KALAU SAJA PENONTON SPORTIF DAN JAKARTA TIDAK MACET

KALAU SAJA PENONTON SPORTIF DAN JAKARTA TIDAK MACET[1]

 

Jakarta, Antara

Penyelenggaraan SEA Games XIX di Jakarta yang berakhir Minggu sejak 11 Oktober lalu, dinilai bagus, kendati ada kekurangan di sana-sini.

“Soal serius yang kita alami selama SEAG XIX ini adalah kemacetan lalu-lintas Jakarta,” kata pebola basket putri Vietnam Nguyen Thie Kieu Oanh, Minggu.

Sementara itu, pelatih karate Filipina, Lay David, mengatakan, kekurangan dalam penyelenggaraan SEA Games kali ini adalah kekurangan sportifan pendukung tuan rumah, sehingga sangat merugikan atlet negara lain.

“Kepemimpinan wasit, khususnya dalam cabang karate kurang adil,” katanya.

Masalah kemacetan lalu lintas dan kekurangan sportifan pendukung tuan rumah, menjadi ganjalan utama dalam SEA Games ini. Sejumlah atlet mepet datang ke tempat pertandingan dan lamanya waktu yang diperlukan menuju venues banyak dialami para atlet.

Penonton yang tidak tertib juga hampir setiap saat terlihat. Di lapangan tenis yang seharusnya penonton hanya boleh bertepuk sedikit setelah bola mati sehingga tidak mengganggu konsentrasi pemain, pendukung tuan rumah tampil seperti suporter sepakbola yang bertepuk dan berteriak sepanjang pertandingan.

Unggulan pertama Tamarine Tanasugarn dari Thailand berkali-kali mengajukan protes sebelum ia dikalahkan Wukirasih Sawondari di final tunggal putri.

“Pelayanan petugas penyelenggaraan SEA Games yang bagus tidak diimbangi dengan penonton yang tertib. Para penonton terlalu ribut dan kadang mengganggu,” kata Kieu Oanh. “Mudah-mudahan penyelenggaraan di Brunei lebih baik,” kata David.

Menpora Hayono Isman menilai penyelenggaraan SEA Games XIX telah memenuhi amanat Presiden Soeharto untuk meraih dwi sukses, yakni sukses sebagai tuan rumah dan sukses dalam prestasi.

“Penyelenggaraan berhasil meski banyak kendala karena situasi ekonomi yang sulit seperti ini,” katanya. Menurut dia, upacara pembukaan dan penutupan berlangsung sederhana namun menarik.

Ketua kontingen Brunei Darussalam, Datuk Matusin, mengaku terkesan atas penyelenggaraan SEA Games XIX ini.

“Kami perlu belajar dari penyelenggaraan SEA Games ini untuk pelaksanaan SEA Games XIX,” katanya. Brunei akan menjadi tuan rumah SEA Games dua tahun mendatang.

Meriahnya acara pembukaan dan penutupan mengundang Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman yang datang ke Jakarta untuk mempelajari bagaimana menyelenggarakan pesta olahraga. Sementara sejumlah atlet dan ofisial lain, seperti Sekjen Federasi Karatedo dan pelatih karate tim Thailand Ronnaphob Sattabongkot, pelatih silat Brunei Darussallam Haji Faudillah dan atlet bola voli Vietnam Nguyen Van Hoa serta atlet silat Brunei Haji Abdullah, mengatakan penyelenggaraan SEA Games kali ini cukup profesional dan tidak ada kekurangan yang serius.

“Soal makanan memang sempat satu-dua kali kurang cocok, mungkin karena selera yang berbeda, tetapi tidak terlalu menganggu,” kata Kieu Oanh.

Sementara itu, pelatih tim karate Thailand, Ronnaphob Sattabongkot, mengeluh soal seringnya pindah hotel tempatnya menginap.

Namun ia menambahkan bahwa meskipun dirinya sempat beberapa kali harus pindah penginapan, pelayanan yang diberikan kepada atlet dan ofisial kontingen negara lain sangat memuaskan.

“Panitia telah bekerja keras untuk memuaskan para tamu, termasuk tim kami. Terima kasih atas pelayanan yang begitu baik,” katanya.

Nguyen Thie Kieu Oanh mengungkapkan acara pembukaan SEA Games yang berkesan di hatinya. Sedangkan mengenai penutupan, ia juga menganggap bagus sehingga dirinya sempat tidak sabar menunggu acara yang disuguhkan pada penutupan.

Ia mengomentari mengenai acara pembukaan SEA Games yang dianggapnya terlalu lama, tiga jam, padahal jika di Thailand acara seperti itu bisa dua jam. Meskipun terlalu lama, tetapi materi yang disuguhkan dinilai baik, begitu juga dengan acara penutupan.

Kesan khusus yang dirasakan Ronnaphob, yakni terhadap lagu-lagu Indonesia yang disuguhkan saat pembukaan maupun penutupan. Menurut Haji Abdullah dan Faudillah, ditinjau dari segi lingkungan alam dan sosial, mengikuti SEA Games di Jakarta tak jauh beda dengan mengikuti sebuah kegiatan olahraga di negerinya.

“Indonesia dan Brunei banyak kesamaan dan merupakan negeri serumpun, kami merasa terkesan di sini,” kata Abdullah.

Mengenai jalannya pertandingan selama mereka di Jakarta, keduanya menyatakan tidak ada masalah berarti dan kalaupun ada tidak terlalu serius.

Ketika ditanyakan mengenai penilaiannya terhadap Indonesia yang mengumpulkan medali emas terbanyak, para atlet dan ofisial negara lain itu menyatakan, Indonesia memang pantas menjadi pengumpul medali terbanyak.

“Atlet Indonesia memang pantas berprestasi. Mereka mempersiapkan diri sebaik mungkin, mereka hebat. Kami pantas belajar dari mereka,” kata Faudillah.

“Indonesia pantas menjadi juara umum karena memang banyak atlet yang memiliki keunggulan. Di bawah Indonesia, Thailand, lalu Malaysia dan Filipina,” kata Ronnaphob.

Kesan ABG

Sementara itu, kalangan remaja yang lebih sering dijuluki kalangan “Anak Baru Gede” (ABG), menyatakan kegembiraan mereka dengan digelarnya pesta itu.

“SEA Games? Wah … sangat oke, kita bisa ketemu banyak atlet terkenal,” kata siswa SMU 20, Irma, yang melihat acara penutupan bersama rekannya, Kristia dan Ike usai berfoto bersama dengan Ricky A Subagja.

Kristia mendapat tanda tangan Ricky di lengan kaos yang dikenakannya, sementara Ike di topi. Bagi kalangan pedagang kecil dan asongan, SEAG XIX membawa kegembiraan karena barang dagangan jadi laris terjual.

Pedagang minuman tradisional legen, Parmin, asal Jawa Tengah, mengaku dagangannya ludes tidak lebih dari satu jam.

(T.TimANTARA/OK0 3/DN02/RS01/19/10/97 23: 18/EU03)

Sumber: ANTARA (02/11/1997)

________________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 636-639.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.