KALAU MPR MENILAI ADA YANG KURANG BAlK, SAYA YANG BERTANGGUNG JAWAB

KALAU MPR MENILAI ADA YANG KURANG BAlK, SAYA YANG BERTANGGUNG JAWAB

Presiden dalam Sidang Terakhir Kabinet Pembangunan III :

Seraya mengucapkan terima kasih kepada para menteri Kabinet Pembangunan III, Presiden Soeharto menilai sebagai Mandataris MPR ia bersama para pembantunya itu telah melaksanakan tugas-tugas yang telah ditetapkan dengan sebaik-baiknya. Namun kalau para wakil rakyat di MPR dalam menanggapi laporan pertanggung jawabannya nanti menunjuk hal-hal yang tidak memuaskan, maka menurut Presiden seluruhnya akan menjadi tanggung jawabnya pribadi.

"Kalau nantinya penilaian Majelis Permusyawaratan Rakyat maupun dari rakyat secara umumnya ada hal-hal yang kurang baik, semata-mata keseluruhannya itu menjadi tanggung jawab saya. Semuanya akan saya terima dengan segala senang hati. Karena memang sesuai dengan konstitusi yang bertanggung jawab adalah Presiden/ Mandataris."

Presiden Soeharto mengemukakan hal itu ketika memimpin sidang paripurna Kabinet Pembangunan III di Istana Merdeka kemarin. Hadir pula Wakil Presiden Adam Malik, Ketua DPA Idham Chalid, Ketua Mahkamah Agung Mudjono SH serta Ketua Bepeka Umar Wirahadikusumah.

Tidak Mengecewakan

Laporan pertanggung jawaban Presiden Soeharto sebagai Mandataris akan disampaikan kepada Sidang Umum MPR yang akan dimulai hari ini. Menurut Kepala Negara, semua laporan telah disiapkan.

Terlepas dari bagaimana nanti penilaian MPR, akan tetapi sebagai manusia yang selalu mendasarkan diri pada bimbingan Tuhan Yang Maha Kuasa,

"maka tidak berkelebihan bilamana kita pun harus atau wajib mensyukuri segala sesuatu yang telah kita kerjakan dan kita hasilkan."

"Menurut penilaian saya sendiri, apa yang kita lakukan, tidak mengecewakan bagi kita yang melaksanakan, dan mudah-mudahan pula bagi rakyat secara keseluruhannya, juga bagi wakil-wakil rakyat," kata Kepala Negara.

Dikemukakan, kalau dilihat atau diukur dari GBHN dan segala Ketetapan MPR yang kemudian dijabarkan dalam Repelita, pada umumnya sasaran yang telah ditentukan tercapai. Bahkan banyak yang melebihi sasaran.

"Ini semuanya tentu sangat menggembirakan kita semuanya. Dan mau tidak mau bagi saya pun meyakini bahwa segala hasil itu karenajerih-payah kita semuanya, dari saudara-saudara sekalian, dan dengan bantuan sepenuhnya aparat-aparat yang membantu saudara-saudara," kata Presiden kepada para menteri yang hadir. Sehubungan dengan itu Kepala Negara menyampaikan rasa terima kasihnya.

"Wajib bagi saya untuk menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada segenap anggota kabinet, termasuk para aparatur negara secara keseluruhannya yang telah memberikan sumbangan yang tidak kecil, sehingga segala sesuatu yang kita rencanakan dapat berjalan dengan baik. Kalau belum dikatakan berhasil baik, setidak-tidaknya kita bisa menyampaikan ukuran tidak mengecewakan bagi kita yang melaksanakan maupun bagi rakyat, terlepas dari bagaimana nantinya penilaian para wakil rakyat sendiri," ujar Presiden Soeharto.

Selain itu, menurut Kepala Negara, berhasilnya pelaksanaan tugas dan kepercayaan yang diberikan oleb MPR kepadanya dengan bantuan para menteri Kabinet Pembangunan III, tentu juga akan digunakan sebagai landasan yang kuat untuk melaksanakan pembangunan berikutnya.

"Kalau nantinya penilaian MPR maupun rakyat secara umumnya ada hal-hal yang kurang baik, semata-mata keseluruhannya itu menjadi tanggung jawab saya. Karena mungkin kekurangan kemampuan saya dalam memimpin Saudara sekalian," kata Presiden Soeharto.

Dalam hubungan Kepala Negara minta kepada para menteri untuk tidak pedu merasa turut bertanggung jawab atau risau kalau ada penilaian yang kurang memuaskan dan lain sebagainya.

Tidak Menyulitkan

Presiden selanjutnya minta kepada para menteri, agar mulai dari saat ia menyampaikan pertanggung jawaban di depan Sidang Umum MPR Selasa pagi ini sampai pemilihan presiden baru oleh MPR, hendaknya tidak membuat kebijaksanaan yang sifatnya prinsipiil yang bisa membawa akibat menyulitkan pemerintahan yang baru nanti. Menurut Presiden Soeharto, ini harus diusahakan agar menjadi kebiasaan.

Dikatakan, walaupun tidak mengambil keputusan yang prinsipiil, bukan berarti mulai tanggal 1 Maret kabinet menjadi bubar sama sekali.

"Tidak…! Kita tetap melaksanakan tugas-tugas rutin sampai presiden/mandataris yang baru membentuk kabinetnya".

Karena itu, menurut Kepala Negara, secara konstitusional, terlepas dari seorang menteri masih akan duduk dalam kabinet atau tidak, "tetapi kewajiban kita sebagai pejabat sekarang adalah mempersiapkan catatan-catatan yang mungkin akan sangat berharga bagi kabinet yang baru. Dengan demikian kita akan bisa mewariskan tata­ cara kerja yang menjamin kelangsungan dan keutuhan kabinet yang baru," ujar Presiden.

Menurut Kepala Negara, bagaimana pun juga kecilnya Kabinet Pembangunan Ill, namun dalam perjuangan untuk mengisi kemerdekaan telah turut membuat sejarah perjuangan.

"Kita mengisi kemerdekaan dengan melaksanakan pembangunan, melaksanakan GBHN yang dipercayakan kepada Presiden/Mandataris. Sumbangsih yang telah kita berikan, bagaimana pun juga penilaian akan hasilnya, tidak mungkin dihapuskan dari sejarah perjuangan kita." kata Presiden.

Sidang Istimewa

Presiden Soeharto menyebutkan sidang kabinet paripurna kemarin sebagai sidang istimewa. Pertama, karena tempatnya kali ini di lstana Merdeka. Biasanya di gedung Sekretaris Kabinet atau di Bina Graha.

Kedua, tidak seperti biasanya membicarakan masalah ekonomi atau politik yang pelik, tapi untuk mempersiapkan diri bagi pertanggung jawaban Sidang Umum MPR. Ke tiga, merupakan sidang terakhir Kabinet Pembangunan III, dan ke empat, merupakan sidang yang paling pendek dan paling singkat.

Sidang kabinet paripurna kemarin, memang merupakan sidang paling singkat, hanya 25 menit. Bagi para wartawan sidang ini juga merupakan sidang istimewa.

Tidak saja boleh melihat raut muka para menteri menjelang masa-masa akhir tugas mereka, tetapi juga karena boleh hadir dan mendengarkan sidang.

Kalau dalam sidang-sidang sebelumnya para menteri serta pejabat lembaga tertinggi negara hanya mengenakan pakaian kerja sehari-hari, maka kali ini semua berjas lengkap.

Sudah menjadi kebiasaannya, Menteri Pertambangan dan Energi Soebroto mengenakan dasi kupu-kupu. Tapi kali ini wartawan merobah nama dasinya menjadi "dasi OPEC".

Meskipun semuanya berkomentar "biasa-biasa saja", tapi tidak jarang pula yang kelihatan "tegang". Duduk di sebelah kiri Wapres Adam Malik, Ketua Bepeka Umar Wirahadikusumah menjadi rebutan kamera.

Calon tunggal wapres itu memang tampak asyik berbincang-bincang dengan Adam Malik. Semuanya seperti tidak ada apa-apa.

Menteri PPLH Emil Salim datang paling belakang, begitu sidang akan dimulai dan Presiden sudah duduk. ‘Tenang-tenang,” kata Emil Salim sambil masuk mungkin untuk menenangkan dirinya sendiri.

"Kabinet Tahun 2000"

Selesai sidang Presiden Soeharto bersama Wakil Presiden Adam Malik serta para pimpinan Lembaga Tertinggi Negara lainnya dan para menteri Kabinet Pembangunan III bergambar bersama di depan Istana Merdeka.

Ini bukan kebetulan atau spontanitas, tetapi atas permintaan Presiden Soeharto sendiri dalam acara resmi sidang kabinet.

Menurut Kepala Negara, sejak orde baru sudah ada tiga Kabinet Pembangunan. Tetapi dalam Kabinet Pembangunan I dan II, tidak pernah diadakan foto bersama. Karena itu Kabinet III ini perlu diabadikan.

"Sebagai kenang-kenangan pengabdian kita danjuga untuk dikenang anak-cucu kita. Penilaian mereka bagaimana, itu terserah mereka nanti. Tetapi jelas kita tidak bisa dilepaskan dari perbuatan sejarah, betapa pun juga kecilnya. Baik dan buruk adalah penilaian orang lain, tapi kita semuanya telah memberikan sumbangsih atau pengabdian yang semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan kita masing-masing," kata Presiden Soeharto.

Selesai foto, diselenggarakan santap bersama di ruangan untuk penyerahan surat-surat kepercayaan (Credential Room).

Selesai Presiden Soeharto dan anggota kabinetnya berfoto bersama, para wartawan dan juru potret yang biasanya meliput kegiatan Presiden, mengambil alih tempat untuk bergambar bersama para menteri yang belum meninggalkan tempatnya. Namun yang "terperangkap" cuma Mensesneg Sudharmono SH dan Kepala Bulog Bustanil Arifin. Sebelum para juru membidikkan lensanya, tiba-tiba seorang wartawan nyeletuk, "ini kabinet pembangunan tahun 2000 !".Mendengar itu, semuanya geerrrr…! (RA)

Jakarta, Kompas

Sumber : KOMPAS (1983)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 21-24.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.