KASUM ABRI : ISTILAH “GEBUK” HARUS DIKAITKAN DENGAN HUKUM

KASUM ABRI : ISTILAH “GEBUK” HARUS DIKAITKAN DENGAN HUKUM[1]

 

Jakarta, Antara

Kasum ABRI Letjen TNI Soeyono menyatakan, penggunaan istilah “gebuk” jangan diartikan sacara harfiah tetapi harus dikaitkan dengan tindakan tegas sesuai aturan yang ada guna menghindari aksi kekerasan bersenjata dan jatuhnya korban dalam menangani aksi kerusuhan.

“Yang jelas istilah gebuk harus dikaitkan dengan tindakan tegas sesuai aturan yang ada. Gebuk hendaknya tidak diartikan sebagai menghantam seseorang dengan kayu besar dari belakang. Kita harus mencari dan menggunakan istilah tersebut secara tepat, baik dan benar.” kata Soeyono di Tanjungpriok, Jakarta, Kamis.

Pemyataan Kasum tersebut dilontarkan berkaitan dengan penggunaan istilah gebuk dalam penanganan aksi unjuk rasa oleh aparat keamanan. Ia menjelaskan, penggunaan istilah “gebuk” dimaksudkan sebagai upaya menghindari pemakaian istilah “dipopor” yang sering dikaitkan dengan kekerasan senjata oleh para prajurit yang memungkinkan jatuhnya korban.

Menurut dia, latar belakang penggunaan istilah tersebut semata-mata demi alasan kemanusiaan dan semangat persaudaraan  di antara sesama warga negara.

“Istilah gebuk yang saya maksudkan sebetulnya pelunakan dari istilah dipopor yang erat kaitannya dengan penggunaan senjata.” katanya.

Soeyono kemudian balik bertanya kepada wartawan apa punya istilah yang tepat untuk tugas prajurit dalam mengamankan aksi kekerasan.

“Apa kalian punya istilah lain yang lebih tepat. Gebuk itu kan kita pakai karena para prajuritnya kita perlengkapi dengan rotan bukan senjata. Jadi menurut saya itu yang tepat.” kata mantan ajudan Presiden Soeharto itu.

Ia menambahkan, para prajurit yang sekarang diperlengkapi rotan juga diberi pengarahan bahwa yang mereka hadapi dalam suatu kerusuhan adalah teman, saudara dan bangsa sendiri.

“Selain itu, dimaksudkan agar anak-anak (prajurit-red) tidak terpancing menggunakan kereta api yang bisa menimbulkan korban jiwa.” katanya.

Sumber : ANTARA (12/07/1996)

___________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 604-605.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.