JANGAN NIKMATI SWASEMBADA BERAS DI ATAS PENDERITAAN PARA PETANI  

JANGAN NIK MATI SWASEMBADA BERAS DI ATAS PENDERITA AN PARA PETANI[1]

Asahan, Kompas

Presiden Soeharto menegaskan jangan menikmati swasembada beras di atas penderitaan para petani. Kemampuan menciptakan swasembada beras harus disertai dengan kesejahteraan para petani yang lebih baik. Bahkan, usaha memperbaiki kesejahteraan petani harus dilakukan tidak hanya melalui peningkatan usaha pertanian, tetapi juga melalui usaha-usaha lain.

Penegasan itu diungkapkan oleh Kepala Negara pada peresmian berbagai proyek pembangunan di Propinsi Sumatera Utara yang dipusatkan di Desa Pematang panjang, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Asahan, 110 kilometer di tenggara Medan, hari Kamis (4/6).

Hadir pada acara ini antara lain Ny. Tien Soeharto, Menteri pekerjaan Umum Radinal Mochtar, Menteri Pertambangan dan Energi Ginanjar Kartasamita, Menteri Agama Munawir Sjadzali, Menteri Kehutanan Rasrul Rarahap, Ny. Siti Rardiyati Rukmana dan Bambang Tihatmodjo.

Tujuh proyek yang diresmikan Presiden kemarin ialah proyek irigrasi Namo Sira­-sira (Kabupaten Langkat), irigasi Batang Gadis (Kabupaten Tapanuli Selatan), irigasi Bah Bolan (kabupaten Asahan) proyek peningkatan jalan Pemantang Siantar. Perdagangan Rurnah Sakit Raji Medan, 547 proyek listrik Surnatera Utara dan proyek Taman Rutan Raya Bukit Barisan.

Presiden menekankan untuk memperbaiki kesejahteraan para petani, perlu dibentuk koperasi-koperasi unit desa. “Kelemahan, kekurangan, bahkan mungkin kegagalan di masa lalu harus dijadikan pelajaran dan cambuk untuk masamendatang, “ujar Presiden.

Sebelumnya, Presiden mengatakan, Indonesia telah mampu berswasembada beras. Ini merupakan keberhasilan yang sangat penting. Tapi hal itu jangan sampai membuat bangsa Indonesia berpuas diriapalagi sampai lengah.

Pada bagian lain disebutkan, dalam usaha memeratakan penyebaran informasi kepada masyarakat luas melalui siaran radio dan televisi. Dikatakan, taman hutan raya sangat penting bagi kehidupan bangsa. Diresmikannya Taman Rutan Raya Bukit Barisan membuktikan kesungguhan bangsa Indonesia untuk memelihara kelestarian hutan. Apalagi, hutan di negeri ini bukan hanya bermanfaat bagi Indonesia sendiri, tetapi sekaligus untuk seluruh urnat manusia.

“Dunia telah mengakui hutan-hutan tropis merupakan paru-paru dunia,” ujar Presiden.

Rakyat Indonesia, lanjut Presiden, juga dapat memanfaatkan kekayaan alam tanpa merusak lingkungan dan keseimbangan alam. Karena itu disamping pemanfaatan hutan, rakyat Indonesia harus mengusahakan penghijauan kembali hutan-hutan. Apalagi, kekayaan hutan tidak terbatas pada kayu saja, tetapi juga mengandung kekayaan hayati yang tidak ternilai.

Presiden mengakui, selama ini belum memperhatikan secara sungguh-sungguh kekayaan hayati yang memiliki potensi yang sangat besar. Padahal dengan pesatnya kemajuan pengetahuan dan bio teknologi serta industrinya dewasa ini, kekayaan hayati akan menjadi surnber utama untuk bahan-bahan baku kehidupan manusia, seperti bahan pangan, obat-obatan dan serat,

Ihwal peresmian  Rumah sakit Raji, dalam sambutannya, Kepala Negara mengatakan rumah sakit ini merupakan prasaran dan sarana untuk meningkatkan kesehatan rakyat Indonesia yang semakin bertambah saja. “Kita tidak mungkin membangun bangsa apabila kesehatan rakyat tidak terpelihara dengan baik.”

Dikatakan ,salah satu tantangan dalam bdang kesehatan rakyat Indonesia adalah bagairnana agar biaya pengobatan benar-benar dapat dijangkau rakyat. Tugas utama rumah sakit adalah memenuhi panggilan kemanusiaan. Tingkat kehidupan ekonomi dan tingkat kesejahteraan rakyat merupakan langkah-langkah penting yang harus kita utamakan untuk meningkatkan kemampuan rakyat, sehingga mereka mampu memelihara kesehatannya,” demikian Presiden.

Tujuh Proyek

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Pekerjaan Umum Tingkat I Sumatera Utara, J. Hendro Moeliono dalam laporannya menyebutkan, dana proyek irigasi Namo Sira-sira Rp. 26,8 milyar, Batang gadis Rp. 33,9 milyar, Bah Bolan 111milyar, jalan Pematang siantar Perdagangan di Kabupaten Simalungun sepanjang 40.350 ki­lometer Rp.6,8 milyar. Rumah Sakit Medan tahap pertama di Kabupaten Deli Serdang Rp. 8,6 milyar.

Setelah meresmikan tujuh proyek dari Desa Pematang panjang Presiden danNy Tien Soeharto beserta rombongan meninjau Rumah Sakit Haji di Jalan Pancing, Medan. Pembangunan rumah sakit iniuntuk mengenang Jemaah Haji yang meninggal di Mina, Arab Saudi tahun 1990. Ketika memberi sambutan, Presiden mengatakan “Dalam kesempatan ini saya mengajak kita semua untuk mendoakan semoga amal ibadah mereka diterima oleh Allah SWT.”

Seperti di Desa Pematang panjang, Presiden dan rombongan disambut dan dielu­elukan masyarakat di Jalan Pancing, Medan. Dalam acara peninjauan di rumah sakit ini Presiden menyalami ibu berusia sekitar 80 tahun. Acara peninjauan dan peresmian rumah sakit yang dapat menampung 109 orang pasien dan dibangun dengan dana Rp. 8,7 milyar (pada tahap pertama) ini ditandai dengan pengguntingan pita oleh Ny.Tien Soeharto didampingi Gubernur Sumatera Utara Raja Inal Siregar dan pelaksana pembangunan rumah sakit Bahamuddin Napitupulu. Rumah sakit ini merupakan salah satu yang termodem di Sumut.

RS Haji Medan ini adalah salah satu dari empat RS Haji yang dibangun di Jakarta Surabaya dan Ujung Pandang. RS haji Medan adalah yang pertama selesai dan menjadi pusat tempat peresmian oleh Kepala Negara kemarin.

Prasasti pembangunan keempat RS Haji tersebut ditanda tangani Presiden Soeharto4 Februari 1991 di BinaGrahaJakarta. Awal pembangunan RS Haji Medan ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Menteri Munawir Sjadzali dan Gubernur Sumut 11 Maret 1991. Pembangunannya dilaksanakan diatas tanah seluas enam hektar.

Sumber: KOMPAS (05/06/ 1992)

_____________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 573-575.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.