JANGAN ADA YANG SEWENANG-WENANG

JANGAN ADA YANG SEWENANG-WENANG[1]

 

Jakarta, Kompas

Presiden Soeharto menegaskan, dalam berorganisasi jangan ada suatu kelompok yang sewenang-wenang memaksakan kehendaknya kepada kelompok lain.

“Bangsa kita tidak menganut sikap siapa yang kuat dialah yang menang dan kemudian menindas kelompok yang kalah.” demikian antara lain dikemukakan Presiden dalam pidato pembukaan Musyawarah Nasional Keluarga Besar Kader Pembangunan Indonesia di Istana Negara, Jakarta, hari Senin kemarin (24/6).

Kepala Negara mengingatkan, dalam menyelenggarakan musyawarah nasional hendaknya dipegang teguh nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila yang telah disepakati menjadi satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan benegara.

“Demokrasi Pancasila yang kita kembangkan lebih mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat.” kata Presiden.

Dalam musyawarah, kata Kepala Negara, semua pihak diberi kesempatan yang sama untuk mengemukakan pandangan dan pendapatnya.

“Setelah semua pandangan dikemukakan, maka dapatlah dirumuskan kesepakatan bersama yang memuaskan semua pihak, tanpa ada yang merasa dimenangkan atau dikalahkan.” tutur Kepala Negara.

Presiden minta, dalam menjalankan musyawarah, setiap orang agar mampu mengemukakan pikiran dengan jernih dan hati yang bersih.

“Jangan dilupakan bahwa setiap keputusan yang akan diambil haruslah mempertimbangkan dengan semasak­masaknya kepentingan bersama. Kita menganut sikap dasar yang meletakkan kepentingan bersama di atas kepentingan golongan, apalagi kepentingan perorangan.” kata Presiden.

“Karena itu dalam berorganisasi jangan sampai ada suatu kelompok yang dengan sewenang-wenang memaksakan kehendaknya kepada kelompok yang lain.” lanjut Kepala Negara.

Sibuk Urusan Intern

Pada bagian lain Kepala Negara memberi nasehat, agar setiap organisasi sosial kemasyarakatan lebih banyak melakukan perbuatan nyata yang bermanfaat bagi rakyat banyak dari pada disibukkan oleh urusan-urusan intern organisasi.

“Jangan sampai kita memiliki banyak organisasi kemasyarakatan yang kegunaannya hanya dirasakan oleh para pemrakarsa dan pengurusnya saja, tetapi tidak dirasakan manfaatnya oleh segenap anggota, apalagi oleh masyarakat luas. Segenap jajaran pengurus organisasi kemasyarakatan hendaknya dengan tulus, dan ikhlas bekerja untuk organisasi demi memajukan  seluruh anggotanya dalam pengabdian besar membangun bangsa dan Negara.” demikian Presiden.

Presiden menghimbau pula organisasi kemasyarakatan yang tergapung dalam wadah Keluarga Besar Kader Pembangunan Indonesia diharapkan dapat menunjukkan amal perbuatan yang nyata dalam memajukan dan menyejahterakan seluruh anggotanya, baik di bidang ekonomi maupun bidang sosial. Keluarga Besar Kader Pembangunan Indonesia adalah wadah dari Gabungan Karyawan Pembangunan Indonesia (GAKPI), Wanita Pembangunan Indonesia (WPI), Gabungan Pemuda Pembangunan Indonesia (GPPI) dan Mahasiswa Pembangunan Indonesia (MPI).

Dalam kesempatan ini Presiden juga mengingatkan tentang perubahan dunia yang cepat, dan abad ke-21 yang belum jelas benar arah dan kecenderungannnya. Tantangan yang akan dihadapi bangsa Indonesia sangat kompleks. Tantangan itu tidak dapat dilepaskan dari perkembangan dunia pada umumnya.

“Dalam situasi demikian, kita tidak perlu melawan arus globalisasi. Kita adalah bagian dari masyarakat dunia yang sedang mengalami perubahan yang cepat. Yang harus kita lakukan adalah meningkatkan kesadaran dan kecerdasan masyarakat agar mampu ikut serta dalam arus sejarah secara kreatif.” demikian Presiden.

Presiden berpesan, agar bangsa Indonesia tetap berpegang teguh, bahwa pembangunan di negeri ini adalah pengamalan Pancasila.

“Kita ingin dan berjuang membangun masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.” kata Presiden.

Hadir dalam pembukaan Munas yang akan berlangsung sampai tanggal 26 Juni di Jakarta, antara lain Ketua Umum GAKPI Dr. Abdul Gafur, Ketua Umum WPI Kemala Motik Gafur, Menteri Penerangan Harmoko, Ketua DPA Sudomo dan Ketua DPRIMPR Wahono. (OSD)

Sumber : KOMPAS (25/06/1996)

_________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 124-125.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.