KALAU TAK HATI-HATI, POLITIK BEBAS AKTIF BISA TERJEBAK

Presiden Mengingatkan :

KALAU TAK HATI-HATI, POLITIK BEBAS AKTIF BISA TERJEBAK

Presiden Soeharto mengingatkan harus disadari melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif tidak mudah, karena apabila kita tidak hati-hati dalam mengemudikannya, secara sadar atau tidak, mungkin terjebak dalam siasat kepentingan lain yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan nasional.

Kepala Negara yang hari ini melantik lima duta besar di Indonesia. Negara minta agar mereka tidak hanya melaksanakan diplomasi rutin, tetapi diplomasi perjuangan.

Kelima duta besar yang dilantik itu adalah Mayor Jenderal Kaharuddin Nasution untuk Korea Selatan, Letnan Jenderal Hasnan Habib untuk Thailand, Brigadir Jenderal Susidarto untuk Rumania, Mayor Jenderal Soempono Bayuadi untuk Negeri Belanda dan Laksamana Madya Syamsul Bahri untuk India, Mereka masing-masing menggantikan Letnan Jenderal Sarwo Eddie, Letnan Jenderal Charis Suhud, Mayor Jenderal Pol. Soekahar, Letnan Jenderal Sutopo Juwono dan Letnan Jenderal Soegih Arto.

Diingatkan oleh Presiden, dunia penuh dengan berbagai benih ketegangan dan konflik, penuh dengan lalu lalangnya kepentingan demikian banyak bangsa sehingga tidak terhindar adanya benturan-benturan, tidak sepi dari saling berebutan pengaruh diantara kekuatan-kekuatan besar.

Harus disadari bahwa politik luar negeri tidak lain adalah gerak keluar dari kepentingan nasional. Semua politik luar negeri mempunyai watak yang demikian.

Presiden menegaskan kita tidak pernah ragu-ragu mengenai arahyang kita tempuh dalam mengemudikan politik luar negeri, dan juga tidak bergeser sedikitpun dari arah yang kita sudah kita tetapkan itu.

Presiden mengatakan lagi, khusus untuk meningkatkan sumber dana luar negeri, disamping harus dapat meningkatkan produksi barang-barang yang dapat dipasarkan diluar negeri bersama dengan itu harus dicari perluasan pasar-pasar baru, hingga dapat memperluas perdagangan hasil produksi kita.

“Tentu saja ini merupakan tantangan yang tidak ringan, tetapi kita memang tidak menyerah kepada tantangan itu”, kata Presiden.

Inilah merupakan tugas khusus yang dimintaKepalaNegara yang dilantiknya siang itu, yang juga merupakan tugas-tugas duta besar lainnya.

“Untuk itu jelas diperlukan kelincahan gerak para Duta Besar”, tambah Presiden. Tugas duta besar, kata Presiden, adalah melaksanakan diplomasi perjuangan terutama untuk aspirasi, cita-cita dan kepentingan nasional, bukanlah untuk gagah gagahan atau radikal-radikalan.

Diplomasi perjuangan mengharuskan diplomat kita tidak hanya mengikatkan diri pada kebiasaan-kebiasaan resmi dan keprotokolan saja, melainkan harus menemukan dan mengembangkan cara-cara lain yang efektip, kata Presiden. (DTS)

Jakarta, Merdeka

Sumber: MERDEKA (13/09/1978)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 713-714.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.