JOOP AVE : HOTEL BERBINTANG MULAI HIDANGKAN TAHU DAN TEMPE

JOOP AVE : HOTEL BERBINTANG MULAI HIDANGKAN TAHU DAN TEMPE[1]

 

Denpasar, Antara

Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Joop Ave mengatakan hotel berbintang diberbagai kawasan wisata di Indonesia mulai menghidangkan menu tahu dan tempe kepada wisatawan.

“Menu yang sama juga disajikan di Istana Negara, saat Presiden Soeharto mengadakan jamuan makan malam bagi tamu-tamu penting.” katanya kepada wartawan selesai acara pembukaan Simposium Internasional Tempe di Kuta, Bali, Senin.

Bersama Menteri Negara Urusan Pangan Ibrahim Hasan, ia mengharapkan penyajian menu itujangan dikritik, khususnya dari kalangan pers.

“Sebaliknya pers agar membantu bagaimana meningkatkan gaya dan citra dari tempe, karena sampai sekarang tempe dianggap makanan masyarakat pra sejahtera.” ucapnya.

Upaya meningkatkan gaya dan citra rasa tempe di masyarakat bukan lagi urusan penelitian laboratorium, namun sangat tergantung pada peran masyarakat, khususnya media massa.

Ia mengatakan Jepang banyak membantu Indonesia menyangkut penelitian mengenai makanan, khususnya tempe dan makanan yang bersumber dari hasil kelautan.

Penelitian itu sangat penting artinya mengingat Indonesia memiliki laut sangat luas, namun masyarakat yang mengkonsumsi hasil laut relatif sedikit.

“Jika kerja sama Jepang-Indonesia bisa ditingkatkan dalam memanfaatkan potensi kelautan maupun tempe yang berbahan baku kedele maka akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.” katanya.

Sementara itu Ketua Yayasan Tempe Indonesia Dr. H Sapuan menjelaskan konsumsi kedele di Indonesia setiap tahun 2,2 juta ton, 25 persen di antaranya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku tempe.

“Produksi tempe di Indonesia sekitar 1,7 juta sampai 1,8 juta ton per tahun.” kata Sapuan dan menambahkan bahwa tempe sekarang mulai diekspor terutama ke Amerika dan Jepang.

Joop Ave sangat menyesalkan terhadap 30 persen bahan baku kedele di Indonesia masih diimpor dari luar negeri, padahal negara dengan wilayah yang luas harus mampu berswasembada kedele.

Menanggapi impor kedele itu, Menteri Negara Urusan Pangan Ibrahim Hasan mengatakan Indonesia mengimpor kedele tidak ada masalah, karena Indonesia bukan daerah subtropis.

Kedele tumbuh di daerah subtropis, namun Indonesia memiliki beberapa daerah yang cocok untuk pengembangan kedele seperti Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sumatera.

“Semua daerah itu sedang dipacu untuk meningkatkan produksi kedele dengan harapan mampu menghasilkan empat ton per hektare untuk sekali panen dari selama ini hanya menghasilkan 1,1-1,2 ton per hectare.” kata Ibrahim Hasan.

Produksi kedele yang sangat rendah itu tidak mampu memen uhi kebutuhan dalam negeri sehingga harus mengimpor 500.000 sampai 600.000 ton setiap tahun.

Simposium Internasional Tempe berlangs ung tiga hari diikuti 150 peserta utu san dari sebelas negara antara lain Jepang, Amerika, Australia, India, Singapura, Thailand, Spanyol, Jerman, Belanda dan tuan rumah Indonesia.

Sumber : ANTARA (14/07/1997)

___________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 404-405.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.