Jenderal Besar Soeharto

Jenderal Besar Soeharto[1]

 

PADA waktu Jenderal Wiranto melakukan timbang terima KSAD dari Jenderal Hartono lewat satu upacara di Markas Besar Angkatan Darat (MBAD), acara itu dihadiri oleh senior TNI antara lain Jenderal (purn) AH Nasution.

Selesai upacara, Wiranto menghampiri Nasution yang menjadi tamu kehormatan. Sambil membungkuk, Wiranto mencium tangan Nasution.

Regenerasi TNI telah berlangsung dengan baik. Wiranto yang lahir pada tahun 1948, pada saat Nasution menjadi Panglima Komando Jawa, kini ia menjadi orang nomer satu di Angkatan Darat.

Nasution pun tercatat sebagai KSAD terlama yakni dari tahun 1950 sampai dengan tahun 1962, dipotong jeda tiga tahun karena sanksi “Peristiwa 17 Oktober” yang dipimpinnya.

Adegan Wiranto mencium tangan Nasution seakan- akan menjadi puncak acara serah terima jabatan KSAD, dan mendapat perhatian khusus dari semua yang hadir.

Pada saat itulah, diantara yang hadir antara lain; Letnan Jenderal (purn) Sayidiman Suryohadiprodjo, Letnan Jenderal (purn) ZA Maulani, terkesan dengan adegan Wiranto mencium tangan Nasution—mereka mulai melontarkan gagasan untuk memberikan anugerah kepada senior TNI yang telah berhasil meletakan dasar-dasar ketentaraan Indonesia sekaligus berhasil mengantarkan regenerasi TNI dari angkatan’45 ke generasi kemerdekaan.

Lontaran gagasan itu kemudian dibahas di Markas Besar TNI di Cilangkap oleh Panglima TNI Jenderal Feisal Tanjung dan staf, yang selanjutnya merumuskan anugerah tersebut dengan memberikan pangkat kehormatan Jenderal Besar Bintang Lima kepada Jenderal Soedirman, Jenderal AH Nasution, dan Jenderal Soeharto.

Jika memakai kreteria Amerika, negara yang mula-mula menganugerahkan pangkat kehormatan Jenderal Besar Bintang Lima kepada prajuritnya seperti Eisenhower, Omar Bradley, Marshall, Mc Arthur, dan Nimitz sebagai Laksamana Besar–pemberian itu berdasarkan keberhasilan seorang jenderal di medan pertempuran.

Untuk Indonesia lebih kepada kepiawaian menjalankan peranan politik tentara di tengah lautan partai politik yang berdampak surplus politikus, serta sumbangsih dalam pembangunan karakter bangsa.

Juga menjadi pertimbangan adalah reputasi di medan pertempuran yang telah ditorehkan oleh ke tiganya.

Soedirman adalah Panglima Besar yang membesarkan institusi TNI dari nol menjadi organisasi tentara yang solid, sebagai komandan pertempuran yang dikenal dengan “Palagan Ambarawa”, serta pemimpin perang gerilya yang legendaris. “Politik tentara adalah politik negara”, menjadi pegangan Soedirman menghadapi para politisi yang ingin menarik tentara ke politik.

Nasution adalah konseptor taktik perang gerilya, dan sebagai KSAD yang memimpin penumpasan pemberontakan PRRI/Permesta, DI TII. Buku tulisan Nasution, “Pokok-Pokok Gerilya”, menjadi buku wajib bagi taruna di berbagai akademi militer di dunia, termasuk akademi militer West Point, Amerika. Pada waktu menjadi Panglima Siliwangi, Nasution berperan dalam peristiwa yang dikenal sebagai “Bandung Lautan Api.”

Soeharto dikenal sebagai komandan yang memimpin Serangan Umum 1 Maret 1949, sebagai Panglima Komando Mandala berhasil merebut kembali Irian Barat dari tangan Belanda, dan sebagai Panglima Kostrad berhasil menumpas pemberontakan G3OS/PKI, menyelamatkan Republik Indonesia dari ancaman menjadi negara komunis.

Dalam perspektif inilah—perspektif peranan politik tentara di mana berbeda antara tentara Amerika dengan tentara Indonesia—tentara Indonesia membentuk dirinya sendiri, bukan atas keputusan politik pemerintah seperti di Amerika.

Mempertimbangkan perlunya menghargai jasa-jasa dan prestasi jenderal-jenderal TNI terbaik, pada 5 Oktober 1997, Jenderal Soedirman, Jenderal AH Nasution, Jenderal Soeharto, ketiganya dianugerahi pangkat kehormatan Jenderal Besar Bintang Lima. {}{}{}

____________________________________________________________

[1]Noor Johan Nuh,  “Pak Harto dari Mayor ke Jenderal Besar”, Jakarta : Yayasan Kajian Citra Bangsa, hlm 86-89.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.