JANGAN KEMBANGKAN LAGI DAERAH “PECINAN”: UNTUK PERCEPAT PROSES PEMBAURAN BANGSA

JANGAN KEMBANGKAN LAGI DAERAH "PECINAN": UNTUK PERCEPAT PROSES PEMBAURAN BANGSA

Untuk mempercepat proses pembauran bangsa dan sekaligus meniadakan sikap dan kehidupan yang eksklusif dari golongan penduduk keturunan Cina, hendaknya pihak tatakota tidak mengembangkan lagi "daerah pecinan" seperti pada masa-masa lalu. Demikian Ketua Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa,

K. Sindhunata dalam dengar-pendapat dengan Komisi IX DPR, Jum’ at kemarin.

Menurut Sindhunata, pendekatan kearah itu pernah dilakukan, tapi pihak perencanaan kota masih sering tidak memperhatikan. Sebagai contoh ia tunjukkan timbulnya lagi daerah eksklusif seperti di Pluit dewasa ini.

Demikian pula masalah lokasi sekolah, perlu mendapat perhatian. Sehingga usaha pembauran lewat pendidikan di sekolah dapat berhasil sesuai yang diharapkan.

Ia mengemukakan itu, menanggapi persoalan yang diajukan anggota Komisi IX, bahwa usaha pembauran itu temyata tidak sepenuhnya berhasil. Misalnya kenyataan bahwa murid sejumlah sekolah pembauran masih terlalu banyak keturunan Cinanya. Sehingga tidak membuahkan pergaulan sosial yang diharapkan.

Sindhunata sependapat, selain lokasi dan perimbangan murid, soal kurikulum dan korps guru perlu diperhatikan. Kurikulumnya agar disesuaikan dengan sekolah negeri sehingga misalnya tidak diajarkan bahasa asing seperti Inggris dan Jepang terlebih dulu. melainkan ditekankan pada bahasa Indonesia.

"Sebab memberikan anak-didik orientasi ke luar strategis sangatlah berbahaya," katanya.

Mengingat pendidikan merupakan jalur ampuh untuk pembauran bangsa dalam waktu dekat Bakkom PKB akan bertemu dengan Menteri P dan K. Tujuannya, mengusahakan agar aparat P dan K secara operasional lebih konkrit mengarah pada kebijaksanaan pembauran, terntama di daerah-daerah. Demikian Sindhunata.

Kerjasama

Menanggapi pertanyaan para anggota yang semuanya menunjukkan minat dan simpati pada usaha Bakom PKB itu Sindhunata mengatakan kadang kala bertanya pada diri sendiri, apakah yakin bahwa usaha itu akan berhasil.

”Tapi saya jawab, kita harus maju terus. Tentu ada katalisastor dalam masyarakat yang juga bergerak terus. Sebab ini semua adalah demi generasi berikut," katanya.

Kepada para anggota Komisi IX itu, ia mengatakan setuju bahwa Bakom PKB, terutama yang di daerah-daerah sebagai aparat operasional, dalam kegiatannya agar selalu berkertja sama dengan berbagai organisasi social lainnya, termasuk lewat sistem RT/RW/RK dan sebagianya.

"Dari peninjauan ke banyak daerah, dapat disimpulkan bahwa gairah di daerah sangat membesarkan hati, dan masalahanya pun jauh lebih konkrit."

Ia menambahkan, kenyataan menunjukkan dalam golongan penduduk Cina atau keturunan Cina di Indonesia ini, terdapat tiga penggolongan.

Yaitu yang sudah benar­benar merasa diri orang Indonesia dengan segala aspek mentalnya, ada yang masih setengah-tengah, dan ada pula yang masih merasa dan sadar dirinya adalah orang asing Tapi mengenai, prosentase setiap golongan itu, Sindhunata mengatakan masing-masing "cukup banyak".

Dengar Pendapat kemarin dipimpin Wakil Ketua Komisi H. Abdul Firman, sementara dari Bakom PKB hadir sejumlah anggota pimpinan. (DTS)

Jakarta, Kompas

Sumber: KOMPAS (17/02/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 378-380.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.