KEMBANGKAN KEHIDUPAN KAMPUS YANG BERCORAK INDONESIA

KEMBANGKAN KEHIDUPAN KAMPUS YANG BERCORAK INDONESIA [1]

 

Jakarta, Berita Buana

Presiden Soeharto menitipkan 3 harapan kepada rektor perguruan tinggi negeri seluruh Indonesia. Pertama, agar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi pertama harus dinilai manfaat baiknya bagi manusia Indonesia sendiri.

Kedua, agar dalam menyusun program pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, hendaknya tampak kaitannya yang jelas dan serasi dengan tahap2 pembangunan kita. Ketiga, agar dalam mengatur tata kehidupan kampus, hendaknya senantiasa diusahakan tampilnya ciri2 kehidupan tunas bangsa yang mampu merobah masa depan, sehingga terwujud Indonesia yang modern, tetapi kemoderenannya itu tetap berwajah Indonesia.

“Jangan kampus kita berkembang menjadi kampus tiruan pola asing semata-mata. Marilah kita kembangkan kehidupan kampus yang khas, yang tampak jelas corak ke-Indonesiaannya,” kata Presiden.

Tiga harapan Kepala Negara yang dititipkan kepada para rektor itu disampaikan oleh Kepala Negara Sabtu siang yang lalu ketika Kepala Negara menerima para rektor universitas/institut negeri seluruh Indonesia di Istana Negara. Hadir dalam pertemuan itu Menteri P dan K Syarif Thayeb.

Pemikiran Ulang

Menyinggung soal demokrasi Pancasila, Presiden mengatakan pertumbuhan demokrasi kita yang berdasarkan Pancasila memang masih kita pupus, tentu agar tumbuh dengan kokoh. Namun dalam memperkokoh demokrasi tadi hendaknya kita tetap memperkuat akar2 yang tumbuh dari bumi Indonesia sendiri.

Unsur-unsur dari luar memang acap kali kita perlukan untuk menambah kekayaan kebudayaan sendiri. Namun apa yang berasal dari luar harus kita saring sebaik­baiknya, jangan sampai meniadakan keaslian sumber hidup kita sendiri.

Menurut Presiden, dunia sendiri kini juga sedang mengadakan pemikiran ulang mengenai berbagai soal asasi yang menyangkut kehidupan manusia dankemanusiaan. Juga yang menyangkut hubungan antara bangsa2.

Gema mengenai keharusan membangun Tata Ekonomi Baru Dunia adalah suatu wujud dari usaha ummat manusia untuk memikirkan ulang tata hubungan ekonomi dunia ke arah yang lebih adil.

Orang juga memikirkan ulang mengenai kebebasan dan tanggungjawab. Dasar2 dan wujud demokrasipun banyak juga diteliti ulang. Bentuk2 pembangunan ekonomi dan pembangunan demokrasi di negara2 berkembang yang berbeda-beda menunjukkan dengan jelas bahwa usaha untuk mencari bentuk yang paling cocok masih jauh dari selesai. (DTS)

Sumber: BERITA BUANA (28/02/1977)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 540-541.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.