JUMLAH PENDUDUK YANG BESAR BUKAN JAMINAN BERHASILNYA PEMBANGUNAN

JUMLAH PENDUDUK YANG BESAR BUKAN JAMINAN BERHASILNYA PEMBANGUNAN

Presiden Soeharto mengatakan jumlah penduduk yang besar merupakan potensi pembangunan yang besar, namun disadari bahwa jumlah penduduk yang besar saja, bukanlah merupakan jaminan bagi berhasilnya pembangunan.

Dalam sambutannya pada pembukaan Konferensi Internasional Keluarga Berencana (KB) di Istana Negara, Senin pagi, Kepala Negara mengatakan, jumlah penduduk yang besar tanpa kemampuan dan kemungkinan peningkatan kesejahteraan rakyat, justru merupakan beban suatu masyarakat dan dapat mendatangkan bencana bagi generasi yang akan datang.

Dikatakan, keberhasilan pelaksanaan KB akan menjadi kunci keselamatan dunia di masa datang. Oleh karena itu, langkah2 nyata yang makin terpadu harus dilaksanakan secara internasional.

Mengawali sambutannya ini, Kepala Negara mengingatkan masa depan dunia benar2 sangat dipengaruhi oleh keberhasilan atau kegagalan/dalam melaksanakan program Keluarga Berencana. Sebab, keberhasilan dan kegagalan tsb akan sangat menentukan keberhasilan dan kegagalan dalam melaksanakan pembangunan masyarakat.

Diingatkan, masalah pelaksanaan program keluarga berencana bukan sekedar masalah nasional masing2 negara di dunia. Itulah sebabnya kita harus saling belajar dan bertukar pengalaman dalam bidang ini.

Tantangan Berat

Disebutkan, jumlah penduduk Indonesia yang besarnya 147 juta jiwa benar2 merupakan tantangan yang berat bagi negara ini dalam bidang kependudukan.

Ditambah lagi dengan penyebaran penduduk yang tidak proporsional di mana sebagian besar penduduk berdiam di Pulau Jawa, menyebabkan tidak-ada pilihan lain bagi Indonesia selain bekerja keras agar program Keluarga Berencana dapat berhasil.

Bila tidak, demikian Kepala Negara, selanjutnya Indonesia akan menghadapi persoalan kependudukan yang sangat gawat di waktu2 mendatang.

"Karena itu program2 Keluarga Berencana bagi kami merupakan salah satu program nasional yang teramat penting".

Dikatakan juga, dengan memperhatikan kebutuhan dan kemampuan masyarakat, memperhatikan pula tantangan pembangunan yang masih akan besar di masa datang, Indonesia harus mampu mempercepat penurunan tingkat kelahiran demi terjaminnya peningkatan kesejahteraan rakyat. Untuk itu, menurut Presiden Soeharto, Indonesia berusaha keras agar pada tahun 1990 nanti tingkat kesuburan dapat ditekan menjadi 50% dari tingkat kesuburan sekarang ini.

Diakui, tugas dan tantangan Indonesia di masa depan dalam melaksanakan program KB, tidaklah ringan. Tetapi Kepala Negara menyatakan keyakinannya program ini akan terus mencatat hasil yang membesarkan hati karena rakyat sendiri sadar, keberhasilan program KB merupakan kunci penting bagi terwujudnya keluarga bahagia.

Tidak Berdiri Sendiri

Sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, menurut Presiden Soeharto, jelas program KB tidak berdiri sendiri. Hal ini menyangkut berbagai aspek kehidupan seperti aspek pendidikan dan budaya masyarakat kependudukan dan peranan wanita dalam masyarakat serta berbagai aspek lainnya.

Dalam hal ini, aspek pendidikan masyarakat merupakan faktor yang sangat penting sebab menyangkut tingkat kecerdasan masyarakat. Dengan meningkatnya tingkat pendidikan dan kecerdasan masyarakat, diharapkan pada masa2 mendatang pelaksanaan program KB makin dapat diperlancar.

"Majunya pendidikan masyarakat akan memudahkan proses pembudayaan gagasan Keluarga Berencana," kata Kepala Negara.

Persoalan sekarang ini bagi Indonesia ialah mengusahakan agar laju pertambahan penduduk jangan sampai melampaui laju pertumbuhan pembangunan. Menurut Kepala Negara, inilah yang merupakan tantangan besar yang dihadapi Indonesia pada dasawarsa 80-an

Kepala Negara juga menyatakan keyakinannya, berbagai aspek yang dihadapi Indonesia dalam masalah Keluarga Berencana juga merupakan persoalan dari negara berkembang pada umumnya. Konferensi internasional ini diikuti 84 negara dan berlangsung sejak 26 April hingga 30 April yad.

Konferensi Pers

H. Gille dari UNFPA (United Nations Fund for Population Activities) mengatakan, KB di seluruh dunia sudah dikenal akan tetapi hanya 80% yang mempunyai pengetahuan tentang alat kontrasepsi sedangkan sisanya dengan jalan abortus, demikian dikatakan dalam konperensi pers Minggu malam.

Hal ini diakui Tbrahk dari Ethiopia, di mana ibu2 di sana sangat keberatan untuk mengikuti KB sebab, katanya, penduduknya kecil dan masih banyak tantangan dati para kaum ulama

Ini dibenarkan juga oleh Inayatula dari Pakistan yang mengatakan, pengetahuan KB di kalangan penduduk di sana hanya 85% sedangkan yang ikut KB (penggunaan alat kontrasepsi) hanya 6%. Dalam kenyataannya sekarang banyak peserta KB yang "drop out" dengan jumlah yang sangat tinggi sedangkan yang berlanjut sangat rendah sekali, kata Inayatula.

Dipilihnya Indonesia sebagai tuan rumah terlihat jelas dari masyarakat peminat KB yang begitu besar dan jarang ditemukan efek sampingannya. Lagi pula alat kontrasepsi apapun juga yang dipakai Indonesia sangat cocok di samping adanya kerjasama antara pembangunan dan KB itu sendiri, kata Ketua Konferensi Internasional KB Dekade 80-an, Dr. Fred. T. Sai dalam konperensi pers tsb. (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (27/04/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 600-602.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.