KEMAJEMUKAN AGAMA BUKAN SUMBER KERAWANAN

KEMAJEMUKAN AGAMA BUKAN SUMBER KERAWANAN[1]

 

Dili, Suara Karya

Presiden Soeharto menegaskan, kemajemukan agama tidak merupakan kerawanan, bahkan merupakan kemajemukan potensi dan kekuatan yang dapat didayagunakan untuk mendorong maju pembangunan. Kebebasan beragama merupakan salah satu hak asasi yang paling mendasar karena langsung berkaitan dengan martabat manusia sebagai pribadi dan sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Masalah yang tidak jemu-jemunya disampaikan Kepala Negara itu ditegaskan kembali ketika bertatap muka dan meresmikan Patung Kristus Raja di bukit Fatukama dan sejumlah proyek senilai Rp 83,69 milyar di Dili, Timor Timur (Timtim), Selasa. Kunjungan Presiden yang ketiga kalinya setelah kunjungan pertama tahun 1978 saat perang masih berkecamuk di Timtim dan kunjungan yang kedua 1988 ketika membuka Munas Pramuka dan meresmikan Gereja Katedral, mendapat sambutan meriah dari masyarakat.

Selama berada di Dili sekitar tiga jam, Presiden dengan senyum khasnya sempat beljabat tangan sebanyak riga kali dengan Uskup Diosis Dili Mgr CaRIos Filipe Imenes Belo SDB (Serikat Salesean Don Bosko). Jabat tangan pertama dilakukan Kepala Negara selesai meresmikan Patung Kristus Raja dan sejumlah proyek. Kedua seusai Presiden menyaksikan visualisasi proyek yang baru saja diresmikan dan ketiga sesudah Presiden bersama Mgr Belo meninjau, Patung Kristus Raja dengan helikopter.

Momen yang sangat menarik itu mendapat bidikan kamera bertubi-tubi dari wartawan dalam dan luar negeri, karena memang sudah ditunggu-tunggu. Untuk mengabadikan peristiwa penting itu sebanyak 17 wartawan asing, baik cetak maupun elektronika mencarter pesawat khusus Jakarta-Dili-Jakarta dengan tarif sekitar Rp 5 juta per orang.

Lima menteri ikut menyertai kunjungan Presiden yaitu Mensesneg Moerdiono, Mendagri, Yogie SM, Menag Tarmizi Taher, Menteri PU Radinal Moechtar dan Menhut Djamaludin Djojohadikusomo serta Pangab Jenderal TNI Feisal Tanjung. Acara yang ditandai dengan pengangkatan Pak Harto sebagai Bapak Integrasi Timtim ini dihadiri Dubes Vatikan Mgr Pietro Sambi, Julius Kardinal Darmaatmadja SY, Uskup Lampung A Henri Soesanto SCJ, Uskup Denpasar Mgr Vitalis Vatikan Djebarus SVD, Uskup Manado Mgr A Suwatan MSC dan Uskup Medan yang diwakili Pastor Paulinus M Simbolon OFM Cap serta Dubes Keliling Lopes da Cruz.

Pada awal sambutannya, Presiden Soeharto menyatakan perasaannya diliputi rasa syukur yang dalam kepada Tuhan YME karena dapat berada kembali di tengah­tengah masyarakat Timtim.

“Rasa syukur saya bercampur dengan perasaan gembira, karena walaupun secara sepintas, saya merasakan dan melihat dari dekat kemajuan­kemajuan besar yang dicapai daerah ini dalam pembangunan.” ucap Presiden.

Dengan Pancasila sebagai dasar negara, menurut Presiden, bangsa Indonesia menikmati hubungan sebaik-baiknya antara negara kebangsaan dengan umat beragama yang menjadi warga negaranya. Sila Ketuhanan YME telah memberikan sifat khas kepada negara kebangsaan. Dengan sila ini, negara tidak memaksa dan tidak akan memaksakan sesuatu agama untuk dipeluk oleh warga negaranya. Negara, lanjut Presiden, menjarnin kemerdekaan setiap penduduk untuk memeluk agama dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Patung Kristus Raja

Dalam kaitan itu, Presiden menyatakan sangat menghargai prakarsa di Timtim yang bagian terbesar penduduknya beragama Katolik. Pembangunan patung ini, menunjukkan bahwa setelah Timtim menjadi bagian dan Indonesia, nilai-nilai yang bersifat sakral dan religius di Timtim terus tumbuh dan berkembang.

“Saya berharap dengan dibangunnya Patung Kristus Raja ini keimanan saudara-saudara yang beragama Katolik akan terus terpelihara, bahkan makin bertambah mendalam dan kukuh.” kata Presiden, disambut tepukan.

Persatuan dan kesatuan bangsa, kata Presiden, tidak akan meniadakan kemajemukan bangsa. Persatuan dan kesatuan bangsa tetap menghormati perbedaan latar belakang sejarah, kebudayaan dan identitas khas rakyat.

Dikatakan, mustahil untuk meniadakan keanekaragaman rakyat. Justru sebaliknya keanekaragaman merupakan sumber dan masukan yang amat kaya untuk mengembangkan kebudayaan nasional.

Sama halnya dengan daerah-daerah lain di Tanah Air, Presiden minta agar dalam zaman pembangunan lahir batin, rakyat Timtim juga menggali, memperkuat dan mengembangkan kebudayaan daerah.

“Itulah sebabnya saya merasa bangga hari ini menerima seperangkat pakaian adat Timtim.” ujarnya.

Menurut Presiden, dengan menganut paham kebangsaan berarti negara menyatu dengan seluruh rakyatnya, tanpa membedakan satu dengan golongan lain. Negara kebangsaan berdiri di atas semua golongan dan perorangan. Wawasan kebangsaan mengandung arti bahwa setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama, teRIepas dari latar belakang suku, agama atau ras asal-usulnya.

Paham kekeluargaan yang dianut negara Indonesia tidak membolehkan diskriminasi dalam bentuk apa pun dan atas dasar apa pun.

“Kita tidak membedakan mayoritas dengan minoritas, apalagi mempertentangkannya. Yang kita kembangkan adalah kerukunan, keserasian, keselarasan dan keseimbangan.” tegas Presiden.

Kesempatan Kerja

Presiden menyatakan tahu bahwa masih banyak masalah yang dihadapi masyarakat Timtim. Salah satu di antaranya kesempatan kerja. Ini adalah bagian dari masalah yang dihadapi bangsa yang sedang membangun, masalah masyarakat yang sedang bergerak maju.

“Masalah ini harus kita atasi dengan terus meningkatkan dan mempeRIuas pembangunan.” ajak Presiden.

Meski masih ada masalah, menurut Presiden, Timtim banyak kemajuan. Apabila pada awal integrasi dahulu, pendapatan per kapita penduduk Timtim hanya Rp 80.000 maka pada tahun 1994 mencapai Rp 600. 000 atau meningkat lebih dari 7 kali lipat. Laju pertumbuhan ekonomi selama Repelita V mencapai lebih dari 10%/tahun, atau lebih tinggi dari laju pertumbuhan ekonomi seluruh Indonesia yang rata-rata mencapai 6,8%/tahun.

Kemajuan pembangunan di bidang pendidikan menunjukkan, pada awal integrasi jumlah SD hanya 47 buah, SMP 2 buah dan 1 SMU dan 1 Sekolah Teknik Menengah. Pada akhir Repelita V jumlahnya mencapai 656 SD, 102 SMP, 35 SMU, 9 Sekolah Menengah Ekonomi Atas dan 9 buah Sekolah Teknik Menengah dan 5 perguruan tinggi. Jumlah jalan raya pada awal integrasi hanya 20 km jalan yang masih diaspal. Pada akhir Repelita V, jumlahnya menjadi lebih dari 100 kali panjangnya sehingga mencapai 2.100 km.

Menemukan Harga Diri

Semua kemajuan itu, dilaporkan Gubernur Timtim Abilio Jose Oserio Soares, merasa telah menemukan kembali harga diri, martabat dan kehormatannya sebagai bangsa bagian integral dari negara RI yang bebas, merdeka dan berdaulat.

Meski terjadi dalam waktu dan peristiwa yang berbeda-beda, kehadiran Presiden menurut Gubernur Timtim, mengandung arti yang sama yaitu menunjukkan kepada semua orang betapa besarnya atensi Presiden kepada rakyat di daerah ini. Hal ini sekaligus dapat memberikan inspirasi dan rasa keyakinan yang semakin tebal bahwa rakyat Timtim tidaklah berjuang sendiri untuk mewujudkan impian dan masa depan yang lebih baik.

Proyek yang diresmikan Presiden yaitu jalan Mota Ain-Dili-Lospalos, jembatan Nunura, jembatan Pierats, jembatan Aiassa, jembatam Lado Selatan dan daerah irigasi Loes. Selesai itu Presiden meyaksikan visualisasi proyek tersebut dan dilanjutkan dengan meninjau patung Kristus Raja.

Sumber : Suara Karya (06/10/1996)

___________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 627-630.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.