KEKUATAN MORAL DI SELURUH DUNIA HARUS BANGKIT UNTUK CEGAH TIMBULNYA PEPERANGAN

KEKUATAN MORAL DI SELURUH DUNIA HARUS BANGKIT UNTUK CEGAH TIMBULNYA PEPERANGAN

Presiden Suharto menegaskan bahwa di seluruh dunia harus bangkit kekuatan moral untuk mencegah kemungkinan timbulnya peperangan, baik perang terbatas dan lebih2 lagi perang dunia yang baru.

Menyampaikan pidato pada upacara pelantikan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Republik Federal Sosialis Yugoslavia merangkap Republik Yunani A.Adenan dan Dubes Luar Biasa Berkuasa Penuh RI untuk Kerajaan Belanda, R.A.Kosasih, di Istana Negara, Kamis pagi kemarin, Presiden lebih lanjut menekankan bahwa untuk mencegah timbulnya perang, maka semua negara. yang besar maupun yang kecil harus menahan diri.

Dan bersamaan dengan itu, menurut Presiden di seluruh dunia juga harus dibangkitkan kekuatan moral untuk melenyapkan bahaya yang sama besarnya ialah keterbelakangan dan kemiskinan, tanpa mengenal lelah sehingga menjadi semangat dalam tata hubungan antara bangsa.

Menurut Presiden, demi keselamatan dan kesejahteraan seluruh umat manusia, maka tidak bisa lain semua negara harus mencari kesejahteraan antara kepentingan nasional masing2. Dan sejarah dunia sekarang ini menunjukkan bahwa melalui jalan peperangan temyata tidak dapat menyelesaikan konflik-konflik kepentingan nasional, baik konflik2 kepentingan ekonomi maupun konflik2 ideologi.

Pengalaman dunia mengajarkan dengan sangat jelas bahwa perang bukan jalan keluar yang benar, dalam menghadapi masalah2 yang dihadapi dunia dewasa ini.

Tugas Dubes Bertambah Penting

Berbicara mengenai peranan dan kekuatan moral, Presiden mengakui bahwa satu2nya alat yang dapat digunakan untuk mencegah timbulnya peperangan.

Menurut Presiden, juga tidak realistis untuk hanya mengandalkan kekuatan dan kemajuan umat manusia. Namun bagaimanapun juga, kekuatan moral itu harus dibina dan dikembangkan tanpa mengenal lelah sehingga menjadi semangat dalam tata hubungan antar bangsa.

Bagi Indonesia, demikian Presiden selanjutnya, kekuatan dan bimbingan moral itu jelas dimiliki dalam Pancasila yang merupakan dasar negara. Berdasarkan Pancasila itulah, kita laksanakan politik luar negeri kita yang bebas aktif.

Dengan bimbingan moral yang ditunjukkan oleh Pancasila itulah Pembukaan Undang2 Dasar 1945 menegaskan bahwa kita ikut melaksanakan ketertiban dunia yang didasarkan pada kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

”Justru untuk membangkitkan kekuatan moral di seluruh dunia itulah, maka saya tekankan disini bahwa tugas para Duta Besar menjadi bertambah penting sekarang ini dan dalam masa2 yang akan datang."

Demikian Presiden, yang selanjutnya mengatakan pula bahwa sesuai dengan GBHN maka, pelaksanaan politik luar negeri kita yang bebas aktif harus diabdikan kepada kepentingan nasional, khususnya kepentingan pembangunan segala bidang.

Tapi ini tidak berarti bahwa politik luar negeri Indonesia tidak diarahkan untuk ikut serta melaksanakan ketertiban dunia seperti yang disebutkan oleh Pembukaan Undang2 Dasar 1945.

Dan apabila pelaksanaan politik luarnegeri Indonesia sekarang ini diarahkan untuk mendukung suksesnya pelaksanaan pembangunan, maka hal itu sama sekali bukan berarti kelemahan. Karena kekuatan politik luar negeri itu justru ditentukan oleh kekuatan di dalam negeri sendiri. Demikian Presiden Soeharto.

Upacara pelantikan dua Duta Besar RI yang baru untuk tiga negara di Eropa itu dihadiri pula oleh Ibu Tien Soeharto, Wakil Presiden Adam Malik, Para Menko dan Menteri2 Kabinet Pembangunan III, Ketua2 Lembaga Tertinggi, PimpinanDPR/MPR dan para pejabat tinggi sipil dan militer lainnya. (DTS)

Jakarta, Berita Buana

Sumber: BERITA BUANA (21/03/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 556-557.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.