KEGIATAN KEAGAMAAN HARUS JADI ALAT PEMERSATU

Presiden Soeharto Kepada Para Khatib dan Ulama:

KEGIATAN KEAGAMAAN HARUS JADI ALAT PEMERSATU

Ucapan dan tindakan para Ulama dapat memantapkan atau menggoncangkan ketenteraman [1]

 

Jakarta, Angkatan Bersenjata

Presiden Soeharto mengakui bahwa para Ulama dan Khatib adalah unsur penting dan terkemuka dalam masyarakat dan mempunyai peranan dan pengaruh yang tidak kecil dalam pembinaan ummat dan bangsa.

Hal ini dikatakan  oleh Presiden Soeharto kemarin di Istana Negara  ketika menerima para peserta Pekan Orientasi Ulama dan Khatib se-Indonesia yang telah diselenggarakan dari tanggal 6 sampai 12 Desember yang lalu di Jakarta.

Lebih lanjut, para Ulama bersama dengan pejabat Pemerintah adalah soko guru yang mempengaruhi bangun runtuhnya suatu bangsa. “Ini berarti bahwa kedudukan dan fungsi Ulama bukan saja mengandung tanggungjawab moral melainkan juga tanggungjawab sosial yang besar dan luas”. Ucapan dan tindakan para Ulama sedikit atau banyak akan mempengaruhi masyarakat sekelilingnya yang dapat memantapkan dan atau menggoncangkan ketentraman, ketertiban dan keamanan masyarakat. Sebaliknya dapat juga menggairahkan dan melesukan ummat untuk ikut serta dalam pembangunan.

Oleh karena itu Presiden minta kepada Ulama dan Khatib hendaknya Khotbah2 yang disampaikan para Ulama berisi ajaran agama yang dapat menyejukkan hati dan memberikan petunjuk2 serta pedoman bagi masyarakat. Presiden yakin, khotbah yang demikian akan lebih dapat diterima dan bermanfaat bagi masyarakat yang sedang membangun yang sehari2 disibukkan oleh masalah2 yang rumit dan kadang2 mencemaskan hati.

Lebih lanjut dikatakan oleh Presiden bahwa agama itu adalah untuk dunia dan akhirat. Oleh karena itu tidaklah lengkap kalau para Ulama dan Khatib hanya mengetahui ilmu2 dan pengetahuan keagamaan saja. Tetapi harus secara terus menerus memperluas pandangan dan pengetahuannya mengenai masalah2 yang langsung berhubungan dengan kehidupan nyata masyarakat, terutama masalah pokok mengenai kehidupan kenegaraan, pembangunan, dan lain2.

Presiden juga menegaskan bahwa dengan adanya Pekan Orientasi semacam ini “sama sekali tidak dimaksudkan untuk membatasi kegiatan para Ulama atau mengarahkan isi khotbah sesuai dengan kepentingan pemerintah”, tetapi hanyalah merupakan satu sarana bagi para Ulama dan Khatib untuk memperoleh informasi yang selengkap2nya dan setepat2nya tentang usaha pemerintah sekarang melaksanakan keputusan rakyat.

Pada kesempatan itu Presiden juga telah menguraikan kemajuan yang telah dicapai pemerintah dalam melaksanakan pembangunan namun diakui pula masih banyak kekurangan2nya seperti dikatakan “Sungguh telah banyak kemajuan-kemajuan yang kita capai, tapi kita juga tahu banyak kekurangan2 dan keterbatasan yang kita rasakan” tapi kita telah berusaha keras. Kita telah dapat mencapai apa yang dapat kita capai dan kita akan berusaha untuk mencapai yang lebih banyak dan lebih baik. Untuk itu Presiden mengajak untuk dengan tulus mensyukurinya dengan mengutip salah satu ayat Al-Qur’an yang mempunyai arti kira2: “Kalau kamu syukuri yang telah ada pastilah akan ditambahkan untukmu oleh Tuhan, tapi bila kamu mungkiri semua itu maka siksaan Tuhan amatlah pedih”.

Presiden juga minta agar peranan tempat ibadah harus lebih ditingkatkan sehingga benar2 menjadi pusat pembinaan mental dan agama masyarakat kita. Kegiatan keagamaan harus menjadi alat pemersatu yang menarik pemeluk agama masing2 tanpa terpengaruh oleh perbedaan pandangan atau lapangan kehidupan dalam kehidupan se-hari2.

Akhirnya Presiden menekankan kembali pentingnya kesuksesan Pemilihan Umum yang akan datang sebagai salah satu bentuk pembangunan bidang Demokrasi dan menjadi tugas nasional yang harus ditanggung oleh semua rakyat Indonesia. Untuk itu Presiden mengatakan “tugas dan kewajiban saudara-saudara para Ulama dan Khatib jualah untuk turut berusaha mensukseskan pelaksanaan tugas nasional yang penting itu”.

Pekan Orientasi yang diikuti oleh 150 orang peserta dari seluruh Indonesia itu dikatakan oleh Menteri Agama sebagai telah berhasil dengan baik dan hal yang serupa akan diterapkan pula pada tiap Daerah Tk I dan Tk II.

Menjawab pertanyaan wartawan tentang kemungkinan adanya perbedaan pandangan antara pemerintah dengan para Ulama, Menteri Agama mengatakan wajar kalau ada perbedaan itu. Tapi biasanya perbedaan bukan pada hal2 yang prinsipil tapi hanya pada nuansa2 tertentu, dan itu pun tergantung pada masing2 daerah yang berlainan.

Dalam acara ramah tamah antara Presiden dengan para peserta salah seorang peserta dari Ambon, Syariful Ahmad yang menjabat sebagai Ketua Biro Dakwah mesjid AI-Fattah Ambon telah menyampaikan kepada Presiden tentang keadaan masjidnya yang hampir 10 tahun belum selesai. Untuk itu Presiden berjanji akan memperhatikannya dan dalam tahun 1978 akan diselesaikan. Acara ramah tamah diakhiri dengan foto bersama ditangga Istana Merdeka. (DTS)

Sumber : ANGKATAN  BERSENJATA  (14/12/1976)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 195-196.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.