KENANGAN PERTEMUAN PAK HARTO-MAHASISWA

KENANGAN PERTEMUAN PAK HARTO-MAHASISWA[1]

 

 

Jakarta, Kompas

MARAKNYA aksi unjuk rasa mahasiswa di berbagai perguruan tinggi yang menginginkan adanya reformasi politik dan ekonomi sejauh ini ditanggapi positif oleh berbagai pihak. Aksi mereka yang umumnya berlangsung tertib di dalam kampus diharapkan tidak menjalar ke luar pagar dan menimbulkan anarki atau dalam istilah aparat keamanan, jangan sampai aksi-aksi mereka ditunggangi oleh pihak ketiga yang ingin mengacaukan stabilitas nasional. Untuk itulah, selanjutnya tawaran atau ajakan dialog bagi mahasiswa ditawarkan oleh ABRI. Belakangan, para pengurus organisasi kemahasiswaan dari berbagai perguruan tinggi saat bertemu Komnas HAM, Selasa (24/3), mengatakan menolak berdialog dengan Panglima ABRI ataupun para menteri kabinet. Mereka yakin, dialog seperti itu tidak akan membuahkan hasil. Mereka menyatakan keinginannya untuk berdialog langsung dengan Presiden Soeharto.

Keinginan mahasiswa berdialog dengan pucuk pimpinan nasional tersebut mengingatkan hal serupa, 28 tahun lalu, tahun 1970. Pertemuan generasi muda kalangan kampus dengan Presiden Soeharto pernah terwujud dengan baik.

Saat itu, Pak Harto yang bertekad memberantas korupsi telah menyatakan ‘membuka praktek’ untuk menerima laporan mengenai korupsi setiap hari Sabtu. Karenanya, lebih dari 20 mahasiswa pun bisa leluasa berdiskusi dengan Pak Harto lebih dari dua setengah jam di kediaman Presiden Jl. Cendana Jakarta Pusat. Di antara mahasiswa tampak Mar’ie Muhammad, Akbar Tandjung, Arief Budiman, Jopie Lasut, Didi Sunarwinardi serta Sjahrir. Mereka yang tergabung dalam Komite Anti Korupsi dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahan penyelewengan yang dilakukan oleh Penertiban Keuangan Negara (Pekuneg).

MENGHARUKAN juga melihat-lihat surat kabar lama yang mewartakan pertemuan bersejarah itu. Harian Kompas yang saat itu terbit delapan halaman melaporkannya dalam berita utama, Senin 20 Juli 1970. Sebuah foto besar menggambarkan bagaimana Mar’ie dan Arief Budiman muda tertawa lebar diserbu wartawan usai pertemuan dengan Pak Harto.

Juga disebutkan, menanggapi aksi-aksi mahasiswa yang menyuarakan anti korupsi, Pak Harto menilainya cukup konstruktif dan tidak menghambat pembangunan dan pemilihan umum.

Dalam catatan Arief Budiman soal pertemuan itu di koran yang sama, saat itu Pak Harto bahkan menyuruh ajudannya ke luar. Presiden Republik Indonesia ingin bicara terbuka dengan kami , dari hati ke hati, tanpa menjadi kikuk karena adanya orang ketiga.

“Perasaan saya waktu itu tidak bisa lain kecuali merasa terharu.” kata Arief.

Akankah pertemuan mahasiswa dengan presidennya seperti itu sekarang terwujud(?)

Sumber : KOMPAS (27/03/1998)

__________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 828-829.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.