JEMBATAN BARITO DIRESMIKAN: PRESIDEN MENOLAK USULAN NAMA JEMBATAN SOEHARTO

JEMBATAN BARITO DIRESMIKAN: PRESIDEN MENOLAK USULAN NAMA JEMBATAN SOEHARTO[1]

 

 

Barito Kuala, Merdeka

Presiden Soeharto, hari Rabu (23/4) kemarin meresmikan penggunaan Jembatan Barito yang merupakan jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Jembatan sepanjang, 1.082 meter dan Iebar 10 meter yang menggantung di atas Sungai Barito itu menghubungkan dua propinsi, yakni Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Bersamaan dengan peresmian jembatan Barito di Desa Beringin, Kabupaten Barito Kuala, Kalsel itu, Presiden juga meresmikan selesainya rehabilitasi sosial daerah kumuh dalam rangka Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional tahun 1996.

Dalam acara itu nampak hadir sejumlah menteri yang mendampingi Pak Harto, diantaranya Mendagri Moh Yogie SM, Mensesneg Moerdiono, Menristek BJ Habibie, Mensas lnten Soeweno, dan Menteri PU Radinal Moochtar.

Dalam sambutannya, Presiden mengatakan telah dilapori, bahwa DPRD Tingkat I Kalimantan Selatan telah mengambil keputusan untuk mengusulkan pemberian nama Jembatan Soeharto kepada jembatan tersebut.

 “Saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehormatan itu. Tetapi, pemberian nama jembatan dengan nama saya, saya khawatir dapat menimbulkan sikap kultus individu. Karena itu, pada peresmian sekarang jembatan ini saya beri nama Jembatan Barito,” kata Pak Harto.

Presiden menjelaskan, karena jembatan ini terletak di jalan lintas selatan Kalimantan, maka selesainya pembangunan jembatan Barito akan menjadikan lalu lintas darat antara Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur bertambah lancar.

“Berarti terbukanya peluang bagi kemajuan perekonomian dan pengembangan wilayah Kalimantan Selatan,” katanya.

“Jalan lintas selatan Kalimantan yang dibangun tersebut untuk membangkitkan kekuatan-kekuatan ekonomi bagi kemakmuran masyarakat yang sebesar-besarnya dan bagi pemerataan pembangunan,” jelas Presiden tentang pembangunan jembatan yang mulai dikerjakan sejak Desember 1992 dengan biaya Rp98 miliar itu.

Dikatakan, selesainya pembangunan jembatan ini merupakan prestasi besar bagi bangsa Indonesia.

“Pembangunan jembatan ini memerlukan presisi tinggi. Karena itu pembangunannya memerlukan pengerahan teknologi yang canggih dan biaya yang besar. Waktu yang diperlukan juga cukup panjang,” ujar Presiden.

Menurutnya, pembangunan jembatan ini membuktikan kemampuan daya pikir, perhitungan cermat dan keterampilan yang tinggi dari putera-puteri Indonesia.

“Rakyat Kalimantan Selatan mempunyai kebanggaan khusus, sebab ada putera-puteri Indonesia lulusan Universitas Lambung Mangkurat yang ikut menangani secara langsung jembatan yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia ini,” katanya.

Presiden juga mengungkapkan pengalamannya melaksanakan temu wicara dan perbincangan langsung dengan rakyat di Tanah Air dari berbagai lapisan seperti petani, peternak, peladang, nelayan dan anggota koperasi.

“Ada kesan mendalam yang saya tangkap dalam pembicaraan dengan rakyat, yaitu besarnya kesadaran mereka untuk membangun, tekad mereka untuk maju dan keinginan untuk mencapai kehidupan lebih baik dan kemauan bekerja keras,” ungkapnya.

Menurut Presiden, semuanya itu menunjukkan bahwa kekuatan-kekuatan pembangunan rakyat kita tumbuh makin besar, pengetahuan rakyat bertambah luas, kualitas manusia Indonesia dan kualitas masyarakat kita terus meningkat.(FN)

Sumber: MERDEKA (24/04/1997)

__________________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 767-768.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.