JATUHNYA SOEHARTO II

JATUHNYA SOEHARTO II[1]

 

Jakarta, Merdeka

MENGIKUTI hari-hari terakhir menjelang turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan, barangkali mirip suasana batin anak kecil bermain kejar-kejaran : gembira, khawatir, dag-dig-dug, cemas, takut, berharap. Dan, nah tiba-tiba si pengejar sudah berdiri di belakang kita. Kaget setengah mati. Tetapi tertawa juga.

Kalau saja Dr. Amien Rais Kamis dini hari (21/5) itu tidak membocorkan rencana berhentinya Soeharto (ke sejumlah tokoh dan media massa), niscaya sebagian rakyat akan memahami pernyataan mundur Soeharto Kamis pagi itu seperti mimpi.

Kejadiannya memang amat cepat, dan hampir semua orang tak menduga bahwa Soeharto berhenti secepat itu. Masa, penguasa setangguh itu memiliki umur kepresidenan (untuk masa jabatan yang ke-7) hanya 70 hari, terhitung sejak 11 Maret 1998 hingga 21 Mei 1998. Dan inilah presiden yang selama tujuh periode terpilih secara aklamasi, menyatakan berhenti dalam waktu hanya dalam hitungan jam saja.

Perhatikan rentetan peristiwa penting super singkat ini :

Rabu, 20 Mei 1998, pukul 09.15 Mensesneg Saadillah Mursyid menyatakan bahwa Kamis 21 Mei 1998 Soeharto akan mengumumkan anggota Komite Reformasi dan masih menggodok rencana perubahan susunan kabinet. Ini berarti, tanggal 20 Mei itu, Soeharto masih teguh berpendirian tidak akan mundur dari kursi kepresidenan.

Rabu, 20 Mei 1998, pukul 24.00 WIB bocor kabar bahwa Soeharto sudah memutuskan untuk berhenti dari jabatan.

Kamis, 21 Mei 1998, pukul 09.08 WIB di Istana Merdeka, Soeharto membacakan pernyataannya berhenti dari jabatannya sebagai Presiden. Menurutnya dengan situasi seperti itu sulit bagi dia melaksanakan tugas kenegaraan dan pembangunan dengan baik.

Silaturahmi

Soeharto juga menjelaskan bahwa pernyataan berhenti itu juga sudah disampaikan di hadapan pimpinan DPR yang juga adalah pimpinan MPR pada kesempatan silaturahmi di Istana Negara pada pagi hari sebelum pernyataan berhenti itu dibacakan di depan umum.

Yang menarik dicatat dan dipelajari dari hal di atas ialah, bahwa pernyataan berhenti itu disampaikan Presiden Soeharto dalam kesempatan silaturahmi.

‘Pelajaran Sejarah’nya ialah apakah ‘kesempatan silaturahmi’ itu merupakan forum resmi atau tidak. Sebab, jika bukan forum resmi pimpinan DPR/MPR, maka Soeharto secara resmi belum pernah menyatakan atau melaporkan keputusannya untuk berhenti itu ke lembaga yang mengangkat dan memberinya mandat.

‘Guru sejarah’ dari UI Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra yang di hari-hari terakhir kekuasaan Soeharto sering keluar masuk Istana berpendapat pernyataan Soeharto berhenti dari jabatan presiden itu merupakan keputusan sepihak, sah, konstitusional, karena itu tidak memerlukan persetujuan dari siapa pun termasuk DPR/MPR. Pak Harto menyatakan berhenti, bukan memohon berhenti, katanya. Tetapi justru soal bagaimana cara berhenti itulah yang sekarang diperdebatkan berbagai kalangan. Salah satu arus kuat berpendapat bahwa untuk menyelesaikan kemelut ini maka diperlukan sidang istimewa MPR. Cara inilah yang sekarang sedang diperjuangkan Fraksi Karya Pembangunan DPR RI, fraksi terbesar di dewan.

Sumber : MERDEKA (27/05/1998)

_____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 617-618.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.