KERUGIAN BUMN DEPERIND NAIK AKIBAT APRESIASI YEN[

KERUGIAN BUMN DEPERIND NAIK AKIBAT APRESIASI YEN[1]

Jakarta, Antara

Kerugian yang diderita BUMN- BUMN di bawah Departemen Perindustrian selama 1993mencapai Rp 123,5 miliar, sehingga naik dibanding 1992 sebesar Rp 53 miliar.

Seusai melapor kepada Presiden Soeharto di Bina Graha,Senin ten tang kinerja ke-28 BUMN di lingkungan Deperind , Menperind Tunky Ariwibowo mengatakan kepada pers bahwa ada BUMN yang harus menyediakan dana lebih besar untuk membayar utangnya karena naiknya nilai yen.

Tunky mengatakan pula ada BUMN yang menderita kerugian akibat mesin­ mesinnya yang sudah tua. Kepada Kepala Negara dilaporkan bahwa hasil penjualan BUMN-BUMN itu 1993 mencapai Rp4,8 triliun, serta laba Rp409,4 miliar. Perusahaan yang paling tinggi labanya adalah Pusri sebanyak Rp 120 miliar.

“Jangan banyak-banyak tanyalah,” kata Tunky ketika menolak menjelaskan BUMN-BUMN lain yang menikmati untung besar dan yang rugi.

Bentuk Tim

Menperind mengatakan pula ia telah membentuk tim bersama Departemen Keuangan untuk meningkatkan peranan perusahaan-perusahaan milik pemerintah itu. “Timjuga ditugaskan untuk meningkatkan peranan balai penelitian di lingkungan Departemen Perindustrian sehingga kegiatan mereka harus disesuaikan dengan kepentingan sektor industri dan bukannya departemen,” katanya. Tunky mengatakan pula semua direksi BUMN itu untuk tetap bergerak dalam bisnis intinya/core business dan tidak terjun ke kegiatan yang tidak berkaitan dengan bisnis utamanya itu. Selain masalah kinerja BUMN, Tunky juga melaporkan penyisihan sebagian laba BUMN-BUMN itu untuk membantu pengusaha lemah. Seluruh BUMN diperintahkan menyisihkan satu hingga lima persen labanya untuk membantu pengusaha lemah. Sampai sekarang telah terkumpul dana Rp27,3 miliar, sebanyak Rp21,4 miliar di antaranya sudah disalurkan. (T/ EU02/EU07/21/02/9413:48/RU1/14:14)

Sumber:ANTARA(21/02/1994)

_______________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVI (1994), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal215-216.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.