KALANGAN PENGEMBANG DUKUNG IMBAUAN WASPADAI PINJAMAN LN

KALANGAN PENGEMBANG DUKUNG IMBAUAN WASPADAI PINJAMAN LN[1]

 

Jakarta, Antara

Kalangan pengusaha sektor properti mendukung imbauan pemerintah agar swasta berupaya menjadwalkan kembali proyek-proyeknya serta menahan diri untuk menggunakan pinjaman luar negeri secara berlebihan.

Kepada ANTARA di Jakarta, Senin, Presdir PT Dharmala lntiland Hendro S Gondokusumo dan Manager Marketing PT Putra Surya Perkasa (PSP) Budi Hamijaya mengatakan bahwa para pengembang sebaiknya menahan diri untuk tidak melakukan ekspansi besar-besaran dan menyelesaikan dulu proyek propertinya yang telah berjalan.

“Jadi, sebaiknya ekspansi properti besar-besaran tahun inidirem dulu. Dijadwal ulang saja. Sayaprediksikan dalam tempo satu atau dua tahun situasi ekonomi makro normal kembali dan pengembangpun dapat berekspansi.” kata Hendro Gondokusumo.

Hal senada dikemukakan Budi Hamijaya yang berpendapat sebaiknya sektor properti menganalisa situasi makro ekonomi sertamemperhatikan aba-aba pemerintah.

“Pacta situasi seperti ini sebaiknya sektor properti menyelesaikan proyek­ proyeknya di cadangan tanah yang telah dimiliki serta memfokuskan diri pacta penjualan produk.” kata Budi.

Hal tersebut dikemukakan kedua pengembang “papan atas” menanggapi imbauan Presiden Soeharto pacta pidato kenegaraan di depan Sidang Paripuma DPR, Sabtu (16/8), agar dunia usaha tidak mengandalkan pinjaman luar negeri secara berlebihan untuk membiayai usahanya karena beresiko tinggi.

Selain itu, Presiden meminta para pelaku dunia usaha memahami depresiasi rupiah terhadap dolar AS serta kebijakan pelepasan “band” (rentang) intervensi.

Kredit sektor properti saat ini porsinya hampir mencapai 20 persen dari total kredit perbankan atau sekitar Rp 65 triliun.

Suku Bunga

Pacta kesempatan itu, Hendro Gondokusumo mengutarakan bahwa tingkat suku bunga kredit dalam rupiah berkisar 18-20 persen per tahun sementara tingkat suku bunga kredit dalam dolar AS sekitar sembilan persen.

Kendati tingkat suku bunga dolar AS lebih rendah, pinjaman dalam dolar AS juga memiliki resiko seperti depresiasi rupiah yang mengakibatkan nilai rupiah turun dibanding dolar.

“Resiko itu bisa diperkecil oleh debitur memiliki pendapatan dalam dolar pula. Tapi akan berbahaya bagi debitur yang meminjam dalam dolar namun menjual produknya dalam rupiah.” ujarnya.

Selain itu, kata dia, resiko juga dapat diperkecil bila debitur melakukan pinjaman untukjan gka waktu lama (long term) bukan kreditjangka pendek (short term).

Pada pinjaman jangka panjang, tingkat depresiasi pada akhirnya akan sampai ke tingkat ekuilibrium, sehingga bila ditambah dengan suku bunga, debitur tidak mengalami “kerugian” terlalu tinggi.

Sementara itu, Budi Hamijaya mengatakan bahwa pengaruh depresiasi rupiah terhadap penjualan produk properti dalam dolar AS, seperti apartemen ataupun ruang perkantoran akan terasa pada penjualan dengan sistem tunai (cash).

Ia menilai, hal tersebut dapat terjadi karena masyarakat merasa panik sehingga berpikir dari pada membeli produk properti secara tunai lebih baik berspekulasi dengan membeli mata uang dolar.

Kendati demikian, tambah Budi, ia melihat penj u alan produk properti dengan sistem cicilan dalam dolar AS tampaknya tidak terlalu berpengaruh.

Sumber : ANTARA (18/08/1997)

________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 416-417.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.