JEMBATAN KONSTRUKSI DUA KABEL COCOK DI LOKASI SULIT INDONESIA

JEMBATAN KONSTRUKSI DUA KABEL COCOK DI LOKASI SULIT INDONESIA[1]

 

Banjarmasin, Antara

Jembatan dengan jenis konstruksi dua kabel dinilai paling cocok diterapkan pada pembangunan jembatan pada lokasi sulit di Indonesia, seperti untuk menghubungkan antar pulau atau sungai lebar.

“Dengan jenis konstruksi dua kabel ini,bangunan jembatan tidak mengganggu arus lalu-lintas air di bawahnya seperti yang terlihat pada Jembatan Sungai Barito.” kata Pimpinan Proyek Jembatan Barito, Maxwell Takasana di Desa Beringin Kabupaten Barito Kuala (Batola) Kalsel, Rabu.

Ketika melaporkan proses pembangunan Jembatan Barito kepada Presiden Soeharto saat peresmian jembatan, Maxwell Takasana menyebutkan sistem dua kabel tidak simetris (assymetrical dua cable) merupakan teknologi paling depan yang diaplikasikan pada konstruksi jembatan Barito.

Dengan sistem ini memungkinkan jembatan Barito menjadi jembatan bentang panjang paling ringan dibanding konstruksi jembatan sejenis dengan kabel tunggal. Namun cukup kaku untuk menahan beban lalu lintas, beban eksentrisitas maupun beban angin.

Sistem dua kabel ini merupakan kombinasi antara sistem kabel gantung tunggal dan sistem kabel yang berfungsi meredam lendutan yang besar yang dapat terjadi di bawah beban hidup atau beban angin. Kekakuan jembatan ini diberikan oleh bentuk rangka baja pengaku berbentuk kotak ruang yang juga berfungsi menahan lantai kendaraan.

Panjang total jembatan Barito 1.082 meter terdiri dari dua buah jembatan dengan konfigurasi kembar.

Masing-masing jembatan terdiri dari bentang utama sepanjang 240,5 meter yang membentang pada saluran utama sungai dengan tinggi ruang bebas 15,5 meter di atas muka air tinggi atau 18,5 meter di atas muka air rendah dan 240,5 meter pada saluran kedua dengan tinggi ruang bebas 8 meter.

Disamping bentang-bentang utama itu terdapat masing-masing dua buah bentang sepanjang 90 meter di setiap jembatan dan jembatan pendekat masing-masing 181 meter pada sisi Banjarmasin (Kalsel) dan 69 meter pada sisi Kalteng.

Tahap pelaksanaan jembatan  ini dimulai 12 Desember 1992, namun kontruksi jembatan dimulai awal tahun 1994 dan sampai dengan November 1996 pembangunan diarahkan pada bangunan-bangunan bawah. Mulai Oktober 1996 sampai April 1997 penyelesaian bagian atas, kata Takasana.

Pembangunan jembatan yang terpanjang se Asia Tenggara untuk saat ini menelan dana sekitar Rp 98 miliar yang berasal dari APBN.

Peresmian jembatan yang dilakukan Presiden Soeharto itu selain dihadiri para menteri seperti Mentan Sjarifudin Baharsjah, Men PU Radinal Moechtar, Menteri PPN Ginandjar Kartasasmita, Mensos Inten Soeweno, Menseskab Saadilah Mursyid, Mensesneg Moerdiono, Mendagri Yogie SM, dan Menrestik BJ Habibie, serta empat Gubernur di Kalimantan.

Sumber : ANTARA (23/05/1997)

________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 335-336.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.