KEMAJUAN TEHNOLOGI DAPAT MEROSOTKAN MARTABAT

KEMAJUAN TEHNOLOGI DAPAT MEROSOTKAN MARTABAT [1]

 

Denpasar, Merdeka

Kemajuan teknologi itu dapat acapkali terasa memerosotkan martabat yang kadang-kadang malahan menurunkan derajat manusia hampir sama dengan mesin belaka. Demikian Presiden Suharto mengingatkan ketika membuka Kongres ke-III Himpunan Ilmu Pengetahuan Pasifik pagi ini di Denpasar Bali.

Berhubung dengan itu Presiden mengajak untuk bersama-sama merenungkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi itu yang segera akan sadar, kedua-duanya bukannya tidak membawa persoalan-persoalan yang perlu dipikirkan sedalam­dalamnya.

Kemajuan teknologi itu, lebih-lebih yang digunakan secara semena-mena, menurut Presiden dapat membawa cepat habisnya kekayaan alam yang tidak tergantikan.

“Lebih dari itu,” kata Presiden, ” ia juga menimbulkan akibat samping yang mencemaskan, kemungkinan kecemaran lingkungan dan kecemaran rokhani.”

Selanjutnya dikatakan apabila manusia dan kemanusiaan akhirnya akan menjadi korban dari teknologi yang diciptakannya sendiri, hal itu telah merupakan syarat bagi kita, kita harus berhati-hati dalam memilih dan mengetrapkan teknologi. Tetapi itu tidak berarti kita lalu mentabukan teknologi.

“Persoalannya bagaimana kita mengetrapkan teknologi yang dapat kita abdikan kepada kesejahteraan manusia,” kata Presiden lagi.

Diingatkan pula masalah yang perlu diperhatikan oleh negara-negara yang sedang membangun adalah melakukan pilihan yang tepat atas teknologi dihubungkan dengan masalah-masalah dan kebutuhan pembangunan. Di negara-negara yang sedang membangun persoalan perluasan kesempatan kerja merupakan salah satu masalah pokok. Karena itu pengetrapan teknologi tidak boleh berarti tertutupnya kesempatan untuk memperluas lapangan kerja.

“Tidak ada gunanya kita mengetrapkan teknologi yang tinggi apabila jutaan orang pengangguran tanpa pekerjaan dan tanpa penghasilan. Lebih-lebih tanpa harga diri,” kata Kepala Negara.

Perbedaan Dengan Negara Maju

Dijelaskan, ada perbedaan mendasar dalam pengetrapan teknologi antara negara industri yang telah maju dan negara yang sedang membangun.

Di negara yang maju, dikatakan teknologi modern telah mendatangkan efisiensi yang tinggi dengan menghemat waktu dan tenaga manusia. Karena jenis dan ragam kegiatan masyarakat di negara-negara maju telah demikian kompleks, maka tenaga manusia terasa menjadi terbatas.

Keadaan di negara yang sedang membangun, menurut Presidenjustru sebaliknya Masalah lapangan kerja dan pengangguran justru mempakan masalah sangat besar yang harus ditanggulangi. Karena itu penggunaan teknologi yang semata-mata bertujuan untuk menghemat tenaga manusia bukan saja tidak sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembangunan, malahan sebaliknya dapat mengakibatkan bencana.

Karena itu dipesankannya harus ditetapkan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang tepat dalam pengalihan, pengembangan dan penerapan teknologi untuk pembangunan sesuai dengan kemampuan dan kondisi dalam negeri masing-masing negara. (DTS)

Sumber: MERDEKA (19/07/1977)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 558-559.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.