KE LUAR NEGERI TERAKHIR BERSAMA PRESIDEN SOEHARTO

KE LUAR NEGERI TERAKHIR BERSAMA PRESIDEN SOEHARTO[1]

 

 

Kairo, Suara karya

Beberapa kali saya mengikuti perjalanan Pak Harto keluar negeri sebagai Presiden dan meliputnya. Namun perjalanan ke Kairo, Mesir pada 9 sampai 15 Mei lalu merupakan perjalanan yang paling menegangkan.

Berbagai situasi yang memanas di dalam negeri serta tuntutan agar Pak Harto turun dari jabatannya sebelum berangkat ke Mesir sudah demikian keras. Banyaknya orang yang jadi menganggur serta kehidupan yang makin berat akibat kenaikan harga BBM demikian mencekam.

Namun ketika itu Pak Harto memutuskan juga untuk menghadiri KTI G-15. Saya ketika itu berdiskusi dengan teman-teman sesama wartawan mengenai keputusan Pak Harto itu. Menurut saya Pak Harto ketika itu memiliki percaya diri yang demikian besar. Ia yakin situasi di dalam negeri akan teratasi dan para pembantunya mampu mengelola pemerintah sesuai garis yang telah ditetapkan Pak Harto. Saya juga menduga ketika itu bahwa Pak Harto ingin menunjukkan kepada masyarakat dan luar negeri, bahwa Pak Harto demikian menguasai Indonesia sehingga ia tidak perlu ragu meski meninggalkan tanah air.

Saya meyakini itu, karena saya pernah punya pengalaman ketika tahun 1991 saat pecah peristiwa 12 November di Dili, Pak Harto juga tidak ragu meninggalkan tanah air untuk perjalanan 23 hari ke Wing dunia. Pada akhirnya situasi di Dili memang teratasi, meski menimbulkan banyak korban.

Namun dalam hati kecil saya ada juga keraguan akan mulusnya perjalanan ke Mesir kali ini. Sebagai jaga-jaga saya membawa paspor hijau (umum), walaupun dalam perjalanan ke luar negeri ini kami rombongan menggunakan paspor biru (dinas). Saya sendiri tidak tahu apa gunanya paspor hijau itu nanti, tetapi saya merasa lebih baik membawanya saja.

Penerbangan ke Kairo mulus-mulus saja dan selama 11 jam penerbangan kami tidak punya informasi apa-apa mengenai keadaan tanah air. Rombongan tiba di Kairo sekitar pukul 15.00 waktu Kairo. Presiden Mubarak ternyata menjemput Pak Harto di bawah tangga pesawat. Ada kebanggaan tersendiri bagi rombongan Indonesia ketika itu karena Mubarak ternyata memberi penghormatan yang tinggi kepada Pak Harto.

Hari Selasa (12/5) siang tersebar kabar di kalangan rombongan Indonesia bahwa terjadi keributan di Universitas Trisakti dan menewaskan 6 mahasiswa. Kami ketika berada di kamar hotel lalu memantau siaran CNN, BBC, ANN dan Nile TV Gambar keributan-keributan di Trisakti itu tersiar hampir setiap jam oleh stasiun-stasiun televisi tersebut. Tayangan-tayangan itu bahkan lebih lengkap menceritakan, daripada kabar yang kami peroleh dari rekan-rekan kami di redaksi di Jakarta.

Rombongan wartawan Indonesia mulai gelisah karena merasa peristiwa Trisakti itu akan menjadi masalah besar kelak. Selama hari Selasa (12/5) itu kami berusaha mencari konfirmasi dan tanggapan dari pejabat Indonesia yang menyertai Pak Harto. Kami hanya bisa menanyakan Menlu Ali Alatas, karena hanya dia yang bisa ditemui. Meski kami tahu penjelasan mengenai keadaan dalam negeri bukan porsinya Ali Alatas, tetapi apa boleh buat. Nyatanya Alatas juga menolak memberi komentar, karena memang bukan porsi dia untuk menjawab.

Sampai Selasa malam, wartawan Indonesia selalu dikejar-kejar wartawan dari negara lain. Mereka minta penjelasan bagaimana keadaan di Indonesia akhir-akhir ini sampai peristiwa Trisakti pecah.

Rikuh juga jadinya ketika dijadikan sumber berita. Kami juga takut kalau-kalau informasi dari kami ini kelak bakal menyulitkan kami sendiri. Saya sendiri sempat diajak wartawan dari India. Ia hanya minta gambaran situasi umum saat krisis.

Saya menyadari sebagai wartawan memang informasi latar belakang sangat penting. Saya sebetulnya ingin bercerita apa adanya, tetapi saya juga ragu apa tindakan saya ini kelak bakal menyulitkan saya apa tidak.

Jalan tengah saya ambil, saya mau bercerita mengenai situasi umum di Indonesia, tetapi saya minta dia tidak menjadikan informasi ini sebagai satu-satunya bahan berita. Termenung-menung juga dia ketika saya ceritakan betapa sulitnya sekarang orang Indonesia. Nilai duitnya tinggal seperempat, gajinya dikurangi bahkan banyak yang harus berhenti bekerja. Saya ajak dia datang ke Indonesia dan saya katakan bahwa ia akan menjadi orang kaya dengan dolar yang dimiliki.

Rabu, pecah peristiwa kerusuhan, pembakaran dan penjarahan, namun masih sebatas di sekitar jalan Daan Mogot, Jakarta. Kami wartawan Indonesia menyaksikan tayangan kerusuhan itu dari stasiun TV di Kairo.

Perhatian kami tidak lagi tertuju kepada KTT G-15 yang kami rasa sudah tidak ada lagi gunanya bagi Indonesia pada waktu itu, dibanding mengatasi kerusuhan.

Mahasiswa Indonesia di Kairo sejak awal kami berada di ibukota Mesir itu, sudah berusaha menemui kami. Mereka menyatakan sikap tidak mau bertemu Pak Harto baik secara pribadi, maupun secara kelembagaan. Kami waktu itu merasa lucu atas sikap mahasiswa RI di Mesir itu. Sebab di Indonesia rekan-rekannya gigih ingin dialog dengan Pak Harto, kok mereka yang di Mesir malah bersikap sebaliknya.

Memang, Pak Harto dijadwalkan bertemu dengan masyarakat Indonesia di Mesir, saya pikir disitu harusnya mahasiswa tampil. Sejak meletusnya peristiwa kerusuhan pada Rabu itu, acara Presiden Soeharto mulai berubah. Hampir semua acara dipercepat, bahkan acara penandatanganan kerja sama yang seharusnya ditandatangani pada Jumat pagi, kemudian dilakukan pada Rabu malam sekitar pukul 21.00.

Rabu malam itu juga semua wartawan rombongan diberitahu bahwa kepulangan ke tanah air dipercepat. Koper yang ditempatkan di bagasi pesawat sudah diangkut pada pukul 08 pagi pada hari Kamis. Wartawan harus sudah check out dari hotel pada pukul 9 pagi hari Kamis.

Anehnya tidak diberitahu kapan kami harus bertolak kembali ke tanah air. Dari pukul 9 sampai 12 siang, Kamis semua wartawan dan rombongan di stand by kan dari hotel di tempat Pak Harto menginap. Sementara kabar dari tanah air makin gawat, karena kerusuhan dan penjarahan meluas ke wilayah Jabotabek.

Pukul 12 siang kami diangkut langsung ke pesawat khusus Garuda MD-11. Sampai duduk di pesawat, kami tidak tahu ke mana tujuan penerbangan ini. Tidak ada satu pun orang yang dapat ditanyai. Suasana demikian mencekam, sehingga kami juga maklum akhirnya.

Saya menduga kalaupun mendarat di Indonesia pasti pada pagi buta, saat orang sudah kelelahan. Benar juga kami mendarat pada pukul 04.00 WIB, Jumat.

Setiba di Halim Internasional Airport, masing-masing dari kami menghubungi rumahnya.

Mencemaskan, yang disarankan, kami harus tetap di Halim karena situasi sangat tidak aman.

“Apa yang harus kita lakukan.” tanya saya, kepada teman-teman.

Sialnya, tidak ada yang bisa menjawab.

Semuanya berkata,

“Tidak tahu.”

Taksi tidak ada, angkutan apapun tidak ada di Halim. Apa kami harus jalan kaki sambil menyeret koper seperti menyeret kambing pulang ke rumah. Ah tragisnya. Untunglah seorang teman fotografer datang tergopoh-gopoh karena terlambat.

“Ah saya sial, ban saya pecah di tengah jalan, sekarang ban serep nya juga kurang angin.” kata dia.

“Ah untung sebetulnya, karena kami semua bisa numpang paling tidak untuk mencari taksi.” kata saya menghibur.

Taksi kemudian memang ditemukan. Sebenarnya pengemudinya tidak berani mengangkut kami, tetapi dia tidak punya pilihan karena setelah ia beristirahat di sekitar Halim sejak pukul 15.00 Kamis, kini duitnya habis buat makan. Saya tawarkan bahwa saya banyak tahu jalan alternatif melalui kampung-kampung untuk menghindarkan tempat-tempat rawan.

Setiba di rumah dalam keadaan selamat, saya di ejek oleh tetangga.

“Pulangnya kok kayak maling.” kata mereka. (Agustianto)

Sumber : SUARA KARYA (22/05/1998)

________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 519-521.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.