Kenapa Semua Dibebankan Ke Bapak ?

Palembang, 17 November 1998

Kepada

Yth. Bapak Soeharto Mantan Presiden RI ke-2

di Jakarta

KENAPA SEMUA DIBEBANKAN KE BAPAK? [1]

Mengawali isi surat saya ini, saya berdoa kepada Allah Swt semoga Bapak dan seluruh anggota Keluarga Bapak, selalu dalam keadaan sehat wal’ afiat, serta senantiasa dalam lindungan Allah Swt.

Selanjutnya izinkanlah saya melalui surat ini untuk berdoa, bermunajat dan mohon kepada Allah Swt, untuk Bapak. Semoga Bapak tetap sehat dan sabar dalam menghadapi cobaan khususnya yang dituduhkan kepada Bapak. Semoga Bapak selalu dilindungi Allah dan diberi-Nya kekuatan, ketabahan/kesabaran.

Sungguh besar jasa Bapak terhadap negara dan bangsa tercinta ini. Dari itu saya sedih melihat hujatan, tuduhan dan tuntutan yang ditujukan pada Bapak.

Sungguh tidak adil kalau semua krisis yang melanda kita saat ini penyebabnya karena kepemimpinan Bapak selama ini. Seharusnya mereka bersyukur pada Allah sungguh banyak nikmat Allah yang telah mereka menikmati sampai saat ini. Berkat kepemimpinan Bapak selama 32 tahun.

Bapak H. M. Soeharto yang tercinta inilah suara hati saya, walaupun saya orang kecil bukan politikus namun izinkanlah saya untuk mendoakan Bapak pada Allah Swt. Semoga Allah tidak akan menimpakan beban yang tak sanggup Bapak memikulnya. Semoga keprihatinanku ini diganti Allah dengan kesenangan dan kebahagiaan untuk Bapak dan keluarga.

Akhirnya saya mohon maaf ini ada yang salah dan kepada Allah Swt saya mohon maaf.

Semoga Bapak berkenan untuk membacanya. Sungguh saya maklum betapa sibuk dan berharganya waktu bagi Bapak, namun atas perkenan dan kesediaan Bapak untuk membalas surat ini sungguh merupakan kebanggaan dan kebahagiaan bagi saya sekeluarga.

Demikianlah semoga Allah selalu melindungi Bapak dan keluarga Bapak beserta kita semua. Amin. (DTS)

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Wassalam bil maaf

Hormat saya,

Ahmad Surya

Palembang

[1]       Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 287-288. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.