KEPENTINGAN BERSAMA DIATAS KEPENTINGAN GOLONGAN

KEPENTINGAN BERSAMA DIATAS KEPENTINGAN GOLONGAN[1]

 

Jakarta, Republika

Presiden Soeharto menegaskan setiap keputusan yang diambil organisasi haruslah mempertimbangkan semasak-masaknya kepentingan bersama karena kepentingan bersama di atas kepentingan golongan.

“Kita menganut sikap dasar yang meletakkan kepentingan bersama di atas kepentingan golongan, apalagi kepentingan perseorangan.” tegas Presiden di Istana Negara, Senin ketika membuka Munas Keluarga Besar Kader Pembangunan Indonesia.

Karena itulah, Kepala Negara menegaskan, dalam kehidupan organisasi tidak boleh terjadi ada kelompok yang dengan sewenang-wenang memaksakan kehendaknya terhadap kelompok lainnya.

“Bangsa kita tidak menganut sikap siapa yang kuat dialah yang menang dan kemudian menindas kelompok yang kalah.” kata Presiden yang didampingi Menpen Harmoko dan dihadiri pula oleh Ketua MPR/DPR Wahono serta Ketua DPA Sudomo.

Ketika menekankan arti penting munas, Presiden menyebutkan pertemuan semacam itu sangat penting karena munas merupakan peran kekuasaan tertinggi organisasi itu dan dalam munas diambil keputusan-keputusan mendasar.

“Demokrasi Pancasila yang kita kembangkan lebih mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat. Dalam musyawarah, semua pihak diberikan kesempatan yang sama untuk mengemukakan pandangan dan pendapatnya.” kata Presiden.

Kepala Negara kemudian berbicara,

“Setelah semua pandangan dikemukakan, maka dapatlah dirumuskan kesepakatan bersama yang memuaskan semua pihak, tanpa ada yang merasa dimenangkan atau dikalahkan.”

Kepada sekitar 500 dari 900 peserta munas hingga 26 Juli, diingatkan bahwa

dalam melaksanakan musyawarah pada munas, setiap orang harus mampu mengemukakan pandangannya serta pikirannya denganjemih dan hati yang bersih.

“Dalam kaitan ini, kita harus ingat bahwa keputusan yang kita ambil bukan saja harus kita pertanggungjawabkan di atas dunia inisaja. Sebagai bangsa yang memegang teguh nilai-nilai keagamaan, kita yakin bahwa setiap putusan  harus kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.” kata Presiden.

Kepada para peserta munas, Kepala Negara juga mengatakan akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maka akanmuncul dampak yang menguntungkan atau pun yang tidak menguntungkan.

“Dampak positifnya, dapat kita manfaatkan sebesar­besarnya bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa kita. Di lain pihak, dampak negatifuya dapat kita kurangi sekecil mungkin.” kata Kepala Negara.

Pada kesempatan ini, Kepala Negara mengingatkan bahwa setiap organisasi sosial kemasyarakatan harus melakukan perbuatan-perbuatan nyata bagi rakyat banyak daripada disibukkan oleh urusan-urusan intern organisasi.

“Jangan sampai kita memiliki banyak organisasi yang kegunaannya hanya dirasakan oleh para pemrakarsa dan pengurusnya saja, tetapi dirasakan manfaatnya oleh segenap anggota apalagi masyarakat luas.” tegas Presiden.

Kepala Negara kemudian berkata,

“Segenap jajaran pengurus organisasi kemasyarakatan hendaknya dengan tulus ikhlas bekerja untuk organisasi demi memajukan seluruh organisasinya.”

Sumber : REPUBLIKA (25/06/1996)

___________________________________________________
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 127-128.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.