidak dengan sikap dogmatis.

Presiden menuturkan, sejak proklamasi kemerdekaan, bangsa Indonesia telah mengetahui perkembangan yang sangat pesat. Perubahan-perubahan besar telah terjadi.

Berbagai tantangan yang tidak mungkin terbayangkan beberapa dasawarsa lalu kini dihadapi.

Bahkan, menurut Presiden, bangsa Indonesia menghadapi berbagai tuntutan yang mungkin belum terpikirkan ketika negara ini didirikan 37 tahun yang lalu. Semua itu menghendaki jawaban secara lebih cepat.

Dalam menghadapi berbagai tantangan yang menghadang bangsa Indonesia dikatakan, hanya, bisa belajar dari Bung Hatta, di antaranya ialah watak yang teguh dan integritas yang utuh.

Hidup Bung Hatta memperlihatkan keteguhan sikap dan pendirian yang tidak goyang sekalipun, betapapun besarnya godaan dan cobaan yang dihadapinya.

Melanjutkan sambutannya, Presiden Soeharto mengingatkan bahwa sesungguhnya kemajuan apapun yang ingin dicapai bangsa Indonesia sekali-kali tidak boleh mengorbankan watak dan integritas, sebab di situlah terletak nilai kepribadian bangsa ini.

“Tanpa watak yang teguh dan integritas yang utuh kita kehilangan kepribadian, kita kehilangan identitas. Ini yang menjadikan kita bangsa yang lemah,” ujarnya lagi.

Makam Bung Hatta yang terletak diatas tanah seluas 3.230 m2 itu mulai dipugar tanggal 12 Agustus 1981 dengan peletakkan batu pertama oleh Nyonya Rahmi Hatta, atau selesai waktu 234 hari.

Peziarah dari jalan raya sebelah selatan dapat dengan jelas melihat perpaduan seni bangunan Jawa dan Sumatera dihias disana sini dengan motif-motif Islam serta berbagai ornamen yang khas Indonesia.

Tata ruang lingkungan makam terbagi atas halaman besar yakni halaman depan yang lebih bersifat umum dan halaman dalam untuk bangunan makam.

Halaman ini seluas 527,2 m2 dilapisi dengan keramik produksi dalam negeri, sedang bagian dalam dilapisi oleh batu andesit yang berasal dari Muntilan.

Pada halaman makam terdapat bangunan pelengkap berupa rumah jaga, mushola dan ruang penerimaan tamu.

Bangunan utama yang disebut Cungkup Makam Bung Hatta dikelilingi kaca tebal yang tembus pandang terletak pada bagian paling atas dri lantai tiga tingkat.

Tingkat pertama merupakan pula seluas 13 X 13 m, Kedua teras seluas 9 X 9 m dan tingkat paling atas yang memangku makam itu 5 X 5 m.

Ukuran 5 X 5 m ini, menurut Presiden Soeharto merupakan penghormatan perlambang ke-Islaman Bung Hatta. Juga Bung Hatta sebagai pejuang dan pemikir ikut merumuskan Pancasila dilambangkan disitu.

“Bung Hatta tidak pernah mempertentangkan Pancasila dengan Islam, Pancasila dengan agama. Memang Pancasila tidak bertentangan Islam, Pancasila tidak bertentangan dengan agama yang manapun,” demikian Presiden Soeharto.

Gapura

Gapura atau pintu gerbang mengawal cungkup makam, pintu gerbang yang punya tata bangunan Minangkabau mengantar ke makam Bung Hatta terbuat dari beton cor bertulang, batu tempel motif ukiran Minang yang dikenal sebagai kucing tidur.

Di sebelah kiri gapura sebelum peziarah memasuki pintu gerbang, terdapat batu prasasti besar dengan berat lima ton diambil dari sebuah desa disekitar Ciawi, Jawa Barat.

Di situ tertulis kata-kata “Meskipun Bung Hatta telah tiada, Bung Hatto akan senantiasa menyinari perjuangan kami,” ungkapan ini adalah kata-kata Presiden Soeharto ketika melepas Jenazah Bung Hatta.

Moerdiono, Sekretaris Kabinet selaku Ketua Direksi/pemimpin Proyek Pembangunan Makam Proklamator, Wakil Presiden pertama dan pendiri negara RI itu melaporkan bahwa dengan seizin Nyonya Rahmi Hatta, maka berdampingan disebelah kiri makam Bung Hatta telah disediakan tempat, jika saatnya nanti Nyonya Rahmi dipanggil menghadap kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tempat yang samajuga tersedia di halaman makam tersebut bagi putera dan puteri serta menantu sertabagi sekretaris pribadi Bung Hatta yakni I Wangsa Widjaja beserta Nyonya. (DTS)

Jakarta, Merdeka

Sumber : MERDEKA (13/08/1982)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VI (1981-1982), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 782-785.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.