JENDERAL SOEHARTO BERSUMPAH PEGANG TEGUH UUD DAN BERTINDAK ADIL

JENDERAL SOEHARTO BERSUMPAH PEGANG TEGUH UUD DAN BERTINDAK ADIL [1]

 

Jakarta, Harian Kami

“DEMI Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia dengan se-baik2nya, dan seadil2nya, memegang teguh UUD, dan menjalankan segala UU dan peraturan2nya dengan se-lurus2nya, serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa”. Dengan mengucapkan Sumpah Jabatan itu didepan Rapat Paripurna MPR pagi kemarin, Jenderal Soeharto, 52 tahun, untuk kedua kalinya mulai memangku jabatan Presiden Republik Indonesia sampai tahun 1978 mendatang.

Soeharto, anak seorang petani ulu2 (pembagi air) dari desa “klutuk” Kemusu, Godean, 10 Km disebelah barat Yogya, yang semasa kecilnya menjadi penggembala kambing dan kerbau, terpilih oleh Majelis pemegang kedaulatan Rakyat itu sebagai Mandataris MPR, orang yang paling berkuasa dinegeri ini.

“Bagi saya tugas itu sungguh berat. Karena itu saya tidak menjanjikan yang bukan2. Satu2nya janji yang berani saya kemukakan sekarang adalah, bahwa saya akan bekerja dan berusaha sekuat2 kemampuan yang ada pada saya untuk memimpin Bangsa ini, melangkah maju lagi dalam usaha mencapai cita2nya,” ujar Jenderal Soeharto didepan Majelis. Sesaat kemudian Ketua MPR secara khidmat menyerahkan Ketetapan MPR tentang pengangkatan Soeharto sebagai penguasa tertinggi di Republik ini.

Agak Gugup

Soeharto yang dalam upacara Sumpah Jabatan kemarin mengenakan stelan jas lengkap warna biru tua ber-garis2 lurus berpeci hitam, tampak agak gugup ketika ia mencercahkan tanda tangannya dikertas penerimaan jabatannya sebagai Mandataris MPR. Tangannya agak gemetar memegang kertas Sumpah Jabatan menurut Agama Islam keyakinan yang dipeluknya, dan sepatah demi sepatah kalimat Sumpah Jabatan itu diucapkan didepan Majelis yang pengap.

Sebuah Kitab Suci Al Qur’ anul Kariem berada diatas kepalanya yang dipegang seorang Kyai sebagai kesaksian.

Upacara kenegaraan yang hanya berlangsung lk. 30 menit itu, diakhiri dengan pidato ucapan selamat dan do’a dari Ketua MPR atas nama seluruh Bangsa Indonesia.

Tepuk tangan gemuruh menggema diruang sidang Paripurna, sementara terdengar keriangan dari semua hadirin, ketika Presiden terpilih membubuhkan tanda tangan tanda ia sejak detik itu memikul beban berat untuk melaksanakan TAP2 MPR yang diamanatkan oleh Majelis. Suasana Ibukota Jum’at kemarin tampak tenang2 saja, berjalan normal seperti biasa, cuaca amat cerah, langit tidak mendung, semen tara jutaan masyarakat Jakarta tidak bisa menyaksikan upacara bersejarah itu dengan mata kepala sendiri, kecuali mendengar lewat radio, atau TV bagi orang2 mampu. Kompleks Gedung MPR Senayan, dimana upacara berlangsung tampak dikawal ketat oleh petugas2 keamanan, puluhan intel2 berpakaian sipil yang mengenakan lencana “Sekretariat MPR” mondar-­mandir disekitar gedung.

Sampai2 komplek Taman ria Remaja yang berada persis dibatas gedung MPR tidak luput mendapat pengawalan khusus dari pasukan bersenjata. Demikian halnya, dipinggir2 bekas gedung DPR lama di Senayan dan Kompleks perumahan PLN yang berdekatan dengan gedung MPR, tampak dijaga oleh petugas2 keamanan, dan orang2 dilarang keluar masuk wilayah2 itu.

Tapi sedemikian jauh mobil2 panser tidak ditemukan dan tidak ada kesan bahwa suasana dalam keadaan “perang” atau “siap tempur”, seperti halnya SU2 MPR sebelumnya.

“Minggu Tenang” benar2 tenang, dan suasana SU sangat baik, komentar Jenderal Sumitro. Tidak ada ucapan terimakasih yang lebih layak diberikan kecuali kepada Pers, kepada saudara2 yang telah membantu suasana ketenangan selama SU MPR.

“Saya benar2 menyatakan terima kasih dan penghargaan kepada Saudara,” kata Wa Pang Kopkamtib Sumitro ketika diserbu Wartawan sesaat selesai upacara. Tidak seperti biasa, kemarin Jenderal Sumitro berwajah cerah menunjukkan kepuasan dan sangat intim dengan nyamuk2 Pers.

Kerja Keras

Presiden/Mandataris MPR Soeharto dalam pidato penerimaan jabatannya didepan sidang menyatakan terima kasih kepada seluruh Rakyat dan Majelis yang telah memilihnya secara bulat untuk kedua kalinya menjabat Presiden. Dengan pelantikan ini lembaga kepresidenan telah diisi menurut semangat dan ketentuan UUD 1945.

Ini merupakan hasil besar dari usaha dan perjuangan Orde Baru, kata Soeharto. Ia menilai pelantikan ini-yang terjadi 28 tahun sesudah Indonesia merdeka­ menunjukkan betapa panjang dan berat perjuangan menegakkan konstitusi dan demokrasi.

Jenderal Soeharto mengingatkan bahwa dengan pelantikannya sebagai Presiden, tidak berarti usaha penegakan konstitusi dan demokrasi sudah selesai.

Ia menganjurkan untuk terus memperkokoh tegaknya konstitusi clan tumbuhkan demokrasi. Kesanggupan dan kemampuan kita untuk itu, merupakan jaminan perkembangan dinamik masyarakat yang stabil, memperluas ruang gerak bagi tercapainya kemajuan tanpa kegoncangan.

Perobahan untuk mencapai kemajuan tanpa kegoncangan adalah strategi pokok perjuangan Orde Baru, ujar Jenderal Soeharto. Berbicara tentang pembangunan, Soeharto mengingatkan perlunya seluruh bangsa terus bekerja keras, sebab masalah2 sosial ekonomi yang kita hadapi masih berat: pendidikan anak2, perluasan lapangan kerja, penyebaran penduduk yang merata, dll. Pembangunan, demikian Presiden terpilih itu, bukan hanya impian indah. Pembangunan adalah bekerja keras. (DTS)

Sumber: HARlAN KAMI (24/03/1973)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 90-92.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.