JAGA DAN PELIHARA PERSATUAN DALAM HADAPI PEMILU

JAGA DAN PELIHARA PERSATUAN DALAM HADAPI PEMILU

Presiden Terima Peserta Rakernas MUI

Presiden Soeharto minta perhatian semua pihak khususnya para alim ulama untuk turut menjaga dan memelihara persatuan, ketenangan dan ketenteraman masyarakat dalam menghadapi penyelenggaraan Pemilu 4 Mei.

Permintaan itu dikemukakan Kepala Negara ketika menerima 540 peserta rapat kerja nasional (Rakernas) Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Istana Negara, kemarin.

Dikatakannya, menghadapi Pemilu, khususnya dalam melaksanakan kampanye, para kontestan akan berusaha menonjolkan kebaikan dirinya. Akan menunjukkan ketidak baikan lawannya, untuk memperoleh suara yang sebesar-besarnya dari para pemilih. Namun dalam berkampanye itu hendaknya tetap mengendalikan diri. Tidak mengada-ada dan memancing-mancing keadaan yang menimbulkan perpecahan. suasana saling membenci di antara sesama kita.

Terlebih-lebih apabila dalam kampanye itu masalah agama yang peka itu yang menjadi pokok permasalahan. Oleh karenanya saya berharap, Majelis Ulama Indonesia dan para alim ulama serta para pimpinan agama pada umumnya, dengan segala kearifan turut membantu menjaga suasana persatuan dan ketenteraman batin masyarakat pada umumnya.

Sehingga seluruh rakyat yang berhak memilih dapat menggunakan hak pilihnya dengan perasaan aman, tenang dan tidak diliputi oleh suasana tertekan, kata Presiden.

Tidak Benar

Sebelumya Presiden Soeharto menegaskan, adalah tidak benar apabila ada anggapan yang menyatakan pemerintah berusaha mendangkalkan keberagamaan bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius. Bahkan kita wajib untuk terus berusaha memupuk semangat keagamaan kita itu, dan masing-masing umat beragama hendaknya terus meningkatkan usaha mereka untuk menyemarakkan kehidupan beragama di tanah air kita.

Namun satu hal yang perlu kita sadari selalu katanya, bahwa bangsa kita adalah bangsa yang majemuk. Bangsa kita terdiri dan berbagai suku bangsa dan masing­masing mempunyai bahasa dan adat istiadatnya sendiri.

Di tanah air kita pun hidup dan berkembang berbagai agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, di samping kita berusaha makin memperdalam keberagamaan kita sendiri, kita pun harus selalu bersikap hormat dan menghargai keberagamaan orang lain.

Menurut Presiden Soeharto, adanya perbedaan agama di antara sesama bangsa Indonesia jangan sampai membuat mereka saling menjauhi. Tapi seharusnya saling menghormati dan bekerja sama, sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan yang ditakdirnya hidup sebagai satu bangsa.

Bahkan haruslah selalu disadari, semua agama yang hidup di Indonesia ini mengajarkan dan menganjurkan kepada para pemeluknya, agar di samping mengagungkan Tuhan juga hendaknya selalu berbuat baik kepada sesama makhluk Tuhan itu.

Para peserta rakemas MUI itu diantar oleh Menteri Agama H. Alamsyah Ratu Perwiranegara. Rakemas berlangsung sejak 7 Maret dan berakhir Rabu pagi kemarin. Setelah beramah tamah sambil menikmati makanan kecil, para ulama ini bergambar bersama Presiden Soeharto di teras depan Istana Merdeka.

Hasil Rakernas

Rakernas MUI selama tiga hari itu menghasilkan dua keputusan, yaitu mengenai program kerja MUI dan rekomendasi kepada pemerintah. Rumusan yang dihasilkan, dipandang rnencerminkan kebijaksanaan MUI dan aspirasi Majelis Ulama Daerah Dari I dan II.

Dalam SK mengenai masalah Umum dan Pemilu antara lain dikemukakan, Pemerintah Orde Baru telah berhasil meningkatkan kesejahteraan dan keamanan lahir­batin.

Umat Islam sebagai mayoritas telah mulai menikmati hasil-hasilnya. Sebagai tanda kesyukuran atas nikmat pembangunan, ulama dan umat tidak ingin kehilangan momentum pembangunan. Yaitu dengan menggairahkan ulama dan umat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kini dan masa depan.

"Kecepatan perubahan masyarakat dalam pembangunan ini, secara sadar maupun tidak telah mendesak dan menggeserkan nilai-nilai dan norma-norma agama dalam diri keluarga dan masyarakat," bunyi rumusan Komisi I Rakemas. "Karena itu selalu harus tetap dijaga dalam pelaksanaan konsepsi keseimbangan, pembangunan material dan spiritual, lahir dan batin, dunia dan akhirat dengan peningkatan iman, takwa dan amal saleh, guna mencegah timbulnya kejutan masa depan."

Mengenai masalah kepemimpinan nasional dikemukakan kembali keputusan Munas MUI ke-II tanggal 26 Mei – 1 Juni 1980, yang antara lain menyatakan "… menaruh harapan terhadap Presiden sebagai Mandataris MPR untuk melanjutkan kepemimpinan nasional telah mendapat sambutan dari seluruh rakyat Indonesia".

Sehubungan dengan itu, MUI mengimbau kepada MPR hasil Pemilu 1982, sebagai lembaga tertinggi penyalur kehendak dan aspirasi rakyat, untuk memperhatikan pernyataan-pernyataan tersebut dan mengangkat Jenderal (Purn.) Soeharto sebagai Presiden RI periode 1983-1988.

Sukseskan Pemilu

Rakernas MUI juga menyerukan kepada segenap umat Islam agar menyukseskan pelaksanaan Pemilu 4 Mei, menggunakan hak pilihnya dengan sebaik-baiknya untuk memilih wakil-wakil rakyat yang bertakwa kepada Allah SWT, dan berorientasi kepada pembangunan demi tetap tegaknya Pancasila dan UUD 45.

Sedang kepada segenap pihak diharapkan mentaati perundang-undangan yang berlaku demi, kesatuan dan persatuan nasional.

Dalam masalah ketahanan nasional, MUI menyatakan agar kerukunan antar umat beragama sebagai syarat mutlak terwujudnya stabilitas nasional dan ketahanan nasional, lebih ditingkatkan.

Untuk itu, kerukunan intern umat beragama dan kerukunan antara umat beragama dengan Pemerintah perlu dimantapkan. Dalam hubungan ini perlu ditingkatkan pelaksanaan kebijaksanaan Keputusan Menteri Agama No. 70/1978. No. 77/1978. Keputusan Bersama Menag dan Mendagri No. 1/1979 dan SE Menag No. MA/432/1981 tentang Penyelenggaraan peringatan hari-hari besar keagamaan.

Rakernas menyampaikan ucapan terimakasih kepada Presiden Soeharto, berkenaan dengan diinstruksikannya penyempurnaan buku Pendidikan Moral Pancasila PMP), agar sesuai dengan Pancasila, UUD 45, GBHN dan P-4, serta tidak bertentangan dengan agama.

Diharapkan pada tahun ajaran 1982/1983 sudah menggunakan buku PMP yang disempurnakan. (RA)

Jakarta, Kompas

Sumber : KOMPAS (11/03/1982)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 691-694.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.