KEMAJUAN INDUSTRI KOREA SUMBER PENGALAMAN BERHARGA BAGI INDONESIA

KEMAJUAN INDUSTRI KOREA SUMBER PENGALAMAN BERHARGA BAGI INDONESIA

PRESIDEN SOEHARTO

Presiden Soeharto menyatakan keyakinannya bahwa kemajuan-kemajuan industri Republik Korea merupakan sumber pengalaman yang berharga bagi bangsa Indonesia, yang sedang bergerak ke arah pembangunan industri.

"Karena itulah", kata Presiden Soeharto dalam pidato balasan pada jamuan santap malam yang diselenggarakan Presiden Republik Korea Chun Doo Hwan di istana Chong Wa Dae, Seoul, Senin malam, "dalam kunjungan ini saya berbesar hati berkesempatan mengetahui lebih banyak lagi mengenai pengalaman Korea dalam membangun dan mencapai segala kemajuan".

Presiden Soeharto mengatakan, Pemerintah dan rakyat Indonesia dengan penuh perhatian mengikuti hasil kerja keras bangsa Korea yang telah menempatkan bangsa ini dalam kemajuan yang sangat rnengesankan dan mencapai kesejahteraan yang tinggi.

Sebagai sesama negara dari Dunia Ke tiga, kata Presiden Pemerintah dan rakyat Indonesia merasa bangga atas prestasi yang dicapai bangsa Korea.

Presiden Soeharto menyatakan mengikuti dengan penuh perhatian pengalaman serta hasil rakyat Korea dalam melaksanakan ”Saemaul Undong” (Gerakan Pedesaan Biru) di daerah-daerah pedesaan, yang telah mengangkat taraf hidup rakyat banyak.

“usaha-usaha ini mengingatkan saya kepada usaha-usaha pembangunan kami yang juga mencurahkan perhatian yang besar kepada pembangunan pertanian dan pedesaan, yang akan menjadi dasar bagi gerak pembangunan selanjutnya," kata Presiden Soeharto.

Ketika memberikan tan ggapan terhadap gagasan Presiden Chun Doo Hwan utuk menciptakan suatu "Pokji Kukka", yang berarti menciptakan suatu negara yang mendambakan kesejahteraan sosial, Presiden Soeharto menyatakan gagasan ini bergerak ke arah yang sama dengan cita-cita pembangunan bangsa Indonesia yang menuju ke arah terwujudnya masyarakat maju, sejahtera dan berkeadilan sosial berdasarkan kepribadian Indonesia sendiri.

Masalah Terbesar

Mengenai pembangunan masyarakat itu, Presiden berpendapat, dengan ruang lingkup dan tekanan yang mungkin berbeda, pembangunan masyarakat itulah yang merupakan masalah terbesar yang dihadapi umat manusia dewasa ini, khususnya bangsa-bangsa yang sedang membangun.

Lebih dari dua pertiga umat manusia kini sedang bergulat dalam perjuangan besar memerangi keterbelakangan kemiskinan. Tapi keadaan umum dunia dewasa ini belum juga mencerminkan terpusatnya segala perhatian dan usaha terhadap masalah

Di bidang ekonomi dunia masih saja terus mengalami ketidakadilan, yang terasa bertambah pincang karena maju bertambah maju, sebaliknya negara-negara yang sedang membangun seolah-olah makin terkebelakang.

Ketidakadilan ekonomi dunia dan resesi ekonomi yang berkepanjangan itu merupakan harnbatan utama bagi kelancaran pelaksanaan pembangunan, khususnya bagi bangsa-bangsa yang sedang membangun.

Ke dua masalah ini merupakan pula hambatan bagi terwujudnya Tata Ekonomi Dunia Baru yang diidam-idamkan bersama.

Ketika menggambarkan perkembangan keadaan dunia sekarang ini yang penuh dengan persaingan dan perebutan pengaruh antar kekuatan-kekuatan besar yang masih terus berlangsung, Presiden Soeharto menyerukan agar semua negara sadar dan menahan diri serta jangan melakukan tindakan yang menambah kegawatan keadaan yang sudah rumit.

"Semua negara perlu menyadari bahwa kekerasan bukan jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan," kata Presiden Soeharto.

Presiden Soeharto mengatakan, dalam zaman sekarang ini hubungan antara bangsa danperadaban manusia telah tiba pada suatu tingkat yang mengharuskan bahwa tidak ada satu negara, betapapun kuatnya, yang dapat dan boleh memaksakan kehendaknya kepada bangsa lain. Sebaliknya harus diusahakan untuk mengembangkan saling hubungan yang serasi, saling hormat menghormati serta saling memberikan manfaat.

Perluas Bidang Kerja sama

Presiden Soeharto menyatakan keyakinannya Republik Korea dan Indonesia sebagai sesama negara yang berdaulat, kedua negara telah memiliki jawaban terhadap masalah-masalah yang dihadapi bersama itu, baik yang menyangkut pembangunan masyarakat di masing-masing negara, maupun terhadap masalah regional dan internasional.

Jawaban yang akan diberikan mungkin tidak serupa karena prioritas-prioritas nasional di masing-masing negara dapat saja berlainan. Namun Presiden Soeharto ingin para pemimpin dari kedua negara dapat selalu mengambil manfaat dari tukar pikiran dan tukar pengalaman.

Dengan tukar pikiran dan pengalaman itu dapat ditemukan jawaban yang lebih tepat untuk menangani masalah-masalah yang dihadapi kedua negara.

Dalam rangka ini, Presiden Soeharto menilai penting pembicaraan-pembicaraan yang dilakukannya dengan Presiden Chun Doo Hwan dan pemimpin Korea lainnya selama kunjungannya di Republik Korea.

Presiden Soeharto menekankan, sebagai sesama bangsa yang sedang membangun, kedua negara perlu terus bernsaha memperluas bidang-bidang yang mungkin untuk bekerja sama, khususnya di bidang ekonomi dan sosial demi kemanfaatan dan kemajuan rakyat di ke dua negara.

Ke dua negara juga perlu terus bergandengan tangan dalam mengusahakan terciptanya perdamaian dunia yang mantap, sebab tanpa perdamaian pembangunan masyarakat di kedua negara akan selalu terganggu.

Pada awal pidatonya Presiden Soeharto menyatakan amat terkesan akan keramah-tamahan dan sambutan Pemerintah dan rakyat Korea. Demikian pula Presiden Soeharto menyatakan terkesan atas kata-kata yang diucapkan Presiden Chun Doo Hwan dalam pidato sebelumnya.

”Semuanya itu tidak hanya terasa sebagai kehormatan bagi saya, menteri saya dan segenap rombongan yang menyertai saya dalam kunjungan ini, melainkan dirasakan pula oleh seluruh rakyat Indonesia sebagai tanda persahabatan," kata Presiden Soeharto.

Presiden Soeharto menyatakan tujuan kunjungannya ke Republik Korea ini justru untuk mempererat tali persahabatan dan saling pengertian, dan Presiden yakin kunjungan dan tukar pikiran yang dilakukan akan menambah erat persahabatan dan kerja sama antara kedua negara.

Presiden Chun Kagumi Repelita

Presiden Republik Korea, Chun Doo Hwan dalam pidatonya pada jamuan santap malam kenegaraan di istana Chongwadae, Seoul Senin malam yang diselenggarakan untuk menghormati Presiden dan Ibu Tien Soeharto mengatakan, ia kagum atas rencana pembangunan negara dan rakyat di Indonesia.

Presiden Chun yakin hubungan persahabatan antara kedua negara akan terwujud dalam perdamaian dan kesejahteraan di Asia Timur dan pada gilirannya menjadi pokok yang kuat bagi perdamaian dan kesejahteraan untuk wilayah Asia-Pasifik.

Dalam hal ini, kata Presiden Chun, "Saya secara terbuka tulus ikhlas dan sangat bermanfaat telah membicarakan dengan Presiden Soeharto untuk menciptakan zaman Pasifik Besar".

Chun yakin bahwa perlu sekali adanya peningkatan semangat kerja sama dan persahabatan antara negara-negara yang mempunyai ide, cita-cita dan nilai yang sama di dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan ketidakstabilan.

Ia menghormati setinggi-tingginya kegiatan ASEAN untuk menciptakan perdamaian kesejahteraan yang langgeng di Asia Tenggara sampai saat ini. Presiden Chun yakin, semangat kerja sama ASEAN akan tersebar ke seluruh dunia akan memberikan sumbangan ke seluruh umat manusia.

Kunjungan Presiden Soeharto ke Korea, dilukiskan oleh Presiden Chun sebagai satu tonggak sejarah yang besar bagi bertambah eratnya kesetiakawanan antara kedua negara, didasarkan semangat persaudaraan yang saling isi mengisi dalam segala bidang termasuk politik, ekonomi sosial dan budaya dan saling menghormati kedaulatan masing-masing, demikian Chun.

Menurut rencana, Selasa pagi, Presiden Soeharto meninggalkan Seoul menuju Jepang sebagai akhir darikunjungannya ke Korea Selatan sejak 16 Oktober lalu. Presiden Soeharto akan melakukan kunjungan kerja ke negeri Sakura hingga tanggal 22 Oktober. (RA)

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (19/10/1982)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 1000-1003.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.