JANGAN MATIKAN DEMOKRASI

JANGAN MATIKAN DEMOKRASI[1]

 

Jakarta, Bisnis Indonesia

Beberapa tokoh nasional mengungkapkan keprihatinannya terhadap perkembangan sosial politik nasional akhir-akhir ini dalam suatu pernyataan kemarin. Mantan Ketua MPR/DPR Kharis Suhud, mantan Menkeu Frans Seda, mantan Wakasad Sambang Triantoro, Abdurrahman Wahid, dan A. Dahlan Ranuwihalja ikut menandatangani pernyataan keprihatinan tersebut.

“Kami prihatin karena persatuan bangsa menjauh dari wawasan kebangsaan Indonesia, kedaulatan rakyat menjauh dari demokrasi Pancasila, dan keadilan sosial menjauh dari keadaban kehidupan bersama rakyat merdeka.” kata Matori Abdul Djalil, salah satu penandatangan, membacakan pernyataan berjudul Kembali ke Cita­Cita Luhur Bangsa Itu.

Mereka mengimbau agar praktek yang menjauhkan perwujudan kedaulatan rakyat harus dihentikan. Karena, menurut mereka, praktek seperti itu akan mematikan demokrasi Pancasila sehingga kedaulatan rakyat akan tergusur digantikan kedaulatan kekuasaan.

Triantoro menambahkan pernyataan keprihatinan itu merupakan upaya untuk mengingatkan mereka yang sedang lupa.

“Ini merupakan gerakan moral, bukan gerakan politik. Tidak akan ada bentuk kekerasan di sini. Gerakan moral itu tidak perlu ada audiensi dengan institusi-institusi formal.”

A Dahlan Ranuwihalja mengatakan sopan santun berpolitik akhir-akhir ini telah hilang, sementara kekerasan terjadi di mana-mana.

“Wong habis dipukuli diajak musyawarah, apakah ini sopan.”

Untuk itu, tuturnya, pernyataan ini berupaya mengetuk hati nurani semua warga Indonesia agar kembali ke demokrasi Pancasila.

“Karena tanpa demokrasi Pancasila, stabilitas nasional tidak akan tercapai.”

Abdurrahman Wahid menambahkan perkembangan politik akhir-akhir ini sudah mengarah bukan lagi sekadar unjuk kekuatan tapi sudah pada kekerasan dan melanggar tata susila dan sopan santun bangsa Indonesia.

Menurut dia, langkah tersebut hanya gerakan moral yang tidak mempunyai target apa-apa, kecuali menyadarkan masyarakat supaya senantiasa menjunjung tinggi moralitas dan sopah santun dalam berpolitik.

Tapi, tuturnya, gerakan moral yang didasari dengan hati nurani serta iklhas akan

mempunyai dampak politik yang besar.

“Gerakan moral yang baik, tentu punya dampak politis seperti gerakan yang dilakukan oleh para nabi-nabi terdahulu.”

Sumber : BISNIS INDONESIA (05/07/1996)

_________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 173-174.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.