KEHIDUPAN PRIBADI PRESIDEN SOEHARTO SEHARI-HARI

KEHIDUPAN PRIBADI PRESIDEN SOEHARTO SEHARI-HARI [1]

 

Jakarta, Kompas

Pada waktu menerima fraksi partai Persatuan Pembangunan hari Sabtu yang lalu, Presiden Soeharto menyatakan andaikata ia dipilih kembali menjadi Presiden, ia tidak ingin lepas dari pengawasan masyarakat. Karena itu kepada wakil2 rakyat di Lembaga Legislatif diminta supaya mengadakan kontrol yang ketat.

Pernyataan Presiden Soeharto itu menunjukkan salah satu sifatnya yang terbuka untuk menerima kritik.

Sifat lainnya yang menonjol sebagai seorang yang berasal dari keluarga petani ialah hidup sederhana, akan tetapi sangat teguh didalam memegang pendirian yang dianggapnya benar.

Tentu saja tidak semua orang memahami sifat2nya itu serta mengenal kehidupannya dari dekat. Sebab itu, tatkala ia berpidato dengan nada agak keras pada waktu meresmikan rumah sakit Pertamina tahun yang lalu, sementara orang menganggap se-olah2 beliau tidak tahan dikritik.

Tidak jarang pula orang menunggu dengan hati berdebar2 supaya Jenderal Soeharto bertindak lebih cepat dari apa yang diperbuatnya. Ini terjadi pada tahun2 permulaan perjoangan orde baru dimana bertubi2 tuntutan dari masyarakat melalui mahasiswa dan pelajar, agar mengambil tindakan keras terhadap almarhum Soekarno bekas Presiden pertama RI yang merupakan perlambang personifikasi dari orde lama.

Tetapi ibarat batu karang yang tabah melawan pukulan air laut dan topan, ia berpegang teguh pada sikap dan pendirian, bahwa perjoangan menegakkan orde baru dan meruntuhkan orde lama harus dilakukan secara konstitusionil.

Jenderal Soeharto berpendapat perjoangan orde baru yg berpijak diatas landasan pelaksanaan konstitusi secara murni akan kehilangan tempat berpijak apabila ia memilih jalan yang singkat tetapi inkonstitusionil. Dalam istilah militer, tindakan semacam itu berarti meninggalkan kedudukan strategis karena terperdaya untuk mencapai kemenangan taktis.

“Dia itu koppig” kata almarhum Soekarno bekas Presiden RI pertama menilai Jenderal Soeharto. Hal ini diucapkan di lapangan Halim pada tanggal 1 Oktober 1965 ketika kepadanya disodorkan nama Soeharto sebagai calon Panglima Angkatan Darat, menggantikan Jenderal Ahmad Yani yg diculik dan kemudian dibunuh secara kejam oleh gerombolan pemberontak Gestapu/PKI.

Dilihat dari sudut pandangan Soekarno mungkin Jenderal Soeharto dicap koppig, yang dalam bahasa Belandanya berarti kepala batu. Begitu pula dari sudut pandangan orang yang tidak menyukainya.

Namun sesungguhnya Jenderal Soeharto bukanlah koppig seperti dianggap Soekarno. Melainkan seorang yang teguh didalam memegang pendiriannya.

Sikapnya yang teguh yang oleh beberapa fihak mungkin dianggap sebagai sikap koppig, terlihat pula dalam sikapnya menghadapi tuntutan2 dan suara2 yang memintanya agar mengganti atau mencopot beberapa Pejabat pemerintah yang tidak disukai, baik oleh karena dianggap gagal atau karena melihat kehidupan pribadinya yg berlebih2an.

Sebagai seorang negarawan, dan temtama mungkin sebagai seorang panglima lapangan, Jenderal Soeharto selalu melihat sesuatu dari segi plus dan minus. Artinya, apakah lebih banyak plusnya dari minusnya apabila ia memegang teguh sesuatu sikap.

Apabila ia berpendapat bahwa plusnya lebih banyak, maka ia akan berpegang teguh pada pendirian tsb. meskipun menghadapi perlawanan yang bagaimanapun besarnya. Adalah satu kebenaran bahwa yang banyak dan besar itu tidak selalu mesti benar.

Dalam hal ini Jenderal Soeharto mungkin dapat sedikit atau banyak disamakan dengan Presiden Nixon dari AS yang mendapat perlawanan hebat dan gencar, bukan saja di Amerika Serikat, tetapi juga dari seluruh dunia, ketika ia memerintahkan meranjau Pelabuhan2 Vietnam Utara dan meningkatkan pengeboman terhadap negara itu.

Dari sudut kepentingan AS dan Vietnam Selatan, kejadian2 berikutnya membuktikan benarnya sikap Nixon, dengan dipaksanya Vietnam Utara kembali kemeja perundingan di Paris dan menyetujui diadakan perobahan atas persetujuan yg telah dicapai sebelumnya.

Tetapi sikap teguh Presiden Soeharto sama sekali tidak berarti bahwa ia menolak kritik atau menolak mengadakan perbaikan2 terhadap kekurangan2. Dari sikap ini dapat dilihat perbedaan antara koppig dengan sikap teguh.

Peniliti yang cermat bahwa Presiden Soeharto pastilah akan melihat bukan tidak mengadakan perobahan2 dan perbaikan atas kekurangan2 yg terdapat dalam aparatur pemerintah dan aparatur negara. Tetapi hal itu dilakukan dengan diam2, tanpa menyolok dan tidak tergesa2.

Jenderal Soeharto tidak suka bertindak tergesa2 sekalipun didorong2 oleh siapapun juga. Filsafah “alon-alon asal kelakon” yang dengan nada ejekan sering diartikan suatu sikap yang negatif adalah merupakan pegangan pada tiap tindakan atau sikapnya.

Tentu saja anggapan yg bernada ejekan tersebut tidak semuanya benar, oleh karena Melayu dan Minangkabau di Sumatera-pun mengenal filsafah yang sama, meskipun dengan kata2 lain, seperti filsafah “biar lambat asal selamat”. Kedua filsafah ini menekankan pada satu hal yang sama, yaitu tercapainya sesuatu yg menjadi tujuan, walaupun alon-alon atau lambat.

Pada pribadi Presiden Soeharto filsafah alon-alon asal kelakon itu berpadu pula dengan sikap teguh memegang strategi dan prinsip perjuangan seperti tercermin dalam perjuangan meruntuhkan orde lama, dengan tetap berpegang teguh pada cara2 konstitusional, meskipun harus melakukan perubahan dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Sifat lain dari Jenderal Soeharto ialah tidak selamanya percaya kepada laporan2 yang disampaikan kepadanya. Karena itu ia sering melakukan mengecekan mengenai segala sesuatunya ke lapangan, guna mengetahui keadaan yang sebenarnya. Disamping itu ia juga tidak bisa dipengaruhi didalam mengambil sesuatu keputusan.

Masa Kecil

Kehidupan masa kanak2 Jenderal Soeharto boleh dikatakan penuh keprihatinan. Beliau tidak mengenyam lingkungan kehidupan rumah tangga yang berbahagia, oleh karena ketika berumur 38 hari ayahnya bapak Noto Karyo alias Kertorejo alias Kerto Sudiro yang bekerja sebagai Mantri Ulu-ulu (pembagi air di Desa) berpisah dengan istrinya (Ibu Presiden Soeharto).

Tindakan ayahnya itu menimbulkan schok yg hebat pada ibu Presiden Soeharto sehingga selama 40 hari beliau menyendiri (nyepi) disuatu tempat yg terpencil untuk memperoleh ketenangan jiwa kembali.

Sejak itu Soeharto yg lahir pada tanggal 8 Juni 1921 di Desa Kemusuk Godean Yogyakarta, diasuh oleh neneknya (nenek kandung dari garis ibu) sampai ia berumur 3 tahun. Sesudah itu ia diasuh oleh ibunya. Tetapi pada waktu Soeharto berumur 8 tahun ia diculik oleh bapaknya dan kemudian menyerahkannya pada adiknya, istri dari Pak Prawirowihardjo, Mantri Tani, Wurnatoro Wonogiri.

Dibawah asuhan pamannya itu Soeharto dapat memperoleh pendidikan umum yang agak lumayan menurut ukuran pribumi pada waktu itu. Mulanya ia masuk Volkschool atau Sekolah Rakyat. Dari sini ke Schakelschool, dan terus ke H.I.S Muhammadiyah. Kecuali itu ia juga diasuh untuk taat beragama.

Kehidupan Sehari2

Lingkungan keluarga peranannya yg begitu taat beragama membekas pada pribadi sampai sekarang. Beliau bangun pagi pada jam 05.00 untuk mengerjakan sholat subuh. Biasanya dilakukan bersama seorang anaknya Bambang.

Makan dilakukan bersama-sama seluruh keluarga di satu meja tanpa seorang pelayan khusus yg melayani. Semuanya dilayani oleh Ibu Tien Soeharto sendiri dan semua lauk-pauk terletak di meja sehingga memudahkan. Pak Harto memakan apa saja, artinya tidak mempunyai pantangan seperti sebahagian orang yg pantang ini itu.

Ruangan makannya kira2 seluas 4 x 6 meter, bersambung dengan ruangan duduk yang luasnya 4 x 4 meter dengan dibatasi oleh rana (bah. Jawa) atau tabir yang mudah dipindah.

Setelah mengerjakan sholat subuh, Pak Harto biasanya terus meneliti dan menanda-tangani surat2 yang telah diajukan pada malam harinya. Kemudian membaca koran sambil menikmati kopi panas yg telah disediakan.

Pada kesempatan ini Pak Harto menerima pamitan dari putra-putri beliau yg akan berangkat ke Sekolah. Kemudian sarapan pagi bersama Ibu Tien sebelum berangkat ke kantor.

Pak Harto meninggalkan rumah untuk mengerjakan tugas sehari-hari di Bina Graha maupun di Istana pukul 08.30 dan pulang ke rumah sekitar jam 14.30. Beliau bekerja mulai hari Senin sampai Sabtu, hari Jum’at Presiden menerima tamu sampai jam 11.00.

Makan siang sering terlambat karena harus menunggu selesainya acara Ibu Tien, sering jam 15.30 baru makan siang. Malam harinya Pak Harto juga masih menerima tamu di kediaman Jalan Cendana. Presiden menerima tamu resmi biasanya diterima di Istana Merdeka, sedangkan tamu2 rutin sering diterima di Bina Graha atau kediaman Jalan Cendana. Begitu juga Ibu Tien, biasanya menerima tamu2, resmi di Istana Merdeka, sedangkan tamu lainnya diterima di kediaman Jalan Cendana.

Kediaman Jalan Cendana No.8 adalah terdiri dari rumah bertingkat satu dilengkapi dengan AC, ruangan bawah sebagaian besar untuk ruangan penerimaan tamu, sedangkan tingkat atas untuk tempat tinggal keluarga Bapak Presiden. Keadaan rumahnya biasa saja, terbuat dari tembok bata dan beton yang dibangun dgn tambal­sulam, dan bukan rumah yang dipersiapkan untuk kediaman seorang Presiden.

Keadaan ruangannya tidak terlalu besar, kalau hujan deras atapnya kelihatan beberapa tempat yang bocor. Sedang aliran listriknya tidak memiliki mesin listrik tersendiri, sehingga tidak jarang mendapat giliran gelap apabila aliran dari PLN sedang mati.

Keadaan ruangan umumnya kurang memadai, seperti ruangan makan mempunyai luas 4 x 6 meter dan bersambung dgn ruangan duduk yang luasnya agak kecilan. Kamar untuk tidur berdampingan dengan kamar putri terkecil Mamik, sedangkan kamar tidur untuk putra-putri yang besar terletak agak jauh kesamping.

Ruangan yang boleh dikatakan paling luas adalah ruangan perpustakaan yang menjadi satu dengan kerja yg seluruhnya seluas 9 x 5 meter. Tempat duduk Presiden berhadapan dengan ruangan untuk tidur. Sebelah kanan kursi tempat duduk Presiden terletak pesawat radio yang selalu dihidupkan.

Pak Harto sangat gemar mendengarkan siaran warta berita, siaran pedesaan untuk para petani, obrolan tukang sado dan penjual gado­-gado. Tepat didepan Presiden duduk terdapat pula pesawat televisi agar dapat mengikuti semua acara televisi.

Berbeda dengan beliau sendiri yg tidak sempat merasakan kasih sayang seorang ayah, anak-anak Pak Harto benar2 mempunyai seorang ayah. Pendidikan dan pelajaran sekolah untuk anak2 sangat beliau perhatikan. Kadang2 Pak Harto masih sempat mengajari berhitung kepada Tommy dan Mamik, disamping untuk mereka juga selalu didatangkan guru yang memberikan les privat. Kalau ada waktu Presiden Soeharto sebagai ayah juga sering bercanda dan kadang2 ikut menari-nari yang kemudian ditertawakan oleh anak2 beliau.

Kalau anak2 akan bepergian harus terlebih dulu meminta izin. Dan semua anak2 beliau selalu mentaati apa yang telah dianjurkan. Sebagai seorang isteri, Ibu Tien Soeharto selalu melaporkan kepada Pak Harto mengenai kegiatan beliau setiap hari.

Ibu Tien Soeharto setiap harinya selalu disibuki oleh acara2 dan tugas sosial kewanitaan, setiap hari Ibu Tien menerima tamu mulai jam 10.00 pagi hingga jam 14.30, tetapi sering juga melebihi waktu yang ditentukan sehingga tidak jarang Ibu Tien menerima tamu sampai jam 15.30. Pada malam harinya kadang2 Ibu Tien juga masih menerima tamu bersama-sama Bapak Presiden apabila ada tamu keluarga atau sahabat.

Bapak Presiden dan Ibu Tien Soeharto juga menghadiri undangan2 pribadi dari famili, sahabat dan pembantu2 beliau seperti pada upacara perkawinan dan terutama pada kematian.

Hobby dan rekreasi Pak Harto ialah main golf tiga kali seminggu, main bowling bersama Ibu Tien dan anak2, kalau cuaca baik Presiden juga gemar mancing di laut. Kalau pergi rekreasi ke Pulau Monyet, ke kebun dan istana Bogor atau Cipanas selalu dilakukan bersama-sama dengan keluarga.

Sebagai anak petani, Pak Harto juga sering berada di kebun untuk mengadakan penelitian dan pengembangan tanaman, seperti pembibitan, persilangan tanaman dan ternak sapi untuk potong.

Hal tersebut sengaja dilakukan sendiri oleh Bapak Presiden, agar beliau dapat membuktikan sendiri hasilnya sebelum dikerjakan oleh orang lain. (DTS)

Sumber: KOMPAS (05/10/1973)

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 333-338.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.