KEBULATAN TEKAD KEPALA2 SUKU/ADAT I.B.

KEBULATAN TEKAD KEPALA2 SUKU/ADAT I.B.[1]

 

Djakarta, Berita Yudha

Sebuah pernjataan kebulatan tekad dari para kepala suku/adat/kampung seluruh Propinsi Irian Barat telah dibatjakan oleh I. Kahar dari Manokwari, salah seorang anggota delegasi kepala2 suku/adat Irbar jang sedang berada di Ibukota, dalam pertemuan ramah-tamah dan perkenalan dengan Presiden Soeharto di Istana Negara Minggu petang.

Isi pernjataan kebulatan tekad tsb. oleh wakil2 dari delapan Kabupaten di seluruh Irian Barat, intinja menegaskan bahwa mereka hanja mengenal satu negara, jaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia jang berwilayah dari Sabang sampai Merauke jg ber UUD ’45 dan ber Pantjasila serta berbendera satu Merah­ Putih.

Djuga ditegaskan dalam pernjataan itu, bahwa mereka akan tetap setia mempertahankan terus keutuhan Negara Kesatuan RI dan tidak hendak memisahkan daerah Irian Barat dari negara Kesatuan itu.Sebagai warganegara Republik Indonesia.

Mereka berkewadjiban untuk ikut mengisi kemerdekaan negara dengan melaksanakan pembangunan diberbagai bidang guna mentjapai tjita2 kita, jaitu masjarakat adil dan makmur.

Dinjatakan, bahwa mereka mendukung penuh dan akan melaksanakan isi amanat/pidato kenegaraan Presiden Soeharto di depan sidang pleno DPR-GR tg. 16 Agustus jang lalu.

Pernjataan kebulatan tekad itu telah ditandatangani oleh wakil2 dari dari daerah2 Kabupaten Sukarnaputra, Kabupaten Teluk Tjendrawasih, Kabupaten Manokwari, Kabupaten Sarong, Kabupaten Fakfak, Kabupaten Merauke, Kabupaten Panjai dan Kabupaten Djajawidjaja.

Dapat ditambahkan bahwa pertemuan ramah tamah dengan Presiden itu, dilangsungkan setelah selesai appel besar Gerakan Pramuka ke-VII didepan Istana Merdeka.

Presiden telah memperkenalkan satu persatu dengan kepala2 suku/adat rakjat Indonesia dari daerah Irian Barat, jg kini sedang berada di Ibukota untuk turut menghadiri perajaan HUT Proklamasi Kemerdekaan ke-23.

Dalam kesempatan ini telah pula dibatjakan sura Keputusan Presiden tentang pemberian lentjana kehormatan berupa Satya Lentjana Wira Karya kepada tiga tokoh putra asal Irian Barat dan enam tokoh bangsa Indonesia lainnja sebagai penghargaan atas djasa2 mereka dalam memberikan dharma-bhaktinja jang besar kepada bangsa dan negara.

Ketiga tokoh putra Irian Barat itu ialah ; Ds. Rumainum (almarhum) kedudukan terachir sebagai Ketua GKI dan tokoh masjarakat di Irbar Eh. Ujo (Almarhum) kedudukan terachir sebagai pedjuang veteran/tokoh masjarakat Irbar; dan Samber, Ketua Gerakan Merah-Putih.

Pemberian Tanda-Mata

Presiden telah menjempatkan lentjana itu kepada Njonja Fie Weroe Rumainum, Putri dari Ds. Rumainum, sedangkan wakil dari kedua tokoh putra Irbar lainnja, jang patut menerima Sataya Lentjana Wira karya pada malam itu berhalangan datang.

Kemudian Presiden Soeharto telah menjerahkan kepada masing2 kepala suku/adat dari wilajah Irian Barat itu tandamata dan tanda perkenalan berupa gong dengan pemukulnja, bendera Merah-Putih dan gambar Presiden Soeharto.

Sebaliknja dari delegasi kepala2 suku/adat Irian Barat ini. Presiden Soeharto telah menerima tandamata berupa anak panah dengan busurnja serta kapak batu.

Presiden Soeharto dalam kata selamat datangnja kepada delegasi kepala2 suku/adat dari Irian Barat itu menjatakan, bahwa semangat proklamasi ternjata masih hidup dan tidak akan pernah padam.

Hal ini terbukti dari banjaknja pernjataan2 dari daerah Irian Barat bahwa mereka adalah bagian dari kesatuan wilajah dan bangsa jang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tidak Perlu Ragu2

Dalam masalah2 chusus jang menjangkut Irian Barat, demikan Presiden, rakjat Irian Barat tidak perlu ragu2. (DTS)

Sumber: BERITA YUDHA (20/8/1968)

 

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku II (1968-1971), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 68-70.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.