Kejamnya Politik

Bekasi, 18 Juni 1998

Kepada

Yth. Bapak Haji. Moh. Soeharto

Di Tempat

KEJAMNYA POLITIK [1]

Dengan rahmat Allah SWT, kami bisa bersilaturahmi dengan Bapak walaupun hanya lewat surat.

Kami kurang seirama dengan issue-issue yang terus beredar di masyarakat karena begitulah memang kejamnya politik. Kami hanya mengharap agar Bapak tetap tabah dan tawakal menghadapi semua cobaan dan fitnahan.

Bapak Haji Moh. Soeharto yang kami cintai, Di saat Bapak menyatakan berhenti dari jabatan Presiden RI hati kami teriris, sempat menangis sedih. Dan manakala Bapak Jenderal Wiranto memberi pernyataan bahwa beliau akan konsisten menjaga dan menjamin keselamatan Bapak Soeharto beserta keluarga, aduh ada rasa plong dan lega di hati kami sekeluarga. Begitupun teman-teman, Ibu-ibu rumah tangga lainnya yang senada dengan kami.

Tanpa kehadiran Bapak sebagai Pemimpin Negara, rasanya kami amat kehilangan. Paling tidak kalau Bapak bisa beristirahat dengan damai dan tenteram mungkin lain masalahnya, justru di saat Bapak menenangkan diri, ada yang menciptakan issue-issue tak bertanggung jawab. Kami selama ini amat salut dan mendukung kebijaksanaan Jenderal Wiranto yang amat tegas dan berwibawa. Semoga pula beliau selalu berhasil mengatasi kerusuhan demi kerusuhan.

Kami pun sebenarnya pengagum Mbak Tutut dari sejak kegiatan Kirab Remaja sampai menjadi Menteri Sosial. Kami amat mengagumi keterampilan, kegesitan serta keluwesan Mbak Tutut baik dalam penampilan maupun kegiatan-kegiatan sosial serta pembangunan jalan Tol. Sebenarnya walaupun Mbak Tutut putri Bapak, bila ditinjau secara pikiran jernih dan positif, tidak salah apabila Bapak mengangkat Mbak Tutut menjadi Menteri Sosial, sebab Mbak Tutut punya alibi kuat menduduki jabatan tersebut.

Ditambah pengalaman yang sudah diterapkan di masyarakat selama mendampingi Bapak. Baru beberapa hari menjabat Menteri Sosial, sumbangan dari berbagai kalangan berdatangan ke Kantor Departemen Sosial.

Bapak Soeharto Tercinta, Kami mengerti, sebenarnya Bapak juga tidak menghendaki jabatan Presiden untuk ke sekian kalinya, karena pernah Bapak tegaskan pada HUT Golkar waktu lalu. Dan sebenarnya kesalahan tidak bisa dibeban­kan kepada Bapak. Justru penilaian kami, pejabat-pejabat itulah yang selama ini kurang berani mengemukakan pendapat atau usulan. Sehingga masyarakat heran kenapa mantan Menteri sekarang berteriak yang berlawanan. Tak heran kalau ada sebagai masyarakat protes atas sikap mantan Menteri yang apriori tersebut.

Bapak H. Moh. Soeharto, kami adalah simpatisan Golkar sejak tahun 1997, sampai saya mendapat Tanda Penghargaan dari DPD Golkar karena ikut Protokol Kampanye di Malang selama I bulan penuh. Dan kegiatan saya waktu itu sebagai penyiar Radio Swasta dan MC/Protokol di Malang sampai akhirnya pindah ke Jakarta, bekerja di Swasta. (DTS)

Wassalam,

Ny. Titiek Supriyanto

Tambun – Bekasi

[1]       Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 641-642. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto menyatakan berhenti dari kursi Kepresidenan. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.