Kemerosotan Nilai Tukar Rupiah Bersifat Sementara TIDAK ADA “RUSH” DOLAR AS

Kemerosotan Nilai Tukar Rupiah Bersifat Sementara TIDAK ADA “RUSH” DOLAR AS[1]

 

Jakarta, Media Indonesia

Kemerosotan nilai tukar rupiah atas dolar AS yang pekan lalu sempat mencapai 14 poin, diperkirakan tidak berlangsung lama karena kondisi fundamentasi ekonomi Indonesia kuat. Situasi itu sengaja ditiupkan sebagian fund manager di Singapura, memanfaatkan panasnya situasi politik Indonesia akhir-akhir ini, ujar para bankir.

“Turunnya nilai rupiah bersifat sementara. Pelaku ekonomi dalam negeri tak perlu khawatir.” kata Direktur Bank Bali, Agam Napitupulu. Sabtu lalu, disela penanaman tanaman langka di kampus IPB Bogor.

Para pedagang valuta asing di Indonesia yakin kondisi fundamental ekonomi nasional amat kuat. Cadangan devisa mantap, pengendalian moneter berhati-hati dan ekspor cenderung menanjak.

Agam mengkhawatirkan kemungkinan dampak psikologis dari isu yang dikembangkan fund manager asing.

“Karena itu, otoritas moneter dan pedagang valuta di sini hendaknya menghalau isu itu.” ujarnya.

Biasanya, dampak psikologis dari isu turunnya nilai rupiah mendorong masyarakat memborong (rush) dolar AS.

“Seperti kejadian menyusul devaluasi di Meksiko, bila saja otoritas moneter tidak bertindak, bukan tidak mungkin situasi di Indonesia menjadi lain.” Kata Agam.

Hal senada dikemukakan General Manager Bank Bali, Maman Suratman.

“Parafund manager asing sering memanfaatkan situasi politik untuk menggoyang stabilitas moneter kita yang mantap. Isu itu mencuat lagi setelah ribut-ribut PDI dan berita kesehatan Pak Harto.” katanya.

Sementara itu, perdagangan valuta asing dalam beberapa hari terakhir tidak mengalami gejolak. Tidak seperti situasi di Bursa Efek Jakarta, kabar tentang kesehatan Presiden Soeharto tak sedikit pun mendorong pemilik rupiah membeli mata uang asing, terutama dolar AS.

Dibagian valuta asing (valas) Bank Central Asia Cabang Pembantu Bekasi, situasi di booth valas sepi-sepi saja. Dua petugas di situ mengatakan, dalam sebulan terakhir tak ada (nish) pembelian dolarAS dan sejumlah mata uang asing lainnya.

“Kami masih pasang harga yang sama untuk membeli rupiah, yakni Rp.2.310 per dolar. Harga jual Rp.2,345 per dolar.” kata petugas yang tak mau namanya disebut itu.

Situasi serupa ditemukan pula pada pedagang valuta asing Globe di pusat perdagangan Pasar Baru Petugas di perusahaan valas besar ini mengakui kepanikan menjual rupiah dengan mata uang asing boleh dikatakan tak ada.

“Kami tetap jual rupiah dengan harga lama, yakni Rp.2.345 per dolar AS. Harga beli Rp.2.331.” kata petugas disana.

Dia malah balik bertanya, mengapa wartawan sampai bertanya sejauh itu?

Kepada dia, dijelaskan bahwa sakit yang diderita Pak Harto menyebabkan turunnya Indeks Harga Saham dan investor asing menjual rupiah.

“Kami di sini usaha kecil-kecilan. Jadi, orang tenang saja.” Lanjutnya.

Di pedagang valas Gyta, Pasar Baru, transaksi valas normal saja dalam beberapa hari terakhir.

“Kalau di bursa lain orang berspekulasi. Di sini hanya jual beli biasa. Emangnya kenapa sih kalau Presiden sakit?” seorang petugas di situ balik bertanya kepada Media.

Pembelian valas ternyata lebih untuk kebutuhan libur. Fakta ini ditemukan Ayumas Gunung Agung dan Pan Bullion Prima.

“Permintaan yang melonjak justru bukan untuk dolar AS, tapi franc Prancis dan dolar Australia, rata-rata untuk membiayai libur. Maka, kami memperbanyak stok franc dan Dolar AS dibeli untuk cadangan.” kata petugas Ayumas.

Begitu juga di Pan Bullion Puma.

“Orang beli dolar dalam jumlah banyak sejak 1 Juli.” ujar petugas Pan Bullion Prima. Tapi, pembelian itu tidak bisa dikatakan rush. Kalau ditanyakan langsung ke pembeli, kata petugas itu, mereka perlu dolar AS karena ingin berlibur ke AS.

Sumber : MEDIA INDONESIA (08/07/1996 )

___________________________________________________________________
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 340-341.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.