JANGAN JADI TONTONAN

JANGAN JADI TONTONAN

Di Waingapu, ibukota Kabupaten Sumba Barat maupun di Desa La Lungging 150 km dari Waingapu, Presiden Soeharto berseru kepada penduduk dan pejabat setempat. Kepala Negara minta, serangan hama jangan dibiarkan sebagai tontonan atau alat pameran saja, tetapi harus ditangani secara gotong-royong.

Presiden menegaskan: "seluruh warga desa mulai dari yang tua sampai anak-anak, saya minta beramai-ramai menggepyok tikus terus-menerus". Ia menyarankan, sisa tanaman agar dicabuti, karena tinggal batangnya. Agar diganti dengan tanaman lain. Jika terjadi bencana, penduduk bersama pemerintah setempat segera bertindak.

APA yang dikemukakan oleh Presiden menyangkut segi lain dari permasalahan. Sejauh ini, segi itu mungkin kurang dilihat termasuk oleh penduduk dan aparat setempat. Laporan tentang hama tikus, biasanya hanya menyangkut kerugian dan bantuan yang diharapkan.

Itu semua wajar. Penduduk yang terkena musibah harus segera diberi bantuan. Tidak kurang penting, sikap penduduk dan aparat setempat menghadapi musibah. Dari peringatan Kepala Negara di atas, kita mendapat kesan penduduk dan aparat setempat tidak berusaha membrantas hama dan menanggulangi bencana. Mereka memberikan kesan menyerah.

Jika benar demikian, itulah suatu sikap yang hams dirobah. Orang tidak boleh menyerah kepada keadaan. Orang harus berusaha merobah keadaan dan menanggulangi bencana.

Tikus Dibrantas

Ini menyangkut sikap dasar masyarakat yang sedang membangun. membangun berarti tidak menyerah kepada keadaan dan kondisi status quo, karena membangun berarti merobah dan mengusahakan perbaikan dengan sadar.

SELANJUTNYA, perlu diteliti lebih dalam, mengapa penduduk dan aparat setempat diam dan bersikap menunggu sewaktu dihadapkan pada hama tikus pada bencana.

Apakah oleh pembawaan masyarakat setempat, berkaitan dengan latar belakang sosial dan pandangannya. Apakah karena telah terlalu kronis dihadapkan pada suatu keadaan di bawah garis kemiskinan dan terlalu sering ditimpa bala, sehingga seakan­akan kehilangan daya vitalitas dan tinggal mampu menyerahkan diri.

Apakah karena tidak tahu, mereka lantas harus berbuat apa ? Ataukah karena suatu pola pengembangan masyarakat dan tata pemerintahan setempat, yang sama sekali tidak memberikan kesempatan apalagi rangsangan bagi tumbuhnya swadaya dan swakarsa masyarakat. Mungkin juga karena faktor isolasi alam dan prasarana komunikasi.

KONSTATASI terhadap gejala yang dikemukakan oleh Presiden, barangkali harus diluaskan ke tempat-tempat lain. hama tikus dan wereng menyerang berbagai daerah lain secara ganas. Bagaimana reaksi penduduk dan aparat setempat.

Dimensi masalahnya lebih luas. Terlibat di sini partisipasi secara kongkrit. Pengalaman di Sumba menunjukkan, petani harus aktif memberantas hama. Masyarakat petani harus ikut serta.

Proyek dan proses pembangunan lainnya berjalan serupa. Orientasi Pelita III kepada masyarakat pedesaan dan perkotaan, terutama yang melibatkan kelompok lemah. Kecuali syarat-syarat lain seperti modal, kecakapan, harus ada syarat partisipasi. Mereka secara kongkrit ikut serta.

TENTANG partisipasi orang tidak cukup hanya bicara secara umum dan abstrak. Sebagai ide, konsepsi bahkan kemauan politik, partisipasi sama-sama dikehendaki. Kini minta lebih dijabarkan secara nyata, implikasi-implikasinya, persyaratannya.

Kita harus berani menilai secara luas, persyaratan dan mekanisme untuk partisipasi, untuk bangkitnya swadaya dan swakarsa masyarakat, apakah memang sudah ada.

Dalam masalah ini, kitaharus berani melihat dan menilai keadaan yang sebenarnya. Dengan demikian, akan diperoleh bahan untuk perbaikan.

Waingapu, Kompas

Sumber: KOMPAS (15/05/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 455-456.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.