KEHIDUPAN SEHARI-HARI PAK HARTO, ANAK RAKJAT, SIFATNJA LUGU, KETUA RT. JANG AKTIF

KEHIDUPAN SEHARI-HARI PAK HARTO, ANAK RAKJAT, SIFATNJA LUGU, KETUA RT. JANG AKTIF [1]

Djakarta,Berita Yudha

KESEDERHANAAN jang merupakan pembawaan sedjak ketjil, tetap menjadi tjiri dalam kehidupan Pak Harto dan keluarganja. “Manungsa mung sadremo nglakoni” manusia hanja sekedar mendjalankan, apa jang mendjadi ketentuan Tuhan, begitu kata Bu Harto kepada ”Yudha Minggu.” Dan kesederhanaan itulah jang kita temui dirumah kediaman Menteri Panglima Angkatan Darat jang baru ini.

Men Pangad/Kas Koti Maj. Djen Soeharto,jang oleh anak buahnja biasa dipanggil dengan Pak Harto ini, adalah putera dari seorang rakjat biasa; bapak Notoredjo didesa Sedaju, Godean, Jogjakarta. Pak Harto bersaudara 11 orang, dan beliau adalah putra kedua. Masa ketjilnja dilingkungi oleh kehidupan kerakjatan dirumah bibinja di Wurjantoro, Wonogiri. Seperti kebanjakan anak2 Indonesia Pak Harto ketika ketjilnjapun gemar bermain sepakbola. Matjam2 olahraga beliau suka, tetapi sepakbolalahjang paling digemarinja.

26 Desember 1947 Pak Harto menikah. Kemudian petjah peristiwa Madiun disusul perang agresi Belanda jang kedua. Pada clash ke II inilah putri pertama lahir. Bu Harto mengungsi ke Margolasan, dipodjok utara pendjara Wirogunan, Jogja. Ketika itu Pak Harto sedang memimpin gerilja dipinggiran kota, sehingga tak bisa menunggu kelahiran putri sulungnja. Baru setelah berumur 3 bulan, Pak Harto mendapat kesempatan melihat wadjah puterinja ini. Inipun hanja selama satu djam. Pak Harto mengirim pesan kepada Bu Harto, supaja datang bersama putrinja ke keraton. Tempatnja ditentukan, dirumah koki dari Sri Sultan. Setelah Bu Harto berada di tempat itu, barulah Pak Harto dapat menjelinap masuk keraton untuk melihat putri tertjinta itu.

Dan setelah itu, Pak Rarto gak lagi berkesempatan menengok putrinja, sampai Jogja kembali dikuasai Republik. Selama itu Pak Harto hanja mengirimkan kurirnja sadja keapda Bu Harto untuk menjampaikan pesan2. Pernah suatu ketika, kurir Pak Rarto datang. Beberapa saat kemudian beberapa orang serdadu Belanda datang pula memasuki rumah Bu Harto. Serumah mendjadi panik. Untunglah kakak Bu Harto, jaitu Bu Odang (sekarang Nj. Inspektur Djenderal Pol Odang) dapat menemui dan mengalihkan perhatian serdadu2 Belanda itu. Sehingga kurir itu dapat lolos.

Putra pak Harto keseluruhan ada enam orang. Jang kedua Sigit Harto Yudhanto. Putra kedua ini lahir ketika Pak Harto memimpin ekspedisi Brigade Mataram untuk menumpas pemberontakan Andi Azis di Makasar. Putra ke 3, Bambang Tri Hadmodjo. Jang keempat Siti Hadijati Harijati. Putra ke lima lahir ketika Pak Harto mendjabat Panglima Mandala waktu membebaskan Irian Barat, diberi nama Hutomo Mandalaputra. Dan jang terketil, Siti Hutami Adiningsih, bam berumur 14 bulan.

Dalam mendidik putra putrinja Pak Harto dan Bu Harto mengutamakan bekal pengetahuan jang harus dipunjai oleh putra putrinja. Kami orang tuanja, tidak berkesempatan untuk memperoleh pendidikan jang tinggi. Oleh karena itu kami akan memberi kesempatan seluas mungkin kepada anak2 untuk memperoleh pengetahuan sebanjak2nja guna bekal hidup mereka. Demikian Ibu Harto.

Dalam kesibukan se-hari2 Pak Harto tidak mengabaikan kepentingan hidup bertetangga. Selain djabatan2 jang beliau pegang, Pak Harto pun mendjabat Ketua RT 08 RK 14 Menteng. Dalam gerakan2 kebersihan Pak Harto selalu aktip menggerakkan pemuda2 dan penghuni RT dalam lingkungannja. Dengan bersepeda dan hanja berkaos sport beliau berkeliling menginspeksi pelaksanaan “gerakan” kebersihan jang dilaksanakan.

Di waktu2 senggang sebagai rekreasi pak Harto suka berburu dan memantjing ikan di laut. ltulah serba singkat mengenai Pak Harto dan keluarganja. (B) (DTS)

Sumber: BERITA YUDHA (07/11/1965)

[1]Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam  Berita”, Buku I (1965-1967), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, Hal 165-166.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.